Category Archives: ***Dokter Jantung

Penanganan Terkini Hipertensi

Penanganan Terkini Hipertensi

Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah (TD) sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan / atau sama atau lebih dari 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang minum obat antihipertensi. 

Anamnesis

  • Durasi hipertensi
  • Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingya bila ada
  • Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
  • Kebiasaan makan dan psikososial
  • Faktor resiko lainnya: kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,diabetes, inaktivitas fisik
  • Bukti hipertensi sekunder: riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan, kelemahan otot (palpitasi,keringat berlebihan,tremor), tidur tidak teratur,mengorok, somnolen di siang hari, gejala hipo atau hipertiroidisme, riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
  • Bukti kerusakan organ target: riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual

Pemeriksaan Fisik

  • Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda – tanda vital
  • Pengukuran Tekanan Darah metode auskultasi :
  • Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid
  • Palpasi pulsasi arteri femoralis, pedis
  • Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
  • Funduskopi
  • Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan Penunjang

  • Urinalisis, tes fungsi ginjal, ekskresi albumin, serum BUN, kreatinin, gula darah, elektrolit, profil lipid,foto toraks, EKG. sesuai penyakit penyerta: asam urat,USG ginjal, ekokardiografi. 

Diagnosis Banding

  • Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll 

  • Modifikasi gaya hidup
  • Pemberian B-Bloker pada pasien unstable angina / non-ST elevated myocardial infark(NSTEMI) atau STEMI harus memperhatikan kondisi hemodinamik pasien. B-Bloker hanya diberikan pada kondisi hemodinamik stabil.
  • Pemberian angiotensin convertin enzyme inhibitor (ACE-I) atau angiotensin receptor bloker (ARB) pada pasien NSTEMI atau STEMI apabila hipertensi persisten, terdapat infark miokard anterior, disfungsi ventrikel kiri, gagal jantung, atau pasien menderita diabetes dan penyakit ginjal kronik
  • Pemberian antagonis aldosteron pada pasien disfungsi ventrikel kiri bila terjadi gagal jantung berat (misal gagal jantung NYHA kelas III-IV atau fraksi ejeksi ventrikel kiri < 40% dan klinis gagal jantung Kondisi khusus lain: Obesitas dan sindrom metabolik terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi 150 mg/dl, kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki – laki atau < 50 mg/dl pada perempuan.Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan ACE-I. Pilihan lain ARB,CCB. Hipertropi ventrikel kiri Tatalaksana agresif termasuk penurunan berat badan dan restriksi garam Pilihan terapi: dengan semua kelas antihipertensi Kontra indikasi: vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil Penyakit arteri perifer: semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin. Lanjut usia (>65 tahun)
  • Identifikasi etiologi lain yang bersifat irreversibel
  • Evaluasi kerusakan organ target
  • Evaluasi penyakit komorbid lain yang mempengaruhi prognosis
  • Identifikasi hambatan dalam pengobatan

Terapi farmakologis:

  • diuretik thiazid, CCB

Kehamilan

  • Pilihan terapi: metildopa, Beta Bloker, dan vasodilator
  • Kontraindikasi: ACE-I dan ARB

KOMPLIKASI

  • Hipertrofi ventrikel kiri, protein uria dan gangguan fungsi ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung. 

PROGNOSIS

  • Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi yang sesuai. Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target. Oleh karena itu, obat antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. 

REFERENSI

  • Kotchen T.Hypertensive vascular disease. In: Longo DL.Fauci AS,Kasper DL,Hauser SL,Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine.18th Edition.New York:McGraw-Hill:2012.
Iklan

Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC), Diagnosis dan Penanganannya

Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC), Diagnosis dan Penanganannya

Ekstrasistol ventrikular/premature ventricular contractions (PVC) merupakan suatu aritmia yang terlihat jelas pada elektrokardiogram dengan lebar (umumnya > 120 milidetik) dan morfologi QRS unik, yang terjadi akibat aktivasi atrium secara independen (gelombang P). PVC dapat terjadi akibat peningkatan automatisitas, aktivitas yang dipicu, atau re-entry. 

  • Umumnya asimptomatik
  • Palpitasi, rasa tidak nyaman pada leher atau dada, sinkop
  • Pasien akan merasa jantungnya seolah-olah berhenti berdenyut setelah suatu PVC
  • Pada pasien dengan penyakit jantung dan PVC frekuen jangka panjang, dapat menyebabkan angina, hipotensi, atau gagal jantung
  • Riwayat penyakit komorbid seperti penyakit jantung struktural (iskemia atau penyakit katup jantung)
  • Perlu juga ditanyakan riwayat konsumsi obat-obatan digitalis, kebiasaan mengonsumsi tembakau, kafein, alkohol berlebihan
  • Pemeriksaan Fisik
  • Tekanan darah ( dapat ditemukan hipotensi), nadi ( dapat ditemukan denyut ektopik yang diikuti dengan long pause), dapat diikuti dengan menurunnya intensitas bunyi jantung, pulse oxymetry (hipoksia dapat memicu PVC)
  • Gelombang A atau giant A pada pulsasi vena jugularis, splitting bunyi jantung II, dapat juga terdapat bunyi jantung S3 dan ronki (pada gagal jantung kongestif), hipertensi dan S4 pada PVC dengan hipertensi lama
  • Temuan neurologis: agitasi dan temuan aktivasi simpatis (dilatasi pupil, kulit kering dan hangat, tremor, takikardia, hipertensi) sugestif katekolamin sebagai penyebab PVC 

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium (sesuai indikasi): elektrolit (terutama kalium dan magnesium), kadar obat digitalis dalam serum darah, skrining obat-obatan
  • EKG 12 sadapan selama 2 menit dapat membantu untuk menentukan frekuensi ektopi dan merekam PVC infrekuen. Pada EKG dapat ditemukan hipertrofi ventrikel kiri, iskemia jantung aktif (ST depresi atau elevasi, T-inverted), infark miokard sebelumnya (gelombang Q atau hilangnya gelombang R, bundle branch block), gangguan elektrolit (QT memanjang, gelombang T hiperakut), efek obat (QRS melebar, QT memanjang), gambaran morfologi PVC. Derajat keparahan PVC dapat diukur dengan skoring Lown yaitu nilai 0 = tidak ada PVC, 1 = sesekali ( < 30/jam), 2 = frekuen (>30/jam), 3 = multiform, 4 = repetitif (A= couplets, B =Salvos atau 2:3), 5 = pola R-on-T. Semakin tinggi nilai Lown, maka PVC makin serius.
  • Holter monitoring selama 24 jam untuk menentukan kuantitas dan karakteristik PVC.
  • Ekokardiografi berguna untuk evaluasi fraksi ejeksi, yang berguna untuk menentukan prognosis dan juga mengidentifikasi penyakit katup atau hipertrofi ventrikel.

Pemeriksaan Penunjang

  • Diagnosis BandingSindrom koroner akut, infark miokard, miokarditis, fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel 

Secara umum tidak perlu diterapi, terutama pada pasien yang tidak memiliki penyakit jantung struktural.

  • Indikasi terapi primer adalah meredakan gejala.
  • Terapi lini pertama adalah Beta-blocker: atenolol 25-100 mg/hari atau metoprolol 50-200 mg/hari. Apabila tidak efektif, amiodaron dapat dipertimbangkan.
  • Obat antiaritmia kelas I atau kelas III dapat dipertimbangkan, namun potensi untuk proaritmia dan toksisitas organ harus menjadi pertimbangan. Alternatif pada pasien simptomatis, terutama yang tidak memiliki penyakit jantung struktural, adalah ablasi kateter radiofrekuensi (RFA).
  • PVC yang mengikuti denyut ventrikel lambat dapat dihilangkan dengan meningkatkan laju denyut jantung dasar dengan atropine atau isoproterenol atau dengan pacu jantung, sementara menurunkan HR pada pasien dengan takikardia sinus dapat menghilangkan PVC.
  • PVC frekuen, meskipun dalam seting infark miokard akut, tidak perlu diterapi, kecuali memberi kontribusi hemodinamik kompromais. Pada pasien rawat inap dapat diberi lidokain. Apabila dosis maksimum lidokain maksimal tidak berhasil, procainamide IV dapat diberikan. Propranolol dianjurkan bila obat lain tidak berhasil.
  • Koreksi gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan asam basa, dan hipoksia

KOMPLIKASI

  • Takikardia ventrikel, fibrilasi ventrikel, kematian mendadak 

PROGNOSIS

  • Tergantung penyebab, beratnya gejala dan respons terapi 

Referensi

  • Lerman BB. Ventricular Arrythmias.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23’d Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
  • Olgin J, Zipes DP. Ventricular Rhythm Disturbances. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL Zipes DP. Braunwald’s Heart Disease. 9 1h Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2012.

    Bradikardi, Diagnosis dan Penanganannya


    Bradikardia adalah laju denyut jantung kurang dari 60 kali/menit. Pada orang yang sering berolahraga, laju denyut jantung 50 kali/menit saat terjaga dapat merupakan hal yang normal. Sinus bradikardia yang penting secara klinis umumnya didefinisikan sebagai laju denyut jantung kurang dari 45 kali/menit yang menetap saat terjaga. 

    Disfungsi nodus sinus/ sinus node dysfunction (SND), atau lebih dikenal dengan sick sinus syndrome (SSS), dapat juga merupakan manifestasi dari kegagalan akselerasi laju sinus (kurangnya respons kronotropik) dalam situasi seperti olahraga, gagal jantung, demam, obat simpatomimetik, atau parasimpatolitik. Sangat penting untuk menentukan bahwa SND termasuk sinus bradikardia pada seorang individu bukanlah akibat sekunder dari obat kardioaktif seperti beta blockers atau calcium-channel blockers non dihydropyridine. 

    • Gejala bradikardia: pusing, lelah, exertional dyspnea, perburukan gagal jantung, lightheadedness (presinkop), atau pingsan/sinkop
    • Sindrom nervus vagus: episode vasovagal, muntah, bedah abdomen, prosedur invasif saluran cerna atas dan bawah
    • Penyakit komorbid: penyakit jantung koroner, iskemik atau infark miokard, tumor intrakranial, tumor servikal dan mediastinum, peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia berat, myxedema, hipotermia, perubahan fibrodegeneratif, fase konvalesens dari infeksi tertentu, depresi mental, sepsis gram negatif
    • Riwayat konsumsi obat digitalis, antiaritmia
    • Riwayat penyakit infeksi (mis. Penyakit Chagas, meningitis)
    • Pasca bedah jantung dengan trauma pada sinus node
    • Riwayat operasi mata, arteriografi koroner

    Pemeriksaan Fisik

    • Tekanan darah, nadi: dapat ditemukan bradikardia, takikardia (pada bradycardia- tachycardia syndrome).
    • Stimulasi sinus karotis: masase karotis dilakukan saat pasien supine dan nyaman, dengan kepala menengok ke arah yang berlawanan dengan sisi yang distimulasi. Auskultasi bruit karotis perlahan-lahan sebelum dilakukan masase karena dapat terjadi emboli akibat masase. Palpasi sinus karotis pada bifurkasio arteri dengan 2 jari, pada sudut rahang sampai pulsasi yang bagus teraba. 
    • Dengan tekanan minimal dapat menginduksi reaksi hipersensitivitas pada individu yang terkena. Apabila tidak ada efek inisial, gerakan jari memutar atau sisi-demi-sisi (side-by-side) di atas bifurkasio arteri dilakukan seiama 5 detik. Respons negatif adalah kurangnya efek pada EKG setelah penekanan adekuat selama 5 detik yang menyebabkan rasa tidak nyaman yang ringan (tidak ada penurunan laju denyut nadi ~20%). Karena respons masase dapat berbeda pada kedua sisi, maneuver ini dapat dilakukan pada sisi kontralateral, akan tetapi kedua sisi tidak boleh dirangsang secara bersamaan.
    • Temuan fisik lain sugestif penyakit struktural jantung.
    • Pemeriksaan Penunjang
    • EKG 12 sadapan.
    • Ambulatory monitoring, Holter monitors (lebih lengkap lihat pada bab prosedur Holter Monitoring), event monitors, implantable loop recorders
    • Tilt table testing: untuk menyingkirkan diagnosis sinkop neurokardiogenik
    • Sulphate Atropine test
    • Studi elektrofisiologis
    • Ekokardiografi
    • Exercise testing

    Diagnosis Banding

    • Sinus bradikardia fungsional, peningkatan rangsang vagal, kondisi gastrointestinal dan neurologis, sinkop neurokardiogenik, hipersensitivitas sinus karotis (carotid sinus syndrome/ collar syndrome, inflamasi (perikarditis, miokarditis, penyakit jantung reumatik, penyakit Lyme), iatrogenik, pasca operasi, penyakit jantung kongenital, penyakit infeksi. 

    • Apabila tanpa gejala (asimptomatik) –> terapi tidak diperlukan
    • Manajemen SND dan blok AV derajat II dan III :atropine 1 mg IV a tau isoproterenol 1-2 ug/menit infusan, pacu jantung sementara mungkin dibutuhkan
    • Sinus bradikardia: apabila curah jantung tidak cukup atau bila aritmia berkaitan dengan laju denyut jantung pelan, berikan atropine 0,5 mg IV sebagai dosis inisial, dapat diulang bila perlu.
    • Pada episode sinus bradikardia simtomatik yang lebih dari sesaat atau rekuren (mis. saat infark miokard), pacu jantung sementara melalui elektroda transvena lebih disukai daripada terapi obat yang lama atau berulang. Pada sinus bradikardia kronis, pacu jantung permanen mungkin dibutuhkan bila ada gejala
    • Sinus aritmia: terapi biasanya tidak diperlukan. Meningkatkan laju denyut jantung dengan olahraga atau obat-obatan umumnya menghilangkan sinus aritmia. Pada pasien simtomatik, palpitasi dapat reda dengan sedatif/penenang, sedangkan atropin, efedrin, atau isoproterenol untuk terapi sinus bradikardia 2
    • BlokAV: pacu jantung buatan sementara atau permanen. Eksklusi penyebab blok AV reversibel berdasarkan kondisi hemodinamik pasien. Terapi farmakologis adjuvan seperti atropin atau isoproterenol mungkin dibutuhkan bila blok berada di AV node. Pacu jantung transkutaneus sangat efektifpada serangan akut, namun durasi pemakaian sangat tergantung dari kenyamanan pasien dan kegagalan menangkap ventrikel pada penggunaan jangka panjang.
    • Bila pasien memerlukan dukungan pacu jantung lebih dari beberapa menit –> gunakan pacu jantung transvena. Sadapan pacu jantung sementara dapat diletakkan pada sistem vena jugularis atau subklavia dan diteruskan ke ventrikel kanan. Pada kebanyakan kasus blokAV node distal tanpa adanya resolusi –> pacu jantung permanen.

    KOMPUKASI

    • Pacemaker syndrome, takikardia terkait pacu jantung. 

    PROGNOSIS

    • Beberapa penelitian mengevaluasi morbiditas dan mortalitas pasien dengan SSS yang menggunakan berbagai mode pacu jantung. Bila dibandingkan dengan pacu ventrikel, pacu atrium berkaitan dengan insidens komplikasi tromboemboli, atrial fibrilasi, gagal jantung, mortalitas kardiovaskular, dan morbiditas totallebih rendah. Pasien dengan SSS dengan gejala sinus bradikardia saja, memiliki prognosis yang lebih baik 

    REFERENSI

    • Akhtar M. Cardiac Arrythmias with Supraventricular Origin.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
    • Olgin J. Specific Arrhythmias: Diagnosis and Treatment. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP. Braunwald’s Heart Disease. 9th Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2012.
    • Spragg D. The Bradyarrythmias. In :Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th Edition. New York, McGraw-Hill. 2012.

      Takikardi, Gejala dan Penanganannya

      Sinus takikardia didefinisikan sebagai peningkatan laju denyut sinus > 100x/menit sebagai respons stimulus fisiologis sesuai (mis. olahraga) atau stimulus berlebihan ( mis. hipertiroidisme ). Kegagalan mekanisme yang mengatur laju denyut sinus dapat menyebabkan sinus takikardia yang tidak sesuai. Penyebabnya antara lain pireksia, hipovolemia, atau anemia, yang dapat berasal dari infeksi. Obat-obatan yang dapat menginduksi sinus takikardia termasuk stimulan (kafein, alkohol, nikotin); komponen yang diresepkan (salbutamol, aminofilin, atropine, katekolamin); terapi antikanker (doxorubicin/adriamycin, daunorubicin); dan beberapa obat rekreasional/ilisit (amfetamin, kokain, kanabis, “ecstasy’ 

      • Istilah takiaritmia umumnya merujuk pada bentuk takikardia berkelanjutan (sustained) atau tidak (nonsustained), yang berasal dari fokus miokardial atau sirkuit reentrant. Takiaritmia supraventrikular dapat terjadi tunggal atau sebagai kompleks prematur berturut-turut atau dalam bentuk takikardia sustained atau nonsustained. Definisi nonsustained tachycardia adalah suatu aritmia dengan laju denyut jantung > 100x/menit yang berlangsung ≥ 3x namun bertahan 100x/menit) saat siang hari dengan peningkatan laju berlebihan dalam merespons aktivitas dan normalisasi laju denyut jantung pada malam hari yang dikonfirmasi dengan monitor Holter selama 24 jam.
      • Takikardia dan gejalanya bersifat non-paroksismal.
      • Morfologi gelombang P dan aktivasi endokardium identik dengan ritme sinus.
      • Eksklusi penyebab sekunder sistemik (mis. hipertiroidisme, feokromositoma, physical deconditioning)

      Diagnosis Banding

      • Hipertiroidisme, tirotoksikosis, feokromositoma, sindrom Brugada, sindrom Wolff- Parkinson-White, sindrom long QT. 

      • Tatalaksana primer takikardia sinus yaitu identifikasi penyebab serta mengeliminasi atau mengobatinya. Beta blocker dapat menjadi sangat berguna dan efektif pada takikardia sinus simptomatis fisiologis yang dipicu oleh stres emosional, dan gangguan lain terkait ansietas, manfaat prognostik pasca infark miokard simptomatis dan manfaat prognostik pada kondisi lain dengan etiologi sinus takikardia ireversibel seperti gagal jantung kongestif dan tirotoksikosis simptomatis yang dikombinasikan dengan carbimazole atau propylthiouracyl(PTU). Nondihydropyridine calcium-channel blockers, seperti dilitiazem atau verapamil, dapat bermanfaat pada pasien tirotoksikosis simptomatis apabila beta blocker dikontraindikasikan. 
      • Pencegahan tromboemboli pada AF
      • Terapi antitrombotik diberikan pada semua pasien dengan AF, kecuali pasien dengan lone AF atau memiliki kontraindikasi
      • Pemilihan agen antitrombotik sebaiknya berdasarkan risiko absolut stroke dan perdarahan, dan risiko relatif dan manfaat pemberian bagi pasien
      • Pada pasien tanpa katup jantung mekanis dengan risiko tinggi stroke, terapi antikoagulan kronis dengan antagonis vitamin K dianjurkan pada dosis penyesuaian untuk mencapai target INR 2,0-3,0 kecuali dikontraindikasikan
      • Pada pasien dengan katup jantung mekanis, target intensitas antikoagulan sebaiknya berdasarkan tipe prostetik dengan pemeliharaan INR sedikitnya 2,5
      • INR sebaiknya diperiksa sedikitnya setiap minggu selama inisiasi terapi dan bulanan setelah antikoagulasi stabil
      • Aspirin 81-325 mg/hari dianjurkan sebagai alternatif antagonis vitamin K pada pasien risiko rendah atau pada pasien dengan kontraindikasi oral antikoagulasi

      KOMPLIKASI

      • Tromboemboli, gagal jantung, kematian mendadak. 

      PROGNOSIS

      • Tergantung penyebab, berat gejala dan respons terapi. 

      REFERENSI

      • Marchlinski F. The Tachyarrythmias. In : Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th Edition. New York, McGraw-Hill. 2012.
      • Akhtar M. Cardiac Arrythmias with Supraventricular Origin. In: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
      • Adelmann GA. Rhythm and Conduction Disorders. In: Cardiology Essentials in Clinical Practice. London. Springer-Verlag. 2011
      • Olgin J. Approach to the Patient With Suspected Arrythmia.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.

        Penanganan Terkini Hipertensi

        Penanganan Terkini Hipertensi

        Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih

        Penatalaksanaan hipertensi dibedakan menjadi dua. Pada hipertensi ringan tanpa faktor risiko atau kerusakan organ, penatalaksanaannya adalah dengan perubahan gaya hidup dan memantau pasien selama 6-12 bulan. Pada hipertensi berat yang disertai dengan faktor risiko dan kerusakan organ, penatalaksanaannya menggunakan terapi farmakologi (obat).

        Perubahan gaya hidupSunting

        • Penanganan tipe pertama untuk hipertensi identik dengan menganjurkan perubahan gaya hidup yang bersifat pencegahan dan meliputi perubahan diet[, olah raga, dan penurunan berat badan. Semua perubahan ini telah terbukti menurunkan tekanan darah secara bermakna pada orang dengan hipertensi. Jika hipertensi cukup tinggi dan memerlukan pemberian obat segera, perubahan gaya hidup tetap disarankan. Berbagai program diiklankan dapat mengurangi hipertensi dan dirancang untuk mengurangi tekanan psikologis misalnya biofeedback, relaksasi, atau meditasi. Namun, secara umum belum ada penelitian yang secara ilmiah mendukung efektivitas program ini, karena penelitian yang ada masih berkualitas rendah.
        • Perubahan asupan diet seperti diet rendah natrium sangat bermanfaat. Diet rendah natrium jangka panjang (lebih dari 4 minggu) pada Kaukasia efektif menurunkan tekanan darah, baik pada penderita hipertensi maupun pada orang dengan tekanan darah normal.
        • Selain itu, diet DASH, suatu diet kaya kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, unggas, buah, dan sayuran, yang dipromosikan oleh National Heart, Lung, and Blood Institute, menurunkan tekanan darah. Keistimewaan utama dari program ini adalah membatasi asupan natrium, namun demikian diet ini kaya kalium, magnesium, kalsium, dan protein.

        PengobatanSunting

        • Saat ini tersedia beberapa golongan obat yang secara keseluruhan disebut obat antihipertensi, untuk pengobatan hipertensi. Risiko kardiovaskuler (termasuk risiko infark miokard dan stroke) dan hasil pemeriksaan tekanan darah menjadi pertimbangan ketika meresepkan obat. 
        • Jika pengobatan dimulai, Seventh Joint National Committee on High Blood Pressure (JNC-7) dari National Heart, Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons pasien terhadap pengobatan serta menilai apakah terjadi efek samping akibat obat yang digunakan. Penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko stroke sebesar 34% dan risiko penyakit jantung iskemik hingga 21%. Penurunan tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan demensia, gagal jantung, dan mortalitas yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Pengobatan harus ditujukan untuk mengurangi tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg untuk sebagian besar orang, dan lebih rendah lagi untuk mereka yang memiliki diabetes atau penyakit ginjal. Sejumlah praktisi medis menyarankan agar tekanan darah dijaga pada level di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah yang diharapkan tidak tercapai, maka diperlukan pengobatan lebih lanjut.
        • Pedoman mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan pengobatan untuk berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu dan berbeda-beda di berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat mengenai pengobatan terbaik untuk hipertensi.  Pedoman Kolaborasi Cochrane, World Health Organization, dan Amerika Serikat mendukung diuretik golongan tiazid dosis rendah sebagai terapi pilihan untuk lini pertama. 
        • Pedoman di Inggris menekankan penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker/CCB) untuk orang yang berusia di atas 55 tahun atau yang berdarah Afrika atau Karibia. Pedoman ini menyarankan penghambat enzim konversi angiotensin (angiotensin-converting enzyme inhibitor/ACEI) yang merupakan obat pilihan yang dianjurkan untuk pengobatan lini pertama pasien berusia muda.
        • Di Jepang, pengobatan dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6 golongan obat termasuk: CCB, ACEI/ARB, diuretik tiazid, penghambat reseptor beta, dan penghambat reseptor alfa. Di Kanada semua obat ini, kecuali penghambat reseptor alfa, dianjurkan sebagai lini pertama yang dapat digunakan.

        Kombinasi obatSuntin

        • Penghambat kanal kalsium dengan diuretik
        • Penghambat beta dengan diuretik
        • Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan penghambat reseptor beta
        • Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan verapamil atau diltiazem



        Kombinasi yang tidak boleh digunakan adalah sebagai berikut:

        • Penghambat kanal kalsium non-dihidropiridin (seperti verapamil atau diltiazem) dengan penghambat reseptor beta
        • Dua jenis penghambat sistem renin–angiotensin (contohnya, penghambat enzim konversi angiotensin + penghambat reseptor angiotensin)
        • Penghambat sistem renin–angiotensin dan penghambat reseptor beta
        • Penghambat reseptor beta dan obat anti-adrenergik.
        • Hindari kombinasi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II, diuretik, dan OAINS (termasuk penghambat COX-2 selektif dan obat bebas tanpa resep seperti ibuprofen) jika tidak mendesak, karena tingginya risiko gagal ginjal akut. Istilah awam dari kombinasi ini adalah “triple whammy” dalam literatur kesehatan Australia. Tersedia tablet yang mengandung kombinasi tetap dari dua golongan obat tersebut. Meskipun nyaman dikonsumsi, obat-obatan tersebut sebaiknya tidak diberikan untuk pasien yang biasa menjalani terapi dengan komponen obat tunggal.

        Pasien usia lanjutSunting

        • Pengobatan hipertensi pada hipertensi sedang hingga berat menurunkan tingkat kematian dan efek samping kardiovaskuler pada pasien usia 60 tahun ke atas.
        • Pada pasien yang berusia lebih dari 80 tahun pengobatan tampaknya tidak mengurangi tingkat kematian secara bermakna namun mengurangi risiko penyakit jantung.
        • Target tekanan darah yang direkomendasikan adalah kurang dari 140/90 mm Hg dengan diuretik tiazid sebagai obat pilihan di Amerika Serikat.
        •  Pada versi revisi pedoman Inggris, penghambat kanal kalsium merupakan obat pilihan dengan target hasil pemeriksaan secara klinis kurang dari 150/90 mmHg, atau kurang dari 145/85 mmHg pada pemantauan dengan tekanan darah ambulatori atau di rumah.

        Hipertensi resistenSunting

        • Hipertensi resisten adalah hipertensi yang terus berada di atas target tekanan darah, meskipun telah digunakan tiga obat antihipertensi sekaligus dari golongan obat antihipertensi yang berbeda. Pedoman pengobatan hipertensi resisten telah dipublikasikan di Inggris  and the US.


        Inilah Diagnosis dan Pemeriksaan Pada Penderita Hipertensi

        Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih

        Inilah Diagnosis dan Pemeriksaan Pada Penderita HipertensiSunting

        Pemeriksaan yang dilakukan pada hipertensi
        Sistem Pemeriksaan
        Renal Urinalisis mikroskopik, proteinuria, darah BUN (ureum) dan/atau kreatinin
        Endokrin Darah natrium, kalium, kalsium, TSH (thyroid-stimulating hormone).
        Metabolik Glukosa darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL dan LDLtrigliserida
        Lain-lain Hematokrit, elektrokardiogram, dan foto Röntgen dada
        Sumber: Harrison’s principles of internal medicine[

        • Diagnosis hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara persisten. Biasanya, untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Pemeriksaan awal pasien dengan hipertensi mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Dengan tersedianya pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam dan alat pengukur tekanan darah di rumah, demi menghindari kekeliruan diagnosis pada pasien dengan hipertensi white coat (jenis hipertensi yang disebabkan oleh stres saat bertemu dokter atau berada dalam suasana medis) telah dihasilkan suatu perubahan protokol. Di Inggris, praktik terbaik yang dianjurkan saat ini adalah dengan melakukan follow-up satu kali hasil pengukuran tekanan darah yang tinggi di klinik dengan pengukuran ambulatori. Follow-up juga dapat dilakukan, walaupun kurang ideal, dengan memonitor tekanan darah di rumah selama kurun waktu tujuh hari.
        • Sekali diagnosis telah ditegakkan, dokter berusaha mengindentifikasi penyebabnya berdasarkan faktor risiko dan gejala lainnya, bila ada. Hipertensi sekunder lebih sering ditemukan pada anak usia prapubertas dan sebagian besar kasus disebabkan oleh penyakit ginjal. Hipertensi primer atau esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki berbagai faktor risiko, di antaranya obesitas dan riwayat hipertensi dalam keluarga.
        • Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi menyebabkan kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi ini merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan mungkin memerlukan penanganan.
        • Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai adanya gangguan ginjal, yang mungkin merupakan penyebab atau akibat dari hipertensi. Kadar kreatinin darah saja dapat memberikan dugaan yang terlalu tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan terkini menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in Renal Disease (MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR). eGFR juga dapat memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada sampel urin digunakan juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk memeriksa tanda-tanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan darah tinggi. Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding jantung (hipertrofi ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung pernah mengalami gangguan ringan seperti serangan jantung tanpa gejala (silent heart attack). Pemeriksaan foto Röntgen dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk melihat tanda pembesaran atau kerusakan pada jantung.


        Gejala Hipertensi

        Klasifikasi Hipertensi 

        Hipertensi (HTN) atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100–140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah) 60–90 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg atau lebih

        Hipertensi jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak berkaitan. 

        Gejala Hipertensi

        • Beberapa orang dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit kepala (terutama di bagian belakang kepala dan pada pagi hari), serta pusing, vertigo, tinitus (dengung atau desis di dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan.
        • Pada pemeriksaan fisik, hipertensi juga dicurigai ketika terdeteksi adanya retinopati hipertensi pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata dengan menggunakan oftalmoskop. Biasanya beratnya perubahan retinopati hipertensi dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang lebih ringan mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya. Hasil oftalmoskopi juga dapat memberi petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami hipertensi.

        Hipertensi sekunder. 

        • Beberapa tanda dan gejala tambahan dapat menunjukkan hipertensi sekunder, yaitu hipertensi akibat penyebab yang jelas seperti penyakit ginjal atau penyakit endokrin. 
        • Contohnya, obesitas pada dada dan perut, intoleransi glukosa, wajah bulat seperti bulan (moon facies), “punuk kerbau” (buffalo hump), dan striae ungu menandakan Sindrom Cushing. 
        • Penyakit tiroid dan akromegali juga dapat menyebabkan hipertensi dan mempunyai gejala dan tanda yang khas. 
        • Bising perut mungkin mengindikasikan stenosis arteri renalis (penyempitan arteri yang mengedarkan darah ke ginjal). Berkurangnya tekanan darah di kaki atau lambatnya atau hilangnya denyut arteri femoralis mungkin menandakan koarktasio aorta (penyempitan aorta sesaat setelah meninggalkan jantung). 
        • Hipertensi yang sangat bervariasi dengan sakit kepala, palpitasi, pucat, dan berkeringat harus segera menimbulkan kecurigaan ke arah feokromositoma.

        Krisis hipertensi. 

        • Peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi (sistolik lebih atau sama dengan 180 atau diastolik lebih atau sama dengan 110, kadang disebut hipertensi maligna atau akselerasi) sering disebut sebagai “krisis hipertensi.” 
        • Tekanan darah di atas tingkat ini memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi. Orang dengan tekanan darah pada kisaran ini mungkin tidak memiliki gejala, tetapi lebih cenderung melaporkan sakit kepala (22% dari kasus)[12] dan pusing dibandingkan dengan populasi umum. 
        • Gejala lain krisis hipertensi mencakup berkurangnya penglihatan atau sesak napas karena gagal jantung atau rasa lesu karena gagal ginjal.
        • Kebanyakan orang dengan krisis hipertensi diketahui memiliki tekanan darah tinggi, tetapi pemicu tambahan mungkin menyebabkan peningkatan secara tiba-tiba.

        Hipertensi Emergensi

        • “Hipertensi emergensi”, sebelumnya disebut sebagai “hipertensi maligna”, terjadi saat terdapat bukti kerusakan langsung pada satu organ atau lebih sebagai akibat meningkatnya tekanan darah. 
        • Kerusakan ini bisa mencakup ensefalopati hipertensi, disebabkan oleh pembengkakan dan gangguan fungsi otak, dan ditandai oleh sakit kepala dan gangguan kesadaran (kebingungan atau rasa kantuk). 
        • Papiledema retina dan perdarahan fundus serta eksudat adalah tanda lain kerusakan organ target. 
        • Nyeri dada dapat merupakan tanda kerusakan otot jantung (yang bisa berlanjut menjadi serangan jantung) atau kadang diseksi aorta, robeknya dinding dalam aorta. 
        • Sesak napas, batuk, dan ekspektorasi dahak bernoda darah adalah ciri khas edema paru. Kondisi ini adalah pembengkakan jaringan paru akibat gagal ventrikel kiri, ketidakmampuan ventrikel kiri jantung untuk memompa cukup darah dari paru-paru ke sistem arteri.
        • Penurunan fungsi ginjal secara cepat (cedera ginjal akut/acute kidney injury) dan anemia hemolitik mikroangiopati (penghancuran sel-sel darah) juga mungkin terjadi.
        • Pada situasi ini, harus dilakukan penurunan tekanan darah secara cepat untuk menghentikan kerusakan organ yang sedang terjadi.
        • Sebaliknya, tidak ada bukti bahwa tekanan darah perlu diturunkan secara cepat dalam keadaan hipertensi emergensi bila tidak ada bukti kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah yang terlalu agresif bukan berarti tidak ada risiko.
        • Penggunaan obat-obatan oral untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap selama 24 sampai 48 jam dianjurkan dalam kedaruratan hipertensi.

        Hipertensi Pada Kehamilan

        • Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi pada sekitar 8-10% kehamilan.
        • Kebanyakan wanita hamil yang mengalami hipertensi memiliki kondisi hipertensi primer yang sudah ada sebelumnya. 
        • Tekanan darah tinggi dalam kehamilan dapat merupakan tanda awal dari pre-eklampsia, suatu kondisi serius yang muncul setelah melewati pertengahan masa kehamilan, dan dalam beberapa minggu setelah melahirkan.
        • Diagnosa preeklampsia termasuk peningkatan tekanan darah dan adanya protein di dalam urin.
        • Preeklampsia muncul pada sekitar 5% kehamilan dan bertanggung jawab atas sekitar 16% dari semua kematian ibu secara global.
        • Preeklampsia juga menyebabkan risiko kematian bayi meningkat hingga dua kali lipat.
        • Biasanya preeklampsia tidak menunjukkan gejala dan keadaan ini terdeteksi pada pemeriksaan rutin. Bila terjadi preeklampsia, gejala yang paling umum adalah sakit kepala, gangguan penglihatan (sering dalam bentuk “kilatan cahaya”), muntah, nyeri epigastrium, dan edema (bengkak). Terkadang preeklampsia bisa berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa yang disebut eklampsia. 
        • Eklampsia adalah suatu hipertensi emergensi dan menyebabkan beberapa komplikasi berat, seperti hilangnya penglihatan, pembengkakan otak, kejang tonik-klonik atau konvulsi, gagal ginjal, edema paru, dan koagulasi intravaskular diseminata (gangguan pembekuan darah).

        Hipertensi pada Bayi dan anak

        • Gagal tumbuh
        • Kejang
        • Iritabilitas atau rewel berlebihan
        • Kurang energi, dan lemas 
        • kesulitan bernafas bisa dikaitkan dengan hipertensi pada bayi baru lahir dan bayi usia muda. 
        • Pada bayi yang lebih besar dan anak, hipertensi bisa menyebabkan sakit kepala, iritabilitas tanpa penyebab yang jelas, lesu, gagal tumbuh, pandangan kabur, mimisan, dan kelumpuhan wajah

          « Entri Lama