Category Archives: ***Dokter Kulit-Kelamin

Gejala dan Penanganan Albinisme


Gejala dan Penanganan Albinisme

Albinisme adalah suatu kelainan yang terjadi sejak lahir yang mana penderitanya mengalami kekurangan melanin atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Kondisi ini menjadikan rambut, kulit, dan mata penderita terlihat berwarna sangat pucat, hingga cenderung putih.

Albinisme bisa diderita oleh kelompok etnis mana pun di dunia. Sebutan “albino” umumnya lebih akrab di telinga masyarakat yang merujuk kepada penderita kelainan ini. Meskipun albinisme tidak bisa disembuhkan seumur hidup, kondisi ini tidak mencegah penderitanya untuk bisa menjalani kehidupan secara normal.

  • Warna kulit dan rambut penderita albinisme berbeda-beda, tergantung dari tingkat melanin yang dihasilkan oleh tubuh. Meskipun penderita albinisme yang umum kita jumpai memiliki karakteristik kulit pucat dengan rambut pirang, ada juga sebagian yang memiliki rambut cokelat.
  • Akibat kekurangan pigmen melanin, kulit penderita albinisme mudah sekali terbakar jika terpapar sinar matahari secara langsung. Bagi penderita albinisme, paparan sinar matahari ini tidak boleh disepelekan karena bukan tidak mungkin bisa mengarah pada komplikasi yang lebih serius, yaitu kanker kulit.
  • Sedangkan pada mata, kekurangan pigmen melanin tidak hanya dapat mengubah warna iris (umumnya menjadi abu-abu atau biru pucat), tapi juga dapat menyebabkan pandangan menjadi terganggu serta sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh kondisi mata yang bisa timbul akibat albinisme adalah rabun dekat, rabun jauh, mata silindris, juling, dan nistagmus (gerakan ritmik tanpa kontrol) dari sisi ke sisi.
  • Gangguan penglihatan ini dapat berpengaruh terhadap kemampuan bayi dalam mempelajari gerakan, misalnya merangkak atau mengambil suatu objek. Sering kali anak-anak penderita albinisme terlihat kikuk akibat gangguan pada penglihatannya.

Penyebab 

  • Albinisme disebabkan oleh adanya perubahan atau mutasi pada salah satu gen yang bertugas membantu produksi melanin oleh sel-sel melanocytes yang terdapat di dalam mata dan kulit. Akibat perubahan gen ini, produksi melanin menjadi terganggu (berkurang drastis atau tidak ada sama sekali).
  • Ada dua jenis albinisme yang utama, yaitu albinisme okular dan okulokutaneus. Albinisme okular merupakan jenis yang jarang ditemukan. Kondisi ini lebih berdampak pada penglihatan penderitanya ketimbang menyebabkan perubahan warna kulit, rambut, atau pun mata. Artinya, penderita hanya mengalami gangguan penglihatan saja. Namun secara penampilan, warna kulit, rambut, dan mata penderita seperti orang-orang normal, meski ada sebagian kecil yang terlihat sedikit lebih pucat. Albinisme okular disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom-X dan hampir sebagian besar penderitanya adalah laki-laki.
  • Sedangkan albinisme okulokutaneus merupakan jenis albinisme yang paling umum. Kondisi ini berdampak pada rambut, kulit, dan mata, dan sering disebut juga sebagai albinisme komplit. 

Berdasarkan ciri-ciri fisik penderitanya, albinisme okulokutaneus terbagi menjadi empat tipe, yaitu

  1. Tipe 1. Sejak lahir, penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna putih, serta mata berwarna biru. Kendati sebagian besar tidak menunjukkan peningkatan pigmentasi hingga dewasa, namun beberapa penderita ada yang mulai memproduksi melanin saat memasuki usia kanak-kanak.
  2. Tipe 2. Saat lahir, kulit penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan terlihat berwarna putih dengan mata berwarna cokelat atau abu-abu kebiruan. Rambut mereka berwarna kuning, cokelat kemerahan, atau merah. Seiring perkembangan usia, paparan sinar matahari dapat menimbulkan bintik-bintik, bercak berwarna cokelat (lentigo), atau bahkan tahi lalat pada kulit penderita. Albinisme okulokutaneus sebagian besar ditemukan pada orang-orang Amerika asli, Afrika-Amerika, dan orang-orang Afrika wilayah sub-Sahara.
  3. Tipe 3. Penderita albinisme okulokutaneus tipe ini umumnya memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna kemerahan, serta mata berwarna cokelat. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada orang-orang Afrika selatan.
  4. Tipe 4. Kondisi ini paling banyak diidap oleh orang-orang keturunan Asia Timur dan ciri-cirinya mirip Albinisme okulokutaneus tipe 2.

Ada penyakit gangguan genetik lainnya yang juga dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala mirip albinisme, meskipun tergolong langka. Penyakit tersebut adalah sindrom Chediak-Higashi dan sindrom Hemansky Pudlak.

Selain menyebabkan gejala mirip albinisme, sindrom Chediak-Higashi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena infeksi. Sedangkan sindrom Hermansky Pudlak dapat juga menyebabkan gangguan pendarahan.

  • Albinisme bisa didiagnosis langsung oleh dokter sejak penderita lahir melalui ciri-ciri fisik mereka (warna rambut, kulit, dan mata) sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan pada kategori gejala dan jenis-jenis albinisme.
  • Untuk mengetahui adanya masalah pada penglihatan, dokter spesialis mata bisa melakukan beberapa pemeriksaan, misalnya pemeriksaan dengan menggunakan alat khusus yang disebut slit lamp, pengecekan pupil, pemeriksaan bentuk lengkungan kornea untuk mendiagnosis silinder, pemeriksaan arah penglihatan mata untuk mendiagnosis juling, dan pemeriksaan gerakan mata untuk mendiagnosis nistagmus.

  • Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan albinisme, pengobatan atau perawatan ditujukan untuk memaksimalkan penglihatan penderita serta melindungi kulit mereka.
  • Sebagian besar bayi penderita albinisme akan mengalami gangguan penglihatan parah selama beberapa bulan pascalahir. Setelah itu, penglihatan akan berkembang secara signifikan meskipun tidak akan pernah mencapai level penglihatan normal. Oleh sebab itu, penderita albinisme biasanya seumur hidup harus memakai kacamata atau lensa kontak yang diresepkan oleh dokter spesialis mata sesuai dengan kondisi terkait, misalnya yang khusus untuk rabun jauh, rabun dekat, atau silinder, serta menjalani pemeriksaan mata secara rutin tiap tahunnya.
  • Bila penderita albinisme mengalami fotofobia (penglihatan sensitif terhadap sinar matahari), disarankan pemakaian kacamata yang mampu menangkal ultraviolet atau kacamata berlensa gelap.
  • Penanganan albinisme melalui jalur operasi biasanya jarang dilakukan. Namun untuk beberapa kondisi, seperti mata juling dan nistagmus, operasi perbaikan otot-otot mata bisa direkomendasikan agar kondisi-kondisi tersebut tidak terlihat secara jelas dari luar.
  • Selain pemeriksaan mata yang harus dilakukan rutin tiap tahun, pemeriksaan kulit juga tidak kalah pentingnya bagi penderita albinisme agar diketahui seberapa besar risiko mereka terkena kanker kulit, serta memberikan saran-saran pencegahannya.
  • Penderita albinisme, sebisa mungkin jangan melakukan aktivitas di luar rumah ketika cuaca sedang panas terik. Jika terpaksa pergi ke luar, selalu gunakan krim tabir surya serta pakaian yang bisa melindungi diri dari paparan sinar matahari secara langsung.

    Iklan

    Gejala dan Penanganan Albinisme


    Gejala dan Penanganan Albinisme

    Albinisme adalah suatu kelainan yang terjadi sejak lahir yang mana penderitanya mengalami kekurangan melanin atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Kondisi ini menjadikan rambut, kulit, dan mata penderita terlihat berwarna sangat pucat, hingga cenderung putih.

    Albinisme bisa diderita oleh kelompok etnis mana pun di dunia. Sebutan “albino” umumnya lebih akrab di telinga masyarakat yang merujuk kepada penderita kelainan ini. Meskipun albinisme tidak bisa disembuhkan seumur hidup, kondisi ini tidak mencegah penderitanya untuk bisa menjalani kehidupan secara normal.

    • Warna kulit dan rambut penderita albinisme berbeda-beda, tergantung dari tingkat melanin yang dihasilkan oleh tubuh. Meskipun penderita albinisme yang umum kita jumpai memiliki karakteristik kulit pucat dengan rambut pirang, ada juga sebagian yang memiliki rambut cokelat.
    • Akibat kekurangan pigmen melanin, kulit penderita albinisme mudah sekali terbakar jika terpapar sinar matahari secara langsung. Bagi penderita albinisme, paparan sinar matahari ini tidak boleh disepelekan karena bukan tidak mungkin bisa mengarah pada komplikasi yang lebih serius, yaitu kanker kulit.
    • Sedangkan pada mata, kekurangan pigmen melanin tidak hanya dapat mengubah warna iris (umumnya menjadi abu-abu atau biru pucat), tapi juga dapat menyebabkan pandangan menjadi terganggu serta sensitif terhadap cahaya. Beberapa contoh kondisi mata yang bisa timbul akibat albinisme adalah rabun dekat, rabun jauh, mata silindris, juling, dan nistagmus (gerakan ritmik tanpa kontrol) dari sisi ke sisi.
    • Gangguan penglihatan ini dapat berpengaruh terhadap kemampuan bayi dalam mempelajari gerakan, misalnya merangkak atau mengambil suatu objek. Sering kali anak-anak penderita albinisme terlihat kikuk akibat gangguan pada penglihatannya.

    Penyebab 

    • Albinisme disebabkan oleh adanya perubahan atau mutasi pada salah satu gen yang bertugas membantu produksi melanin oleh sel-sel melanocytes yang terdapat di dalam mata dan kulit. Akibat perubahan gen ini, produksi melanin menjadi terganggu (berkurang drastis atau tidak ada sama sekali).
    • Ada dua jenis albinisme yang utama, yaitu albinisme okular dan okulokutaneus. Albinisme okular merupakan jenis yang jarang ditemukan. Kondisi ini lebih berdampak pada penglihatan penderitanya ketimbang menyebabkan perubahan warna kulit, rambut, atau pun mata. Artinya, penderita hanya mengalami gangguan penglihatan saja. Namun secara penampilan, warna kulit, rambut, dan mata penderita seperti orang-orang normal, meski ada sebagian kecil yang terlihat sedikit lebih pucat. Albinisme okular disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom-X dan hampir sebagian besar penderitanya adalah laki-laki.
    • Sedangkan albinisme okulokutaneus merupakan jenis albinisme yang paling umum. Kondisi ini berdampak pada rambut, kulit, dan mata, dan sering disebut juga sebagai albinisme komplit. 

    Berdasarkan ciri-ciri fisik penderitanya, albinisme okulokutaneus terbagi menjadi empat tipe, yaitu

    1. Tipe 1. Sejak lahir, penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna putih, serta mata berwarna biru. Kendati sebagian besar tidak menunjukkan peningkatan pigmentasi hingga dewasa, namun beberapa penderita ada yang mulai memproduksi melanin saat memasuki usia kanak-kanak.
    2. Tipe 2. Saat lahir, kulit penderita albinisme okulokutaneus tipe ini akan terlihat berwarna putih dengan mata berwarna cokelat atau abu-abu kebiruan. Rambut mereka berwarna kuning, cokelat kemerahan, atau merah. Seiring perkembangan usia, paparan sinar matahari dapat menimbulkan bintik-bintik, bercak berwarna cokelat (lentigo), atau bahkan tahi lalat pada kulit penderita. Albinisme okulokutaneus sebagian besar ditemukan pada orang-orang Amerika asli, Afrika-Amerika, dan orang-orang Afrika wilayah sub-Sahara.
    3. Tipe 3. Penderita albinisme okulokutaneus tipe ini umumnya memiliki ciri-ciri rambut dan kulit berwarna kemerahan, serta mata berwarna cokelat. Kondisi ini paling banyak ditemukan pada orang-orang Afrika selatan.
    4. Tipe 4. Kondisi ini paling banyak diidap oleh orang-orang keturunan Asia Timur dan ciri-cirinya mirip Albinisme okulokutaneus tipe 2.

    Ada penyakit gangguan genetik lainnya yang juga dapat menyebabkan munculnya gejala-gejala mirip albinisme, meskipun tergolong langka. Penyakit tersebut adalah sindrom Chediak-Higashi dan sindrom Hemansky Pudlak.

    Selain menyebabkan gejala mirip albinisme, sindrom Chediak-Higashi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terkena infeksi. Sedangkan sindrom Hermansky Pudlak dapat juga menyebabkan gangguan pendarahan.

    • Albinisme bisa didiagnosis langsung oleh dokter sejak penderita lahir melalui ciri-ciri fisik mereka (warna rambut, kulit, dan mata) sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan pada kategori gejala dan jenis-jenis albinisme.
    • Untuk mengetahui adanya masalah pada penglihatan, dokter spesialis mata bisa melakukan beberapa pemeriksaan, misalnya pemeriksaan dengan menggunakan alat khusus yang disebut slit lamp, pengecekan pupil, pemeriksaan bentuk lengkungan kornea untuk mendiagnosis silinder, pemeriksaan arah penglihatan mata untuk mendiagnosis juling, dan pemeriksaan gerakan mata untuk mendiagnosis nistagmus.

    • Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan albinisme, pengobatan atau perawatan ditujukan untuk memaksimalkan penglihatan penderita serta melindungi kulit mereka.
    • Sebagian besar bayi penderita albinisme akan mengalami gangguan penglihatan parah selama beberapa bulan pascalahir. Setelah itu, penglihatan akan berkembang secara signifikan meskipun tidak akan pernah mencapai level penglihatan normal. Oleh sebab itu, penderita albinisme biasanya seumur hidup harus memakai kacamata atau lensa kontak yang diresepkan oleh dokter spesialis mata sesuai dengan kondisi terkait, misalnya yang khusus untuk rabun jauh, rabun dekat, atau silinder, serta menjalani pemeriksaan mata secara rutin tiap tahunnya.
    • Bila penderita albinisme mengalami fotofobia (penglihatan sensitif terhadap sinar matahari), disarankan pemakaian kacamata yang mampu menangkal ultraviolet atau kacamata berlensa gelap.
    • Penanganan albinisme melalui jalur operasi biasanya jarang dilakukan. Namun untuk beberapa kondisi, seperti mata juling dan nistagmus, operasi perbaikan otot-otot mata bisa direkomendasikan agar kondisi-kondisi tersebut tidak terlihat secara jelas dari luar.
    • Selain pemeriksaan mata yang harus dilakukan rutin tiap tahun, pemeriksaan kulit juga tidak kalah pentingnya bagi penderita albinisme agar diketahui seberapa besar risiko mereka terkena kanker kulit, serta memberikan saran-saran pencegahannya.
    • Penderita albinisme, sebisa mungkin jangan melakukan aktivitas di luar rumah ketika cuaca sedang panas terik. Jika terpaksa pergi ke luar, selalu gunakan krim tabir surya serta pakaian yang bisa melindungi diri dari paparan sinar matahari secara langsung.

      Penyebab dan Penanganan Kebotakan atau Alopecia

      Penyebab dan Penanganan Kebotakan

      Botak atau istilah medisnya alopecia adalah kerontokan rambut yang umumnya bersifat permanen. Salah satu jenisnya adalah alopecia areata yang akan dibahas dalam artikel ini. Alopecia areata merupakan penyakit autoimun, yaitu kondisi di mana sistem imun menyerang tubuhnya sendiri. Karena itu, kondisi ini tidak termasuk penyakit yang menular.

      Para pakar menduga bahwa faktor keturunan memiliki pengaruh besar sebagai pemicu kondisi ini. Jika memiliki anggota keluarga yang mengalami kebotakan, Anda berisiko mengidap kondisi yang sama. Kondisi autoimun lain seperti lupus atau diabetes tipe 1 juga berpotensi meningkatkan risiko kebotakan.

      • Kebotakan yang dialami bisa terjadi pada rambut di kepala maupun bagian tubuh lain. Tingkat keparahannya juga berbeda-beda, ada pitak di satu tempat dan ada yang sekaligus di beberapa bagian.
      • Gejala awal kebotakan adalah munculnya pitak pada rambut di kepala atau bagian lain, seperti alis atau jenggot. Ukuran pitak yang terbentuk juga beragam. Indikasi ini umumnya akan disertai peningkatan pada jumlah rambut yang rontok.
      • Selain rambut, kebotakan juga terkadang berpengaruh pada kuku jari tangan dan kaki. Contohnya, muncul bintik-bintik atau garis putih pada kuku, kuku yang berubah kusam dan kasar, serta ujung kuku yang bergelombang.

      • Kondisi ini umumnya dapat didiagnosis melalui pola kerontokan yang terjadi. Pemeriksaan akar rambut dan biopsi kulit juga terkadang akan dilakukan untuk memastikan diagnosis. Jika dibutuhkan, tes darah akan dianjurkan guna mengetahui apakah pasien mengidap penyakit autoimun lain.
      • Kebotakan termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ada yang mengalaminya secara permanen, tapi ada juga rambut pengidap yang bisa tumbuh kembali.

      • Penanganan yang biasanya dijalani oleh pasien bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan rambut tersebut. 
      • Pemwbwrian Minoxidil. Sebagian besar pengidap baru merasakan manfaat obat ini setelah menggunakannya selama kira-kira empat bulan.
      • Kortikosteroid. Obat ini akan menekan sistem kekebalan tubuh dan tersedia dalam bentuk obat suntik, oles, dan minum. Sebagian besar pengidap yang menggunakan obat ini akan merasakan dampaknya dalam beberapa bulan.
      • Anthralin. Sama seperti kortikosteroid, obat ini akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Setelah dioles dan didiamkan selama maksimal satu jam, anthralin harus dicuci bersih agar kulit tidak mengalami iritasi.
      • Di samping penanganan medis, kebotakan juga bisa ditangani dengan wig (rambut palsu) yang berasal dari rambut asli maupun sintetis. Ini merupakan langkah paling praktis karena jenis serta bentuk wig yang tersedia juga bermacam-macam. Selain praktis, penggunaan wig dapat meningkatkan kepercayaan diri pengidap kebotakan yang sudah memengaruhi penampilan mereka.

      Gejala dan Penanganan Impetigo

      Gejala dan Penanganan Impetigo

      Impetigo merupakan suatu penyakit kulit yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri. Penularan penyakit ini bisa terjadi secara langsung melalui sentuhan kulit dengan kulit atau melalui barang-barang perantara, seperti handuk, baju, atau peralatan makan yang telah terkontaminasi bakteri.

      Umumnya kondisi ini lebih banyak diidap oleh anak-anak daripada orang dewasa karena lingkungan mereka lebih menunjang untuk terjadinya interaksi fisik dengan teman-teman sebaya mereka, seperti di sekolah atau taman bermain.

      • Berdasarkan gejalanya, impetigo dibagi menjadi dua, yaitu jenis bulosa dan nonbulosa. Impetigo bulosa ditandai dengan kulit yang melepuh dan berisi cairan. Sedangkan impetigo nonbulosa ditandai dengan munculnya bercak-bercak merah, seperti luka yang meninggalkan kerak berwarna kuning kecokelatan. Meski tidak melepuh, impetigo nonbulosa lebih menular dibandingkan dengan impetigo bulosa.
      • Selain gejala yang tampak pada kulit, ada juga gejala lain yang dapat menyertai kedua jenis impetigo, yaitu demam dan pembengkakan kelenjar getah bening.

      Proses perkembangan gejala impetigo

      • Gejala impetigo tidak langsung muncul setelah penderita terinfeksi, namun gejala biasanya baru terlihat setelah 4-10 hari terpapar bakteri. Umumnya jenis impetigo yang lebih sering menjangkiti adalah nonbulosa. Jika Anda atau anak Anda menderita impetigo, hindarilah menyentuh area kulit yang terinfeksi untuk mencegah penyebaran.
      • Infeksi impetigo bulosa biasanya muncul di bagian tengah tubuh antara pinggang dan leher atau lengan dan tungkai. Sedangkan infeksi impetigo nonbulosa biasa terjadi di sekitar mulut dan hidung. Tapi dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya melalui perantara jari, handuk, atau baju yang telah terpapar bakteri.

      Berikut ini adalah perkembangan gejala impetigo bulosa:

      • Kulit melepuh dan berisi cairan berukuran 1-2 sentimeter yang terasa sakit dan membuat kulit di sekitarnya gatal.
      • Kulit melepuh yang dalam waktu singkat dapat menyebar ini kemudian pecah dalam beberapa hari.
      • Pecahan kulit yang melepuh kemudian meninggalkan kerak berwarna kuning.
      • Setelah sembuh, kerak kuning tersebut hilang tanpa meninggalkan bekas sama sekali.

      Berikut ini adalah perkembangan gejala impetigo nonbulosa:

      • Munculnya bercak merah menyerupai luka yang tidak terasa sakit, namun gatal.
      • Bercak bisa menyebar dalam waktu singkat ketika disentuh atau digaruk, kemudian berganti menjadi kerak berwarna kecokelatan.
      • Setelah kerak yang ukurannya sekitar 2 sentimeter ini kering, yang tersisa adalah bekas berwarna kemerahan.
      • Bekas berwarna kemerahan ini dapat sembuh tanpa bekas dalam jangka waktu beberapa hari atau minggu.

        Penyebab 

        • Penyebab penyakit impetigo adalah bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Penularan bakteri ini dapat terjadi melalui kontak fisik langsung dengan penderita atau melalui perantara, seperti baju, handuk, serbet, dan sebagainya yang sebelumnya dipakai penderita.
        • Bakteri akan lebih mudah menginfeksi seseorang jika orang tersebut memiliki luka sebelumnya, misalnya luka akibat gigitan serangga, terjatuh, atau teriris benda tajam. Bisa juga karena luka yang ditimbulkan oleh infeksi kulit lain, seperti eksim, kudis, atau infeksi kutu.
        • Faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terpapar bakteri impetigo, di antaranya:
        • Melakukan ativitas yang penuh dengan kontak kulit, misalnya olahraga bela diri, bola basket, atau sepak bola.
        • Memiliki kekebalan tubuh yang lemah.
        • Lingkungan yang padat. Bakteri penyakit impetigo lebih mudah menular di lingkungan ramai yang mana intensitas interaksi orang-orangnya tinggi.
        • Anak-anak. Selain karena anak-anak cenderung lebih aktif dan rawan bersentuhan fisik dengan teman-teman bermainnya, sistem kekebalan tubuh anak-anak juga belum terbentuk secara sempurna untuk melawan bakteri dibandingkan dengan orang dewasa.
        • Suhu lembap dan hangat. Bakteri penyebab impetigo cenderung lebih mudah berkembang biak pada tempat yang memiliki kondisi seperti ini.
        • Membawa bakteri impetigo tanpa disadari. Bakteri Staphulococcus aureus juga dapat berkembang biak di bagian tubuh lainnya, salah satunya hidung. Ketika pembawa bakteri ini memiliki luka di kulit sekitarnya, maka peluang terinfeksi bakteri tersebut menjadi besar.
        • Berpenyakit diabetes. Gejala luka yang dimiliki penderita diabetes akan memudahkan bakteri impetigo untuk masuk dan menginfeksi.

        • Untuk menilai apakah seseorang terkena impetigo atau tidak, biasanya tidak membutuhkan tes di laboratorium karena dokter dapat mendiagnosis penyakit ini hanya dari melihat ciri-ciri kulit yang terinfeksi.
        • Tes laboratorium biasanya dilakukan jika gejala pasien terus memburuk walau telah diberikan obat, untuk mengetahui apakah bakteri tersebut telah resisten terhadap antibiotik atau tidak, atau ketika dokter mencurigai pasien terkena kondisi lain, misalnya penyakit herpes. Herpes disebabkan oleh virus, namun ciri-ciri luka yang timbul pada penyakit impetigo hampir mirip dengan herpes.

        • Pengobatan utama impetigo adalah dengan menggunakan antibiotik. Antibiotik di sini dibagi menjadi dua, yaitu antibiotik oles dan antibiotik minum. Antibiotik oles digunakan jika infeksi yang terjadi masih ringan, berada pada satu area, dan belum menyebar ke mana-mana. Sedangkan antibiotik minum digunakan jika gejala impetigo tidak bisa ditangani lagi dengan antibiotik oles, makin berat dan menyebar.
        • Sebenarnya sebagian besar kasus impetigo bisa sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu hingga tiga minggu tanpa diobati. Namun tujuan pengobatan antibiotik di sini adalah untuk mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi risiko penularan terhadap orang lain.
        • Bagi penderita yang menggunakan antibiotik sangat penting untuk memperhatikan petunjuk dari dokter dan petunjuk yang tertera pada kemasan, baik mengenai tata cara pemakaian, dosis, jangka waktu pemakaian, serta efek samping yang dapat timbul dari pemakaian antibiotik tersebut.
        • Biasanya efek samping penggunaan antibiotik oles terjadi di sekitar area kulit yang diolesi, contohnya adalah rasa gatal, kulit menjadi berwarna kemerahan, dan iritasi. Sedangkan efek samping yang dapat terjadi setelah mengonsumsi antibiotik minum adalah diare, rasa mual, dan muntah-muntah.
        • Bila Anda telah menggunakan antibiotik dalam jangka waktu seminggu, namun belum mengalami perubahan positif pada gejala, temuilah dokter kembali. Dalam hal ini biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan sampel kulit yang terinfeksi di laboratorium untuk melihat apakah Anda terinfeksi penyakit lain selain impetigo dan memberikan obat yang sesuai.
        • Selain dicurigai terjangkit penyakit kulit lain karena tubuh Anda kurang merespons antibiotik, pemeriksaan laboratorium juga perlu dilakukan jika impetigo kerap kambuh. Biasanya hal ini terjadi akibat masih adanya bakteri yang bersarang di area tertentu, seperti hidung, sehingga mudah menginfeksi daerah sekitarnya yang kebetulan mengalami luka. Jika terbukti benar, maka bakteri tersebut harus dibasmi dengan obat antiseptik khusus yang dapat digunakan pada hidung, tentunya melalui resep dokter.

        Komplikasi 

        • Jika tidak ditangani dengan benar, impetigo dapat menyebabkan komplikasi seperti berikut:
        • Penyakit glomerulonefritis. Jika bakteri masuk ke dalam sistem limpa dan aliran darah, maka kesehatan organ ginjal juga dapat terancam. Salah satu komplikasi yang menyerang ginjal ini ditandai dengan sakit kepala atau mual yang terus memburuk, pembengkakan pada tubuh, serta perubahan pada urine.
        • Penyakit ecthyma. Kondisi ini merupakan perkembangan dari gejala impetigo yang sudah sangat parah, yaitu ketika infeksi menyebar lebih jauh ke dalam lapisan kulit dan dapat meninggalkan bekas luka permanen jika tidak diobati. Kulit penderita ecthyma akan dipenuhi bisul bernanah yang terasa sangat gatal, serta kerak-kerak berwarna cokelat gelap.
        • Selulitis. Serangan bakteri impetigo di lapisan kulit dalam juga bisa merusak jaringan kulit dan menyebabkan selulitis atau infeksi kulit lapisan dalam. Jika dibiarkan, bakteri bisa menyebar dari kulit ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
        • Sama seperti jaringan parut pada ecthyma, komplikasi berupa infeksi kulit dan gangguan ginjal juga sangat jarang terjadi. Namun apabila secara kebetulan Anda mengalaminya, maka kondisi ini harus ditangani secara serius dan segera karena jika tidak dapat berakibat fatal.

        Pencegahan

        • Jika bukan penderita impetigo dan ingin menghindari penyakit kulit ini, maka caranya cukup sederhana. Hindari bersentuhan fisik langsung dengan penderita atau berbagi penggunaan barang dengan mereka, seperti handuk, baju, kasur, atau peralatan makan. Selain itu jagalah kebersihan kulit Anda, terutama jika Anda memiliki luka akibat teriris benda tajam, cakaran, atau bahkan luka akibat penyakit kulit lain, misalnya eksim.
        • Sama halnya jika penderita atau anak  merupakan penderita impetigo, langkah pencegahan harus dilakukan agar tidak menularkan penyakit ini kepada orang lain. Langkah pencegahan yang dimaksud bisa berupa tidak berbagi penggunaan barang-barang dengan orang lain. Anda juga bisa mencuci barang-barang tersebut setelah digunakan agar bakteri mati.
        • Untuk luka atau koreng akibat impetigo, penting untuk tidak tersentuh, apalagi dengan sengaja menggaruknya untuk menghindari kontaminasi bakteri melalui tangan. Hindari kegiatan seperti memasak, mengasuh anak, atau membersihkan rumah hingga infeksi benar-benar pulih.
        • Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan apabila selesai mengobati impetigo dengan antibiotik oles dan menutup luka impertigo dengan perban kasa.
        • Penularan impetigo pada anak rawan terjadi di sekolah atau taman bermain, sedangkan pada orang dewasa lebih rawan terjadi di kantor atau fasilitas umum olahraga. Karena itu hindarilah tempat-tempat tersebut selama impetigo belum sembuh atau setidaknya dua hari setelah pengobatan dimulai.

        Gejala dan Penanganan Hemangioma

        Gejala dan Penanganan Hemangioma
        Hemangioma atau kadang disebut dengan tanda stroberi adalah tanda lahir yang muncul di kulit sebagai akibat adanya pembuluh darah lebih atau tidak normal yang berbentuk benjolan elastis dan berwarna merah cerah. Penyakit ini termasuk jenis tumor pembuluh darah. Terkadang hemangioma juga bisa membuat kulit terlihat biru atau ungu jika muncul di lapisan kulit yang lebih dalam.

        Kebanyakan hemangioma muncul di kulit kepala, punggung, dada, atau wajah, namun hemangioma dapat muncul di bagian tubuh manapun. Seiring waktu tanda lahir hemangioma bisa menyusut dan pudar hingga anak berusia 10 tahun.

        • Gejala awal hemangioma biasanya berupa tanda merah rata yang muncul di tubuh dan bisa tumbuh atau berkembang dengan cepat serta membuat kulit menjadi menonjol. Namun setelah itu, hemangioma akan memasuki fase tidak aktif dan hilang secara perlahan. Hemangioma bisa sudah ada pada saat lahir, tapi bisa juga baru muncul setelah anak berusia beberapa bulan.
        • Perbedaan warna kulit akan tetap ada atau bersifat permanen, namun warna tanda lahir akan menjadi pudar atau tidak secerah saat hemangioma muncul pertama kali. Sekitar 50 persen hemangioma sudah pudar saat anak berusia 5 tahun. Temui dokter jika hemangioma terinfeksi, berdarah atau mengalami luka terbuka.

        Penyebab 

        • Sejumlah besar pembuluh darah ekstra yang tidak normal akan berkumpul dan membentuk hemangioma, namun penyebab pasti berkumpulnya pembuluh darah hingga kini masih belum diketahui. 

        Ada beberapa kemungkinan meningkatnya faktor risiko seperti di bawah ini:

        • Genetika atau faktor keturunan
        • Bayi yang terlahir prematur
        • Berjenis kelamin perempuan

        Komplikasi

        • Umumnya hemangioma tidak berbahaya dan terasa sakit, namun dalam beberapa kasus bisa menyebabkan pendarahan, infeksi atau luka terbuka dan terasa sakit.
        • Pada kasus yang jarang terjadi, hemangioma bisa menyebabkan gangguan pada pernapasan, buang air kecil dan besar, penglihatan, serta pendengaran.

        • Kebanyakan hemangioma yang muncul tidak memerlukan perawatan khusus karena tidak menyebabkan gangguan fisik dan akan memudar secara perlahan. Namun hemangioma bisa mengganggu penampilan. Hal itulah yang menjadi alasan beberapa orang tua merasa bahwa perawatan hemangioma itu perlu dilakukan.
        • Perawatan hemangioma juga dapat dilakukan jika pertumbuhannya menyebabkan munculnya masalah, seperti terganggunya penglihatan pada anak, yaitu dengan pemberian kortikosteroid. 
        • Namun perawatan hemangioma dengan kortikosteroid dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti di bawah ini:
        1. Meningkatkan kadar gula darah
        2. Katarak
        3. Gangguan pertumbuhan
        4. Tekanan darah tinggi
        • Selain itu, perawatan hemangioma juga dapat dilakukan dengan operasi laser untuk menghentikan pertumbuhan hemangioma dan mengatasi rasa sakit yang mungkin muncul. Perawatan hemangioma dengan operasi laser juga dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti berikut:
        1. Pendarahan
        2. Perubahan warna kulit
        3. Terasa sakit
        4. Timbul bekas luka
        • Konsultasikan kepada dokter jika anak Anda menderita hemangioma yang mengganggu dan memerlukan perawatan khusus.

        Gejala Kanker Kulit Squamous Cell Carcinoma dan Bassal Cell Carcinoma

        Gejala Kanker Kulit Squamous Cell Carcinoma dan Bassal Cell Carcinoma

        Squamous Cell Carcinomawp-1493338282996.

        • Gejala ini pada umumnya disebabkan oleh keratosis, leukoplakia, dan berbagai jenis kanker lainnya. Terjadinya luka atau ulcer, merupakan penyebab awal pertumbuhannya menjadi cepat. Pada umumnya squamous cell carcinoma bercampur dengan infeksi purulen, bau busuk, dan rasa sakit. Dalam hal ini, akan banyak dijumpai metastase kelejar getah bening lokal.
        • Pasien squamous cell carcinoma lebih banyak terjadi pada usia 30-50 tahun, sedangkan pasien bassal cell carcinoma cenderung terjadi pada usia di atas 50 tahun.
        • Squamous cell carcinoma dalam waktu yang relatif singkat dapat tumbuh dengan cepat, sedangkan bassal cell carcinoma pertumbuhannya sangat lambat.
        • Squamous cell carcinoma dapat dengan mudah tumbuh i bagian bibir bawah, bagian hidung, bagian lidah, vulva dan persimpangan lendir kulit.

        Bassal Cell Carcinoma

        • Pada awal terjadinya jenis kanker ini, tidak terdapat gejala apapun. Pada tahap awal pertumbuhannya akan berbentuk papula substrat patch keras, ada juga yang berbentuk menonjol verrucos, dan kemudian pada ulserasi berubah menjadi lesi ulkus, dengan bentuk acak dan bagian tepi menonjol seperti mulut gunung merapi, lalu pada bagian bawah tidak merata dan pertumbuhannya sangat lambat.
        • Basal cell carcinoma dapat dengan mudah tumbuh di bagian rongga mata, pada bagian dalam canthus, bagian hidung, pipi, dahi, dan semua area bagian kepala juga leher.

        Tanda Dan Gejala Kanker Kulit

        wp-1493338282996.Kanker kulit adalah pertumbuhan sel-sel pada kulit pada taraf abnormal. Penyebab kanker kulit berbeda-beda dan tingkat keganasan kanker pun berbeda-beda. Kanker kulit paling umum terjadi pada lapisan sel skuamosa, basal dan melanosit. Kanker kulit biasanya tumbuh di epidermis (lapisan paling luar kulit), sehingga tumor (benjolan) dapat terlihat dari luar, sehingga kanker kulit merupakan jenis kanker yang paling mudah ditemukan gejalanya pada stadium awal. kanker kulit juga merupakan kanker yang paling sedikit risiko kematiannya pada penderita, ini disebabkan karena kulit jarang dapat mencapai organ-organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal dan batang otak pada manusia.

        Tanda dan gejala

        • Muncul bercak pada kulit Mungkin tanpa Anda sadari, tiba-tiba ketika Anda mengamati permukaan kulit, ternyata ada bercak seperti lingkar hitam atau coklat, dan seiring berjalannya waktu bercak tersebut semakin melebar. Jika Anda mengalami hal tersebut, terutama terlebih jika Anda sering terkena sinar matahari secara langsung, Anda perlu segera memeriksakan ke dokter. Untuk mewaspadai munculnya sel kanker kulit. Pencegahan di awal waktu akan semakin meningkatkan peluang kesembuhan pasien.wp-1493165984434.
        • Muncul benjolan pada kulit Munculnya benjolan pada tubuh merupakan ciri hampir semua penyakit tumor dan kanker. Sehingga, tidak ada salahnya untuk mewaspadai apabila Anda menemukan benjolan pada tubuh. Untuk memastikan arti dari benjolan yang muncul, sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter. Biasanya, dokter akan menyarankan untuk melakukan medical check up untuk memastikan apa yang dialami oleh tubuh. Bentuk benjolan yang kurang beraturan atau asimetris. Sehingga antara bentuk bagian kiri dan kanannya terlihat berbeda. Adanya batas pinggiran benjolan yang terlihat tidak rata dan cenderung memiliki tekstur yang kasar. Benjolan memiliki warna yang tidak rata atau bergradasi, misalnya warna gelap di tengah dan warna cokelat muda di bagian pinggir hingga batas tepinya. Besar diameter benjolan yang tidak wajar, bandingkan dengan diameter sebuah pensil. Bentuknya yang berubah-ubah jika diamati secara teliti. Untuk membuktikan hal ini bisa mengambil foto benjolan atau tompel pada hari pertama Anda mengetahuinya. Kemudian lakukan pengambilan foto pada minggu berikutnya, amati apakah ada perubahan bentuk, warna, atau bahkan ukuran.
        • Rasa gatal disertai nyeri di permukaan kulit Rasa gatal disertai nyeri merupakan salah satu tanda bahwa sel kanker mulai menyeran sel kulit yang sehat. Rasa gatal dan nyeri tersebut dapat Anda kenali melalui bentuk luka yang muncul. Permukaan kulit terasa kasar, dan luka lecet pada area gatal terlihat tidak umum. Seperti berlubang dan cenderung mengeluarkan darah terus menerus.
        • Adanya perubahan warna kulit pada area tertentu Kanker kulit ada berbagai macam jenis. Namun yang paling sering terjadi adalah kanker kulit melanoma. Adanya perubahan warna kulit disebabkan oleh sel kanker yang menyerang pigmen pada kulit. Selain itu, paparan sinar UV secara langsung juga dapat mempengaruhi perubahan warna pada kulit, sehingga jika Anda menjumpai ciri perubahan warna kulit menyerupai bercak pada area tertentu, terasa gatal, dan nyeri, serta berwarna coklat kemerahan, sebaiknya Anda memeriksakan ke dokter. Jangan hanya menganggap bahwa perubahan warna tersebut akibat alergi pada hal tertentu. Karena tidak menutup kemungkinan tanda tersebut merupakan gejala awal kanker kulit terlebih jika Anda memiliki riwayat kanker pada keturunan Anda.
        • Permukaan kulit seperti bersisik Selain muncul bercak, permukaan kulit tempat area sel kanker berkembang akan cenderung kering dan bersisik. Hal ini dikarenakan banyak sel kulit yang rusak sehingga tidak dapat melakukan regenerasi.
        • Tahi lalat yang bertambah ukuran Hampir setiap orang memiliki tahi lalat di tubuh mereka. Meskipun seringkali tahi lalat dianggap sebagai tumor jinak, namun Anda tetap perlu mewaspadai jika tahi lalat tersebut mengalami pertambahan ukuran seiring berjalannya waktu. Bisa saja tahi lalat tersebut merupakan gejala awal kanker kulit. Oleh karena itu, segera konsultasikan dengan dokter apakah tahi lalat tersebut berbahaya atau tidak.
        • Bibir terasa kering Bibir merupakan area paling sensitif. Selain itu, bibir juga merupakan area yang paling memungkinkan terkena paparan sinar UV secara langsung. Gejala kanker kulit dapat berupa bibir yang terasa kering dalam jangka waktu yang cukup lama. Bibir kering tidak hanya diakibatkan kurangnya vitamin C saja namun juga sebagai sinyal bahwa tubuh kita sedang mengalami masalah. Oleh karena itu, untuk memastikan Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

        Pencegahan Kanker Kulit

        • Hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung zat-zat kimia termasuk gula pasir dan air mineral.
        • Hindari segala bedak dan handbody lotion yang terbuat dari zat kimia.
        • Hindari terkena sinar matahari secara langsung di atas jam 9 pagi.

        Terapi Herbal Untuk pencegahan

        • Minumlah suplemen yang mampu membersihkan kotoran yang melekat di dinding usus (colon cleanshing). Dalam hal ini yang terbaik, terenak dan termurah adalah kolak waluh (labu parang) tanpa santan. Yang perlu diingat dalam mengonsumsinya harus ditambah air jeruk nipis. minumlah 2 gelas sehari.
        • Buatlah suplemen yang banyak mengandung zat-zat anti oksidan, seperti juss dari buah tomat sayur, buah anggur, buah wortel, dan taoge kacang hijau. Untuk pembuatan juss, sebaiknya di blender selama 20 menit, jangan berhenti. Tujuannya adalah agar ada injeksi oksigen ke dalam juss. Karena itu harus langsung diminum habis, jangan dibiarkan lam karena oksigennya bisa menguap lagi. Minumlah 2 gelas sehari.
        • Buatkanlah rebusan herbal yang banyak mengandung zat-zat anti oksidan. Herbal ini antara lain daun benalu mangga, daun benalu teh, daun sukun, daun tapak dara, daun mahkota dewa, temu putih , dll. Minumlah 2 gelas sehari.
        • Buatkanlah rebusan herbal yang lebih keras daripada di atas, Bisa menggunakan mahkota dewa, pace, jintan hitam, dll. minumlah 2 gelas sehari.
        • Buatkanlah bedak dari keladi tikus, ketela pohon tahunan yang beracun. Balurkan bedak ini ke kankernya, 4 – 5 kali sehari.
        « Older Entries