Category Archives: ***Dokter Jantung

Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

Tetralogi Fallot

Tetralogi Fallot adalah gabungan dari:

  • Defek septum ventrikel (lubang diantara ventrikel kiri dan kanan)
  • Stenosis katup pulmoner (penyempitan pada katup pulmonalis)
  • Transposisi aorta 
  • Hipertrofi ventrikel kanan (penebalan otot ventrikel kanan).

  • Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Biasanya melibatkan berbagai faktor.
  • Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
    • Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya
    • Gizi yang buruk selama hamil
    • Ibu yang alkoholik
    • Usia ibu diatas 40 tahun
    • Ibu menderita diabetes.
  • Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down.
  • Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas.
  • Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis.
  • Tetralogi Fallot terjadi pada sekitar 50 dari 100.000 bayi dan merupakan kelainan jantung bawaan nomor 2 yang paling sering terjadi.

Gejalanya bisa berupa:

  • Bayi mengalami kesulitan untuk menyusu
  • Berat badan bayi tidak bertambah
  • Pertumbuhan anak berlangsung lambat
  • Perkembangan anak yang buruk
  • Sianosis
  • Jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang karena kulit atau tulang di sekitar kuku jari tangan membesar)
  • Sesak nafas jika melakukan aktivitas
  • Setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok.

Serangan sianosis biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan), dimana tiba-tiba sianosis memburuk sehingga anak menjadi sangat biru, mengalami sesak nafas dan bisa pingsan.

Pada pemeriksaan dengan stetoskop biasanya akan terdengar murmur (bunyi jantung yang abnormal).

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

  • EKG
  • Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah merah dan hematokrit
  • Rontgen dada menunjukkan ukuran hati yang kecil
  • Kateterisasi jantung
  • Ekokardiogram.

  • Pada serangan sianosis, diberikan oksigen dan morfin. Untuk mencegah serangan lainnya, untuk sementara waktu bisa diberikan Propanolol.
  • Pembedahan untuk memperbaiki kelainan jantung ini biasanya dilakukan ketika anak berumur 3-5 tahun (usia pra-sekolah).
  • Pada kelainan yang lebih berat, pembedahan bisa dilakukan lebih awal.

Pembedahan yang dilakukan terdiri dari 2 tahap:

  1. Pembedahan sementara Pembuatan shunt bisa terlebih dahulu dilakukan pada bayi yang kecil dan sangat biru, agar aliran darah ke paru-paru cukup. Shunt dibuat diantara aorta dan arteri pulmonalis. Setelah bayi tumbuh cukup besar, dilakukan pembedahan perbaikan untuk menutup kembali shunt tersebut.
  2. Pembedahan perbaikan terdiri dari: – penutupan VSD – pembukaan jalur aliran ventrikel kanan dengan cara membuang sebagian otot yang berada di bawah katup pulmonalis – perbaikan atau pengangkatan katup pulmonalis – pelebaran arteri pulmonalis perifer yang menuju ke paru-paru kiri dan kanan. Kadang diantara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dipasang sebuah selang (perbaikan Rastelli).

Jika tidak dilakukan pembedahan, penderita biasanya akan meninggal pada usia 20 tahun.

Orang tua dari anak-anak yang menderita kelainan jantung bawaan bisa diajari tentang cara-cara menghadapi gejala yang timbul:

  • Menyusui atau menyuapi anak secara perlahan
  • Memberikan porsi makan yang lebih kecil tetapi lebih sering
  • Mengurangi kecemasan anak dengan tetap bersikap tenang
  • Menghentikan tangis anak dengan cara memenuhi kebutuhannya
  • Membaringkan anak dalam posisi miring dan kaki ditekuk ke dada selama serangan sianosis.

    Iklan

    Penanganan Terkini Hipertensi

    Penanganan Terkini Hipertensi

    Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah (TD) sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan / atau sama atau lebih dari 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang minum obat antihipertensi. 

    Anamnesis

    • Durasi hipertensi
    • Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingya bila ada
    • Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
    • Kebiasaan makan dan psikososial
    • Faktor resiko lainnya: kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,diabetes, inaktivitas fisik
    • Bukti hipertensi sekunder: riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan, kelemahan otot (palpitasi,keringat berlebihan,tremor), tidur tidak teratur,mengorok, somnolen di siang hari, gejala hipo atau hipertiroidisme, riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
    • Bukti kerusakan organ target: riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual

    Pemeriksaan Fisik

    • Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda – tanda vital
    • Pengukuran Tekanan Darah metode auskultasi :
    • Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid
    • Palpasi pulsasi arteri femoralis, pedis
    • Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
    • Funduskopi
    • Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis

    Pemeriksaan Penunjang

    • Urinalisis, tes fungsi ginjal, ekskresi albumin, serum BUN, kreatinin, gula darah, elektrolit, profil lipid,foto toraks, EKG. sesuai penyakit penyerta: asam urat,USG ginjal, ekokardiografi. 

    Diagnosis Banding

    • Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll 

    • Modifikasi gaya hidup
    • Pemberian B-Bloker pada pasien unstable angina / non-ST elevated myocardial infark(NSTEMI) atau STEMI harus memperhatikan kondisi hemodinamik pasien. B-Bloker hanya diberikan pada kondisi hemodinamik stabil.
    • Pemberian angiotensin convertin enzyme inhibitor (ACE-I) atau angiotensin receptor bloker (ARB) pada pasien NSTEMI atau STEMI apabila hipertensi persisten, terdapat infark miokard anterior, disfungsi ventrikel kiri, gagal jantung, atau pasien menderita diabetes dan penyakit ginjal kronik
    • Pemberian antagonis aldosteron pada pasien disfungsi ventrikel kiri bila terjadi gagal jantung berat (misal gagal jantung NYHA kelas III-IV atau fraksi ejeksi ventrikel kiri < 40% dan klinis gagal jantung Kondisi khusus lain: Obesitas dan sindrom metabolik terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi 150 mg/dl, kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki – laki atau < 50 mg/dl pada perempuan.Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan ACE-I. Pilihan lain ARB,CCB. Hipertropi ventrikel kiri Tatalaksana agresif termasuk penurunan berat badan dan restriksi garam Pilihan terapi: dengan semua kelas antihipertensi Kontra indikasi: vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil Penyakit arteri perifer: semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin. Lanjut usia (>65 tahun)
    • Identifikasi etiologi lain yang bersifat irreversibel
    • Evaluasi kerusakan organ target
    • Evaluasi penyakit komorbid lain yang mempengaruhi prognosis
    • Identifikasi hambatan dalam pengobatan

    Terapi farmakologis:

    • diuretik thiazid, CCB

    Kehamilan

    • Pilihan terapi: metildopa, Beta Bloker, dan vasodilator
    • Kontraindikasi: ACE-I dan ARB

    KOMPLIKASI

    • Hipertrofi ventrikel kiri, protein uria dan gangguan fungsi ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung. 

    PROGNOSIS

    • Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi yang sesuai. Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target. Oleh karena itu, obat antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. 

    REFERENSI

    • Kotchen T.Hypertensive vascular disease. In: Longo DL.Fauci AS,Kasper DL,Hauser SL,Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine.18th Edition.New York:McGraw-Hill:2012.

    Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC), Diagnosis dan Penanganannya

    Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC), Diagnosis dan Penanganannya

    Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC) merupakan suatu aritmia yang terlihat jelas pada elektrokardiogram dengan lebar (umumnya > 120 milidetik) dan morfologi QRS unik, yang terjadi akibat aktivasi atrium secara independen (gelombang P). PVC dapat terjadi akibat peningkatan automatisitas, aktivitas yang dipicu, atau re-entry. 

    • Umumnya asimptomatik
    • Palpitasi, rasa tidak nyaman pada leher atau dada, sinkop
    • Pasien akan merasa jantungnya seolah-olah berhenti berdenyut setelah suatu PVC
    • Pada pasien dengan penyakit jantung dan PVC frekuen jangka panjang, dapat menyebabkan angina, hipotensi, atau gagal jantung
    • Riwayat penyakit komorbid seperti penyakit jantung struktural (iskemia atau penyakit katup jantung)
    • Perlu juga ditanyakan riwayat konsumsi obat-obatan digitalis, kebiasaan mengonsumsi tembakau, kafein, alkohol berlebihan
    • Pemeriksaan Fisik
    • Tekanan darah ( dapat ditemukan hipotensi), nadi ( dapat ditemukan denyut ektopik yang diikuti dengan long pause), dapat diikuti dengan menurunnya intensitas bunyi jantung, pulse oxymetry (hipoksia dapat memicu PVC)
    • Gelombang A atau giant A pada pulsasi vena jugularis, splitting bunyi jantung II, dapat juga terdapat bunyi jantung S3 dan ronki (pada gagal jantung kongestif), hipertensi dan S4 pada PVC dengan hipertensi lama
    • Temuan neurologis: agitasi dan temuan aktivasi simpatis (dilatasi pupil, kulit kering dan hangat, tremor, takikardia, hipertensi) sugestif katekolamin sebagai penyebab PVC 

    Pemeriksaan Penunjang

    • Laboratorium (sesuai indikasi): elektrolit (terutama kalium dan magnesium), kadar obat digitalis dalam serum darah, skrining obat-obatan
    • EKG 12 sadapan selama 2 menit dapat membantu untuk menentukan frekuensi ektopi dan merekam PVC infrekuen. Pada EKG dapat ditemukan hipertrofi ventrikel kiri, iskemia jantung aktif (ST depresi atau elevasi, T-inverted), infark miokard sebelumnya (gelombang Q atau hilangnya gelombang R, bundle branch block), gangguan elektrolit (QT memanjang, gelombang T hiperakut), efek obat (QRS melebar, QT memanjang), gambaran morfologi PVC. Derajat keparahan PVC dapat diukur dengan skoring Lown yaitu nilai 0 = tidak ada PVC, 1 = sesekali ( < 30/jam), 2 = frekuen (>30/jam), 3 = multiform, 4 = repetitif (A= couplets, B =Salvos atau 2:3), 5 = pola R-on-T. Semakin tinggi nilai Lown, maka PVC makin serius.
    • Holter monitoring selama 24 jam untuk menentukan kuantitas dan karakteristik PVC.
    • Ekokardiografi berguna untuk evaluasi fraksi ejeksi, yang berguna untuk menentukan prognosis dan juga mengidentifikasi penyakit katup atau hipertrofi ventrikel.

    Pemeriksaan Penunjang

    • Diagnosis BandingSindrom koroner akut, infark miokard, miokarditis, fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel 

    Secara umum tidak perlu diterapi, terutama pada pasien yang tidak memiliki penyakit jantung struktural.

    • Indikasi terapi primer adalah meredakan gejala.
    • Terapi lini pertama adalah Beta-blocker: atenolol 25-100 mg/hari atau metoprolol 50-200 mg/hari. Apabila tidak efektif, amiodaron dapat dipertimbangkan.
    • Obat antiaritmia kelas I atau kelas III dapat dipertimbangkan, namun potensi untuk proaritmia dan toksisitas organ harus menjadi pertimbangan. Alternatif pada pasien simptomatis, terutama yang tidak memiliki penyakit jantung struktural, adalah ablasi kateter radiofrekuensi (RFA).
    • PVC yang mengikuti denyut ventrikel lambat dapat dihilangkan dengan meningkatkan laju denyut jantung dasar dengan atropine atau isoproterenol atau dengan pacu jantung, sementara menurunkan HR pada pasien dengan takikardia sinus dapat menghilangkan PVC.
    • PVC frekuen, meskipun dalam seting infark miokard akut, tidak perlu diterapi, kecuali memberi kontribusi hemodinamik kompromais. Pada pasien rawat inap dapat diberi lidokain. Apabila dosis maksimum lidokain maksimal tidak berhasil, procainamide IV dapat diberikan. Propranolol dianjurkan bila obat lain tidak berhasil.
    • Koreksi gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan asam basa, dan hipoksia

    KOMPLIKASI

    • Takikardia ventrikel, fibrilasi ventrikel, kematian mendadak 

    PROGNOSIS

    • Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapi 

    Referensi

    • Lerman BB. Ventricular Arrythmias.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23’d Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
    • Olgin J, Zipes DP. Ventricular Rhythm Disturbances. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL Zipes DP. Braunwald’s Heart Disease. 9 1h Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2012.

      Bradikardi, Diagnosis dan Penanganannya


      Bradikardia adalah laju denyut jantung kurang dari 60 kali/menit. Pada orang yang sering berolahraga, laju denyut jantung 50 kali/menit saat terjaga dapat merupakan hal yang normal. Sinus bradikardia yang penting secara klinis umumnya didefinisikan sebagai laju denyut jantung kurang dari 45 kali/menit yang menetap saat terjaga. 

      Disfungsi nodus sinus/ sinus node dysfunction (SND), atau lebih dikenal dengan sick sinus syndrome (SSS), dapat juga merupakan manifestasi dari kegagalan akselerasi laju sinus (kurangnya respons kronotropik) dalam situasi seperti olahraga, gagal jantung, demam, obat simpatomimetik, atau parasimpatolitik. Sangat penting untuk menentukan bahwa SND termasuk sinus bradikardia pada seorang individu bukanlah akibat sekunder dari obat kardioaktif seperti beta blockers atau calcium-channel blockers non dihydropyridine. 

      • Gejala bradikardia: pusing, lelah, exertional dyspnea, perburukan gagal jantung, lightheadedness (presinkop), atau pingsan/sinkop
      • Sindrom nervus vagus: episode vasovagal, muntah, bedah abdomen, prosedur invasif saluran cerna atas dan bawah
      • Penyakit komorbid: penyakit jantung koroner, iskemik atau infark miokard, tumor intrakranial, tumor servikal dan mediastinum, peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia berat, myxedema, hipotermia, perubahan fibrodegeneratif, fase konvalesens dari infeksi tertentu, depresi mental, sepsis gram negatif
      • Riwayat konsumsi obat digitalis, antiaritmia
      • Riwayat penyakit infeksi (mis. Penyakit Chagas, meningitis)
      • Pasca bedah jantung dengan trauma pada sinus node
      • Riwayat operasi mata, arteriografi koroner

      Pemeriksaan Fisik

      • Tekanan darah, nadi: dapat ditemukan bradikardia, takikardia (pada bradycardia- tachycardia syndrome).
      • Stimulasi sinus karotis: masase karotis dilakukan saat pasien supine dan nyaman, dengan kepala menengok ke arah yang berlawanan dengan sisi yang distimulasi. Auskultasi bruit karotis perlahan-lahan sebelum dilakukan masase karena dapat terjadi emboli akibat masase. Palpasi sinus karotis pada bifurkasio arteri dengan 2 jari, pada sudut rahang sampai pulsasi yang bagus teraba. 
      • Dengan tekanan minimal dapat menginduksi reaksi hipersensitivitas pada individu yang terkena. Apabila tidak ada efek inisial, gerakan jari memutar atau sisi-demi-sisi (side-by-side) di atas bifurkasio arteri dilakukan seiama 5 detik. Respons negatif adalah kurangnya efek pada EKG setelah penekanan adekuat selama 5 detik yang menyebabkan rasa tidak nyaman yang ringan (tidak ada penurunan laju denyut nadi ~20%). Karena respons masase dapat berbeda pada kedua sisi, maneuver ini dapat dilakukan pada sisi kontralateral, akan tetapi kedua sisi tidak boleh dirangsang secara bersamaan.
      • Temuan fisik lain sugestif penyakit struktural jantung.
      • Pemeriksaan Penunjang
      • EKG 12 sadapan.
      • Ambulatory monitoring, Holter monitors (lebih lengkap lihat pada bab prosedur Holter Monitoring), event monitors, implantable loop recorders
      • Tilt table testing: untuk menyingkirkan diagnosis sinkop neurokardiogenik
      • Sulphate Atropine test
      • Studi elektrofisiologis
      • Ekokardiografi
      • Exercise testing

      Diagnosis Banding

      • Sinus bradikardia fungsional, peningkatan rangsang vagal, kondisi gastrointestinal dan neurologis, sinkop neurokardiogenik, hipersensitivitas sinus karotis (carotid sinus syndrome/ collar syndrome, inflamasi (perikarditis, miokarditis, penyakit jantung reumatik, penyakit Lyme), iatrogenik, pasca operasi, penyakit jantung kongenital, penyakit infeksi. 

      • Apabila tanpa gejala (asimptomatik) –> terapi tidak diperlukan
      • Manajemen SND dan blok AV derajat II dan III :atropine 1 mg IV a tau isoproterenol 1-2 ug/menit infusan, pacu jantung sementara mungkin dibutuhkan
      • Sinus bradikardia: apabila curah jantung tidak cukup atau bila aritmia berkaitan dengan laju denyut jantung pelan, berikan atropine 0,5 mg IV sebagai dosis inisial, dapat diulang bila perlu.
      • Pada episode sinus bradikardia simtomatik yang lebih dari sesaat atau rekuren (mis. saat infark miokard), pacu jantung sementara melalui elektroda transvena lebih disukai daripada terapi obat yang lama atau berulang. Pada sinus bradikardia kronis, pacu jantung permanen mungkin dibutuhkan bila ada gejala
      • Sinus aritmia: terapi biasanya tidak diperlukan. Meningkatkan laju denyut jantung dengan olahraga atau obat-obatan umumnya menghilangkan sinus aritmia. Pada pasien simtomatik, palpitasi dapat reda dengan sedatif/penenang, sedangkan atropin, efedrin, atau isoproterenol untuk terapi sinus bradikardia 2
      • BlokAV: pacu jantung buatan sementara atau permanen. Eksklusi penyebab blok AV reversibel berdasarkan kondisi hemodinamik pasien. Terapi farmakologis adjuvan seperti atropin atau isoproterenol mungkin dibutuhkan bila blok berada di AV node. Pacu jantung transkutaneus sangat efektifpada serangan akut, namun durasi pemakaian sangat tergantung dari kenyamanan pasien dan kegagalan menangkap ventrikel pada penggunaan jangka panjang.
      • Bila pasien memerlukan dukungan pacu jantung lebih dari beberapa menit –> gunakan pacu jantung transvena. Sadapan pacu jantung sementara dapat diletakkan pada sistem vena jugularis atau subklavia dan diteruskan ke ventrikel kanan. Pada kebanyakan kasus blokAV node distal tanpa adanya resolusi –> pacu jantung permanen.

      KOMPUKASI

      • Pacemaker syndrome, takikardia terkait pacu jantung. 

      PROGNOSIS

      • Beberapa penelitian mengevaluasi morbiditas dan mortalitas pasien dengan SSS yang menggunakan berbagai mode pacu jantung. Bila dibandingkan dengan pacu ventrikel, pacu atrium berkaitan dengan insidens komplikasi tromboemboli, atrial fibrilasi, gagal jantung, mortalitas kardiovaskular, dan morbiditas totallebih rendah. Pasien dengan SSS dengan gejala sinus bradikardia saja, memiliki prognosis yang lebih baik 

      REFERENSI

      • Akhtar M. Cardiac Arrythmias with Supraventricular Origin.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
      • Olgin J. Specific Arrhythmias: Diagnosis and Treatment. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP. Braunwald’s Heart Disease. 9th Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2012.
      • Spragg D. The Bradyarrythmias. In :Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th Edition. New York, McGraw-Hill. 2012.

        Takikardi, Gejala dan Penanganannya

        Sinus takikardia didefinisikan sebagai peningkatan laju denyut sinus > 100x/menit sebagai respons stimulus fisiologis sesuai (mis. olahraga) atau stimulus berlebihan ( mis. hipertiroidisme ). Kegagalan mekanisme yang mengatur laju denyut sinus dapat menyebabkan sinus takikardia yang tidak sesuai. Penyebabnya antara lain pireksia, hipovolemia, atau anemia, yang dapat berasal dari infeksi. Obat-obatan yang dapat menginduksi sinus takikardia termasuk stimulan (kafein, alkohol, nikotin); komponen yang diresepkan (salbutamol, aminofilin, atropine, katekolamin); terapi antikanker (doxorubicin/adriamycin, daunorubicin); dan beberapa obat rekreasional/ilisit (amfetamin, kokain, kanabis, “ecstasy’ 

        • Istilah takiaritmia umumnya merujuk pada bentuk takikardia berkelanjutan (sustained) atau tidak (nonsustained), yang berasal dari fokus miokardial atau sirkuit reentrant. Takiaritmia supraventrikular dapat terjadi tunggal atau sebagai kompleks prematur berturut-turut atau dalam bentuk takikardia sustained atau nonsustained. Definisi nonsustained tachycardia adalah suatu aritmia dengan laju denyut jantung > 100x/menit yang berlangsung ≥ 3x namun bertahan 100x/menit) saat siang hari dengan peningkatan laju berlebihan dalam merespons aktivitas dan normalisasi laju denyut jantung pada malam hari yang dikonfirmasi dengan monitor Holter selama 24 jam.
        • Takikardia dan gejalanya bersifat non-paroksismal.
        • Morfologi gelombang P dan aktivasi endokardium identik dengan ritme sinus.
        • Eksklusi penyebab sekunder sistemik (mis. hipertiroidisme, feokromositoma, physical deconditioning)

        Diagnosis Banding

        • Hipertiroidisme, tirotoksikosis, feokromositoma, sindrom Brugada, sindrom Wolff- Parkinson-White, sindrom long QT. 

        • Tatalaksana primer takikardia sinus yaitu identifikasi penyebab serta mengeliminasi atau mengobatinya. Beta blocker dapat menjadi sangat berguna dan efektif pada takikardia sinus simptomatis fisiologis yang dipicu oleh stres emosional, dan gangguan lain terkait ansietas, manfaat prognostik pasca infark miokard simptomatis dan manfaat prognostik pada kondisi lain dengan etiologi sinus takikardia ireversibel seperti gagal jantung kongestif dan tirotoksikosis simptomatis yang dikombinasikan dengan carbimazole atau propylthiouracyl(PTU). Nondihydropyridine calcium-channel blockers, seperti dilitiazem atau verapamil, dapat bermanfaat pada pasien tirotoksikosis simptomatis apabila beta blocker dikontraindikasikan. 
        • Pencegahan tromboemboli pada AF
        • Terapi antitrombotik diberikan pada semua pasien dengan AF, kecuali pasien dengan lone AF atau memiliki kontraindikasi
        • Pemilihan agen antitrombotik sebaiknya berdasarkan risiko absolut stroke dan perdarahan, dan risiko relatif dan manfaat pemberian bagi pasien
        • Pada pasien tanpa katup jantung mekanis dengan risiko tinggi stroke, terapi antikoagulan kronis dengan antagonis vitamin K dianjurkan pada dosis penyesuaian untuk mencapai target INR 2,0-3,0 kecuali dikontraindikasikan
        • Pada pasien dengan katup jantung mekanis, target intensitas antikoagulan sebaiknya berdasarkan tipe prostetik dengan pemeliharaan INR sedikitnya 2,5
        • INR sebaiknya diperiksa sedikitnya setiap minggu selama inisiasi terapi dan bulanan setelah antikoagulasi stabil
        • Aspirin 81-325 mg/hari dianjurkan sebagai alternatif antagonis vitamin K pada pasien risiko rendah atau pada pasien dengan kontraindikasi oral antikoagulasi

        KOMPLIKASI

        • Tromboemboli, gagal jantung, kematian mendadak. 

        PROGNOSIS

        • Tergantung penyebab, berat gejala dan respons terapi. 

        REFERENSI

        • Marchlinski F. The Tachyarrythmias. In : Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th Edition. New York, McGraw-Hill. 2012.
        • Akhtar M. Cardiac Arrythmias with Supraventricular Origin. In: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
        • Adelmann GA. Rhythm and Conduction Disorders. In: Cardiology Essentials in Clinical Practice. London. Springer-Verlag. 2011
        • Olgin J. Approach to the Patient With Suspected Arrythmia.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.

          Penanganan Terkini Hipertensi

          Penanganan Terkini Hipertensi

          Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih

          Penatalaksanaan hipertensi dibedakan menjadi dua. Pada hipertensi ringan tanpa faktor risiko atau kerusakan organ, penatalaksanaannya adalah dengan perubahan gaya hidup dan memantau pasien selama 6-12 bulan. Pada hipertensi berat yang disertai dengan faktor risiko dan kerusakan organ, penatalaksanaannya menggunakan terapi farmakologi (obat).

          Perubahan gaya hidupSunting

          • Penanganan tipe pertama untuk hipertensi identik dengan menganjurkan perubahan gaya hidup yang bersifat pencegahan dan meliputi perubahan diet[, olah raga, dan penurunan berat badan. Semua perubahan ini telah terbukti menurunkan tekanan darah secara bermakna pada orang dengan hipertensi. Jika hipertensi cukup tinggi dan memerlukan pemberian obat segera, perubahan gaya hidup tetap disarankan. Berbagai program diiklankan dapat mengurangi hipertensi dan dirancang untuk mengurangi tekanan psikologis misalnya biofeedback, relaksasi, atau meditasi. Namun, secara umum belum ada penelitian yang secara ilmiah mendukung efektivitas program ini, karena penelitian yang ada masih berkualitas rendah.
          • Perubahan asupan diet seperti diet rendah natrium sangat bermanfaat. Diet rendah natrium jangka panjang (lebih dari 4 minggu) pada Kaukasia efektif menurunkan tekanan darah, baik pada penderita hipertensi maupun pada orang dengan tekanan darah normal.
          • Selain itu, diet DASH, suatu diet kaya kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, unggas, buah, dan sayuran, yang dipromosikan oleh National Heart, Lung, and Blood Institute, menurunkan tekanan darah. Keistimewaan utama dari program ini adalah membatasi asupan natrium, namun demikian diet ini kaya kalium, magnesium, kalsium, dan protein.

          PengobatanSunting

          • Saat ini tersedia beberapa golongan obat yang secara keseluruhan disebut obat antihipertensi, untuk pengobatan hipertensi. Risiko kardiovaskuler (termasuk risiko infark miokard dan stroke) dan hasil pemeriksaan tekanan darah menjadi pertimbangan ketika meresepkan obat. 
          • Jika pengobatan dimulai, Seventh Joint National Committee on High Blood Pressure (JNC-7) dari National Heart, Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons pasien terhadap pengobatan serta menilai apakah terjadi efek samping akibat obat yang digunakan. Penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko stroke sebesar 34% dan risiko penyakit jantung iskemik hingga 21%. Penurunan tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan demensia, gagal jantung, dan mortalitas yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Pengobatan harus ditujukan untuk mengurangi tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg untuk sebagian besar orang, dan lebih rendah lagi untuk mereka yang memiliki diabetes atau penyakit ginjal. Sejumlah praktisi medis menyarankan agar tekanan darah dijaga pada level di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah yang diharapkan tidak tercapai, maka diperlukan pengobatan lebih lanjut.
          • Pedoman mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan pengobatan untuk berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda-beda di berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat mengenai pengobatan terbaik untuk hipertensi.  Pedoman Kolaborasi Cochrane, World Health Organization, dan Amerika Serikat mendukung diuretik golongan tiazid dosis rendah sebagai terapi pilihan untuk lini pertama. 
          • Pedoman di Inggris menekankan penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker/CCB) untuk orang yang berusia di atas 55 tahun atau yang berdarah Afrika atau Karibia. Pedoman ini menyarankan penghambat enzim konversi angiotensin (angiotensin-converting enzyme inhibitor/ACEI) yang merupakan obat pilihan yang dianjurkan untuk pengobatan lini pertama pasien berusia muda.
          • Di Jepang, pengobatan dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6 golongan obat termasuk: CCB, ACEI/ARB, diuretik tiazid, penghambat reseptor beta, dan penghambat reseptor alfa. Di Kanada semua obat ini, kecuali penghambat reseptor alfa, dianjurkan sebagai lini pertama yang dapat digunakan.

          Kombinasi obatSuntin

          • Penghambat kanal kalsium dengan diuretik
          • Penghambat beta dengan diuretik
          • Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan penghambat reseptor beta
          • Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan verapamil atau diltiazem



          Kombinasi yang tidak boleh digunakan adalah sebagai berikut:

          • Penghambat kanal kalsium non-dihidropiridin (seperti verapamil atau diltiazem) dengan penghambat reseptor beta
          • Dua jenis penghambat sistem renin–angiotensin (contohnya, penghambat enzim konversi angiotensin + penghambat reseptor angiotensin)
          • Penghambat sistem renin–angiotensin dan penghambat reseptor beta
          • Penghambat reseptor beta dan obat anti-adrenergik.
          • Hindari kombinasi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II, diuretik, dan OAINS (termasuk penghambat COX-2 selektif dan obat bebas tanpa resep seperti ibuprofen) jika tidak mendesak, karena tingginya risiko gagal ginjal akut. Istilah awam dari kombinasi ini adalah “triple whammy” dalam literatur kesehatan Australia. Tersedia tablet yang mengandung kombinasi tetap dari dua golongan obat tersebut. Meskipun nyaman dikonsumsi, obat-obatan tersebut sebaiknya tidak diberikan untuk pasien yang biasa menjalani terapi dengan komponen obat tunggal.

          Pasien usia lanjutSunting

          • Pengobatan hipertensi pada hipertensi sedang hingga berat menurunkan tingkat kematian dan efek samping kardiovaskuler pada pasien usia 60 tahun ke atas.
          • Pada pasien yang berusia lebih dari 80 tahun pengobatan tampaknya tidak mengurangi tingkat kematian secara bermakna namun mengurangi risiko penyakit jantung.
          • Target tekanan darah yang direkomendasikan adalah kurang dari 140/90 mm Hg dengan diuretik tiazid sebagai obat pilihan di Amerika Serikat.
          •  Pada versi revisi pedoman Inggris, penghambat kanal kalsium merupakan obat pilihan dengan target hasil pemeriksaan secara klinis kurang dari 150/90 mmHg, atau kurang dari 145/85 mmHg pada pemantauan dengan tekanan darah ambulatori atau di rumah.

          Hipertensi resistenSunting

          • Hipertensi resisten adalah hipertensi yang terus berada di atas target tekanan darah, meskipun telah digunakan tiga obat antihipertensi sekaligus dari golongan obat antihipertensi yang berbeda. Pedoman pengobatan hipertensi resisten telah dipublikasikan di Inggris  and the US.


          Inilah Diagnosis dan Pemeriksaan Pada Penderita Hipertensi

          Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih

          Inilah Diagnosis dan Pemeriksaan Pada Penderita HipertensiSunting

          Pemeriksaan yang dilakukan pada hipertensi
          Sistem Pemeriksaan
          Renal Urinalisis mikroskopik, proteinuria, darah BUN (ureum) dan/atau kreatinin
          Endokrin Darah natrium, kalium, kalsium, TSH (thyroid-stimulating hormone).
          Metabolik Glukosa darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL dan LDLtrigliserida
          Lain-lain Hematokrit, elektrokardiogram, dan foto Röntgen dada
          Sumber: Harrison’s principles of internal medicine[

          • Diagnosis hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara persisten. Biasanya, untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Pemeriksaan awal pasien dengan hipertensi mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Dengan tersedianya pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam dan alat pengukur tekanan darah di rumah, demi menghindari kekeliruan diagnosis pada pasien dengan hipertensi white coat (jenis hipertensi yang disebabkan oleh stres saat bertemu dokter atau berada dalam suasana medis) telah dihasilkan suatu perubahan protokol. Di Inggris, praktik terbaik yang dianjurkan saat ini adalah dengan melakukan follow-up satu kali hasil pengukuran tekanan darah yang tinggi di klinik dengan pengukuran ambulatori. Follow-up juga dapat dilakukan, walaupun kurang ideal, dengan memonitor tekanan darah di rumah selama kurun waktu tujuh hari.
          • Sekali diagnosis telah ditegakkan, dokter berusaha mengindentifikasi penyebabnya berdasarkan faktor risiko dan gejala lainnya, bila ada. Hipertensi sekunder lebih sering ditemukan pada anak usia prapubertas dan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit ginjal. Hipertensi primer atau esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki berbagai faktor risiko, di antaranya obesitas dan riwayat hipertensi dalam keluarga.
          • Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi menyebabkan kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan mungkin memerlukan penanganan.
          • Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai adanya gangguan ginjal, yang mungkin merupakan penyebab atau akibat dari hipertensi. Kadar kreatinin darah saja dapat memberikan dugaan yang terlalu tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan terkini menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR). eGFR juga dapat memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada sampel urin digunakan juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan darah tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding jantung (hipertrofi ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung pernah mengalami gangguan ringan seperti serangan jantung tanpa gejala (silent heart attack). Pemeriksaan foto Röntgen dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk melihat tanda pembesaran atau kerusakan pada jantung.


          « Entri Lama