Author Archives: The Doctor Indonesia

10 Permasalahan Kaki

10 Permasalahan Kaki

Kaki merupakan salah satu anggota tubuh hewan atau manusia yang digunakan untuk berjalan. Kaki terdiri dari beberapa bagian, termasuk telapak kaki, sendi yang bekerja dalam suatu sistem terpadu sehingga memungkinkan bagi inang untuk berjalan. Kedua kaki terdiri dari 50 tulang yang menyusun lebih dari 60 persendian, 200 otot, tendon, dan ligamen sehingga bisa digerakkan sedemikian rupa.

Telapak kaki ialah bagian bawah kaki manusia. Secara anatomis, telapak kaki disebut sebagai aspek plantar. Permukaan yang serupa pada ungulata ialah kuku. Tak seperti bagian tubuh lainnya, kulit telapak kaki tak memiliki bulu maupun pigmen, dan memiliki konsentrasi pori keringat yang tinggi. Telapak kaki memiliki sejumlah lipatan yang terbentuk selamaembriogenesis dan mengandung lapisan kulit paling tebal pada tubuh manusia karena bobot yang terus tertumpu atasnya. Seperti telapak tangan, pori keringat tak memiliki kelenjar sebasea. Telapak kaki amat sensitif pada sentuhan karena banyaknya ujung saraf, yang membuatnya sensitif pada permukaan yang dilangkahi, perasaan gatal dan beberapa orang menemukan telapak kaki merupakanzona erogen. Secara medis, telapak kaki adalah tempat refleks plantar, uji yang dapat menyakitkan karena sensitivitas telapak kaki. Telapak kaki dapat pula digunakan untuk menyiksa ketika seseorang diikat erat agar tak bergerak dan kaki yang telanjang itu dicambuk.

Telapak kaki orang dewasa normalnya melengkung. Lengkungan tersebut bisa gagal berkembang selama masa kanak-kanak atau dapat mendatar selamakehamilan dan usia tua yang menyebabkan kaki datar. Pergelangan kaki terdiri dari ujung-ujung tulang kering serta tulang betis dan tumit. Tulang-tulang itu disatukan oleh ligamen yang cukup kuat, sehingga membentuk sendi. Berikut ini cara merawat persendian tersebut agar tidak mudah cedera. Sendi pergelangan kaki dapat menjadi stabil karena adanya bungkus sendi dan ligamen yang kuat. Sendi pergelangan kaki sering mengalami cedera. Padahal, persendian ini harus dapat berfungsi dengan baik karena sangat diperlukan waktu kita berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang lain. Sendi pergelangan kaki harus mendapat perhatian yang cukup agar tidak mudah mengalami cedera. Salah satu usaha untuk menguatkannya adalah dengan melatih yang terlibat secara aktif dalam menggerakkan sendi pergelangan kaki.

1496918314141_crop_940x29615 Gangguan Kaki 

  • Kaki Bau
  • Nyeri Lutut Dalam anatomi manusia, lutut adalah sendi yang menghubungkan femur dan tibia. Karena pada manusia lutut menyokong hampir seluruh berattubuh, lutut sangat rentan baik terhadap cedera akut maupun timbulnya osteoarthritis.
  • Kaki bengkak. Bila terjadi dalam waktu temporer, mungkin disebabkan oleh posisi berdiri yang tidak terlalu lama atau baru saja melakukan perjalanan panjang. Khususnya bagi ibu yang tengah berbadan dua. Jika terlihat kontras dan berlangsung lama, bisa jadi ada serangan penyakit serius, seperti sirkulasi darah yang buruk, penyumbatan darah, atau gangguan pada sistem limpatik. Problem pada ginjal juga bisa menyebabkan kondisi seperti ini.
  • Kaki terasa terbakar. Kondisi ini kerap ditemukan pada pasien diabetes dan yang mengalami kerusakan saraf periferal. Namun bisa juga disebabkan kekurangan vitamin B, penyakit ginjal kronis, sirkulasi darah pada kaki yang busuk, dan hypothyroidism.
  • Nyeri pada ibu jari. Encok biasanya menjadi pemicu sakit yang mendadak muncul pada persendian ibu jari kaki ini. Bisanya, dibarengi kulit yang memerah dan membengkak. Osteoarthritis merupakan pemicu lainnya.
  • Nyeri menusuk. Nyeri yang tajam menusuk di kaki secara tiba-tiba ini bisa menjadi karena kram atau kejang pada otot akibat kelelahan. Kemungkinan hal ini dipicu oleh sirkulasi darah yang buruk, dehidrasi, ketidakseimbangan asupa potasium, magnesium, kalsium, dan vitamin D.

Perubahan hormon saat hamil atau gangguan thyroid juga bisa memicu kondisi seperti

  • Kaki terasa dingin. Kondisi ini bisa dipicu oleh banyak hal. Salah satunya, rendahnya aliran darah ke kaki. Problem sirkulasi darah kadang-kadang terkait dengan konsumsi rokok, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Kerusakan saraf karena diabetes yang tidak terkontrol juga bisa membuat kaki terasa dingin. Kemungkinan terkait dengan anemia dan hypothyroidism.
  • Jari kaki putih, biru, dan merah. Penyakit Reynaud bisa memicu jari kaki berubah dari putih kemudian biru, lantas memerah hingga akhirnya kembali ke warna natural.  Gangguan ini disebabkan oleh penyempitan arteri yang disebut vasospasms. Stress atau perubahan suhu bisa juga menjadi faktur pemicunya. Penyakit Raynaud mungkin juga terkait dengan reumatoid arthritis, gangguan thyroid.
  • Jalan diseret. Kemungkinan disebabkan kerusakan saraf periferal. Sebanyak 30 persen kasus ini ditemukan terkait dengan serangkan diabeter. Kerusakan saraf periferal juga dapat disebabkan oleh infeksi, defisiensi vitamin, dan asupan alkohol yang tinggi.
  • Jari melengkung. Biasanya ditunjukkan dengan kuku yang lebih bulat pada bagian ujung dan melengkung ke bawah. Kondisi ini sering kali disebabkan adanya gangguan pada paru-paru. Namun bisa juga dipicu oleh penyakit jantung, hati, dan gangguan pencernaan.
  • Kuku putih. Cedera pada kuku kaki atau rasa sakit pada bagian tubuh lainnya bisa menyebabkan kuku kaki menjadi putih. Jika warna putihnya meliputi sebagian besar kuku, bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang serius, seperti penyakit hati, diabetes, atau gagal jantung.
  • Kuku menguning. MKuku kaki bisa menunjukkan kondisi kesehatan secara umum. Menebalnya warna kuning pada kuku bisa disebabkan oleh infeksi jamur, selain itu bisa jadi pertanda hadirnya penyakit lymphedema, penyakit paru-paru, atau rheumatoid arthritis.
Iklan

Kenali Tanda dan Gejala DDH dan Cara Pencegahannya

1496918314141_crop_938x264Kenali Tanda dan Gejala DDH dan Cara Pencegahannya

 

DDH merupakan kelainan bawaan yang biasa terjadi dan seringkali dapat pulih secara alami, tetapi pembedongan akibat membedong bayi dapat memperlambat proses pemulihan tersebut. Supaya perkembangan persendian di panggul berlangsung secara sehat, kaki harus dapat bebas ditekuk di area paha. Oleh karena itu beberapa ahli menyarankan supaya bayi sebaiknya tidak dibedong. Kalaupun mau membedong bayi, jangan terlalu kencang mengikat kaki dan tangan si kecil.

DHH adalah gangguan yang terjadi karena tulang panjang (femur)  kaki lepas dari lengkung tulang panggul (acetabulum).  Berdasarkan statistik, kelainan ini  sering terjadi di bagian kiri ketimbang di bagian kanan. Sedangkan DHH yang mengenai bagian  kiri dan kanan hanya terjadi 20%. Di Indonesia belum ada data pasti berapa banyak bayi lahir dengan DHH. Di Australia diperkiran 2 dari 1000  kelahiran hidup mengalami DHH.

Tanda DHH pada bayi lahir:

  • Kaki tidak simetris dengan lipatan paha berlebih pada kaki yang ada kelainan.
  • Kaki yang terkena tampak  lebih pendek dari kaki yang lainnya.

Diagnosis

Pemeriksaan dengan menggunakan:

  • Tes Barlow, yaitu tes yang dilakukan dengan cara  memegang kaki yang dicurigai dan membukanya ke arah samping. Bila bayi menangis, pertanda adanya DHH.
  • Tes Ortolani, dilakukan dengan menekuk kedua kaki bayi, kemudian dibuka dan jika terdengar suara ‘klik’ kemungkinan terkena DDH
  • Tes Galeaze, dilakukan dengan menekuk lutut bayi dan melihat apakah panjangnya sama atau tidak.
  • Jika dicurigai ada kelainan, pada anak usia 6 bulan ke bawah akan dilakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi, yang akan memperlihatkan  kelainan secara lebih jelas. Sedangkan pada anak usia di atas 6 bulan, pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan rontgen.

image

Penyebab

Belum diketahui secara pasti. Ada dugaan karena  lahir sungsang, berat tubuh  berlebihan, uterus ibu sempit yang menyebabkan panggul tertekan,  faktor keturunan dan sering juga bersamaan dengan kelainan bawaan seperti down syndrom atau cerebral palcy. Bayi perempuan diketahui mengalami DHH lebih banyak dibanding bayi laki-laki karena otot pada bayi perempuan lebih lentur dibanding otot bayi laki-laki.
Dugaan lainnya adalah faktor kebiasaan menggendong dan membedong bayi.  Bayi yang digendong menghadap ke depan, menimbulkan tekanan pada tulang puggung bayi yang juga menyebabkan pergeseran sendi antara tulang paha dan panggul, yang berisiko bayi mengalami DHH. Bayi yang dibedong dengan kaki rapat  satu sama lain dan lurus juga berpotensi terkena gangguan itu

Penanganan

  1. Terapi pada  bayi berusia kurang dari 6 bulan adalah dengan memasang Pavlik Harness,  yaitu sebuah alat berbentuk M yang dikenalkan oleh Arnold  Pavlik, ahli bedah ortopedi berkebangsaan Ceznia, tahun 1950 .  Alat ini membantu mendorong femur masuk ke dalam acetabulum. Alat ini umumnya dipasang selama 3 sampai 9 bulan dan  tidak boleh dibuka.  Orang tua akan mengalami kesulitan dalam memandikan dan mengganti popok karena alat ini tidak boleh dibuka. Tingkat keberhasilan alat ini mencapai 90%.
  2. Terapi untuk anak  usia 6 bulan – 1 tahun yang mulai aktif bergerak
    disarankan dilakukan pembedahan dengan penyembuhan yang memakan waktu panjang dengan tingkat keberhasilan yang cukup memuaskan.
  3. Terapi untuk anak usia 1 – 3 tahun adalah dengan lebih dulu melakukan
    traksi, yaitu memasang alat penahan di bagian tulang yang mengalami gangguan.  Setelah itu baru dilakukan operasi.
  4. Terapi untuk anak usia 3 tahun ke atas adalah dengan operasi tulang  panggul
    secara keseluruhan yang disebut hip replacement.

Bila DDH tidak sitangani

  • Anak   akan menyeret sebelah kakinya ketika mulai merangkak dan kemampuan berjalannya lambat. Atau, dia akan berjalan pincang jika sudah bisa berjalan. Hingga saat ini belum ada cara untuk mencegah DDH

Bedong Dan DDH

  • Membedong bayi ternyata bukan hanya kebiasaan orangtua di Indonesia. Di beberapa negara termasuk di Inggris lain juga telah menjadi kebiasaan. Para tahun 2010 dan 2011 di Inggris permintaan kain bedong meningkat 61 persen. Di Amerika Utara, sembilan dari sepuluh bayi pada usia enam bulan pertama juga dibedong. Saat Pangeran William dan Kate Middleton “memamerkan” Pangeran George yang dibedong, pada Agustus lalu, kain bedong bermerek seperti yang digunakan George dilaporkan habis terjual dalam empat jam. Mitos beredar di masyarakat bahwa kalau tidak dibedong beresiko kakinya bengkok tidak terbukti aecara ilkiah. Tetapi sebaliknya harus diwaspadai kalau membedong terlalu ketat justru beresiko terjadingangguan DDH (Developmental Dysplasia of the Hip). Membedong dapat meningkatkan risiko bayi mengalami masalah di area panggul di kelak kemudian hari, karena membedong bayi mencegah persendian di panggul berkembang normal. Ini terjadi bila membedong dilakukan kelewat ketat. Masalah yang dikhawatirkan salah satunya DDH (Developmental Dysplasia of the Hip).
  • Demikian menurut Prof. Nicholas Clarke dari University Hospital Southampton, seperti dikutip Telegraph. Gangguan akibat membedong bayi ini bisa berakibat si anak pada usia tengah baya nanti, lebih berisiko mengalami osteoarthritis atau perlu penanganan medis untuk area panggul. Sebenarnya tidak dilarang tindakan bedong sama sekali. Tetapi disarankan agar membedong bayi tidak terlalu kencang, sehingga kedua kaki bayi dan juga tangan masih bisa bergerak dan ditekuk. Teknik membedong bayi populer karena dipercaya dapat menenangkan bayi dan membuatnya tidur tenang, juga mencegah bayi sering menangis dan mengalami kolik. Namun sejumlah studi mengungkapkan, membedong bayi justru membuat kedua kaki anak menjadi tidak lurus sejajar.
  • Studi lain pada tikus menemukan bahwa membedong bayi sejak lahir akan menyebabkan panggul mengalami dislokasi, dimana kondisi itu akan bertambah berat seiring lamanya bayi dibedong. Angka dislokasi panggul di Jepang menurun hingga separuhnya, setelah dilakukan program edukasi kepada para nenek agar tidak membedong cucunya.

Kenali Tanda dan Gejala Skoliosis

1496918314141_crop_940x296Kenali Tanda dan Gejala Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya. Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung. Skoliosis diklasifikasikan ke dalam empat kategori berdasarkan usia penderita ketika kelengkungan tulang terlihat untuk pertama kalinya. Keempat kategori tersebut adalah skoliosis idiofatik anak-anak, remaja, pada remaja yang berada di sekitar masa pubertas, dan dewasa

Scoliosis adalah suatu kelainan yang menyebabkan suatu lekukan yang abnormal dari spine (tulang belakang). Spine mempunyai lekukan-lekukan yang normal ketika dilihat dari samping, namun ia harus nampak lurus ketika dilihat dari depan. Kyphosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine bengkok kedepan (maju). Lordosis adalah suatu lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine bengkok kebelakang. Orang-orang dengan scoliosis mengembangkan lekukan-lekukan tambahan ke setiap sisi, dan tulang-tulang dari spine melingkar pada masing-masing seperti sebuah pencabut sumbat botol (corkscrew). Scoliosis adalah kira-kira dua kali lebih umum pada anak-anak perempuan daripada anak-anak lelaki. Ia dapat dilihat pada semua umur, namun ia adalah lebih umum pada mereka yang lebih dari 10 tahun umurnya. Scoliosis adalah turunan atau warisan dimana orang-orang dengan scoliosis adalah lebih mungkin mempunyai anak-anak dengan scoliosis; bagaimanapun, tidak ada korelasi antara keparahan dari lekukan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sekitar 80% skoliosis adalah idiopatik, Skoliosis idiopatik dengan kurva lebih dari 10 derajat dilaporkan dengan prevalensi 0,5-3 per 100 anak dan remaja. Prevalensi dilaporkan pada kurva lebih dari 30 derajat yaitu 1,5-3 per 1000 penduduk. Insiden yang terjadi pada skoliosis idiopatik infantil bervariasi, namun dilaporkan paling banyak dijumpai di Eropa daripada Amerika Utara, dan lebih banyak laki-laki dari pada perempuan.

Tanda dan Gejala

  • Gejala-gejala yang paling umum dari scoliosis adalah suatu lekukan yang tidak normal dari spine. Seringkali ini adalah suatu perubahan yang ringan dan mungkin pertama kali diperhatikan oleh seorang teman atau anggota keluarga. Ia dapat juga ditemukan pada suatu pengujian penyaringan sekolah yang rutin untuk scoliosis. Mereka yang terpengaruh mungkin mencatat bahwa pakaian-pakaian mereka tidak cocok seperti yang mereka lakukan sebelumnya atau bahwa celana-celana panjang adalah lebih panjang pada satu sisi daripada yang lainnya.
  • Scoliosis mungkin menyebabkan kepala nampaknya bergeser dari tengah atau satu pinggul atau pundak lebih tinggi daripada sisi berlawanannya. Jika scoliosis adalah lebih parah, ia dapat membuatnya lebih sulit untuk jantung dan paru-paru untuk bekerja dengan baik. Ini dapat menyebabkan sesak napas dan nyeri dada.
  • Pada kebanyakan kasus-kasus, scoliosis adalah tidak menyakitkan, namun ada tipe-tipe tertentu dari scoliosis yang dapat menyebabkan sakit punggung. Sebagai tambahan, ada penyebab-penyebab lain dari sakit punggung, yang dokter anda juga akan ingin mencarinya.

Tanda tanda dari skoliosis sebenarnya mudah sekali untuk di deteksi sendiri sejak awal, dengan cara melihat tubuh kita di depan kaca dan memperhatikan apakah ada gambaran ciri-ciri di bawah ini:

  • Perhatikan apakah kedua telinga sama tinggi? Apakah posisi wajah cenderung ke satu sisi? (Pada skoliosis akan tampak gambaran kepala miring sebelah)
  • Perhatikan apakah posisi bahu sama tinggi? Ataukah ada satu sisi bahu yang lebih maju ke depan? (Pada skoliosis tampak gambaran bahu tidak sama tinggi)
  • Perhatikan apakah pinggul kiri dan kanan sejajar? Apakah celana atau gaun yang dikenakan dapat melekat sempurna di tubuh bagian bawah? Apakah panjang celana, kerah baju, dan panjang lengan sama bagian kiri dan kanannya? (Pada skoliosis tampak gambaran pinggul tidak sama tinggi)
  • Perhatikan apakah telapak kaki rata atau ada bagian yang mengarah keluar? Apakah ada keluhan lain di lutut atau pergelangan kaki? (Pada skoliosis tampak gambaran kaki yang tidak seimbang)
  • Periksa apakah ada bagian punggung yang salah satu sisinya lebih tinggi? Apakah ada penonjolan di wilayah punggung atau penyimpangan bentuk tulang (tulang tidak lurus)? (Pada skoliosis tampak gambaran lengkungan dari tulang belakang).

Dampak Skoliosis Skoliosis memang bukan merupakan penyakit serius, tetapi apabila tidak segera di tangani maka akan menimbulkan masalah seperti:

  • Nyeri pinggang.
  • Nyeri lutut.
  • Nyeri leher
  • Gangguan pernapasan.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Gangguan penampilan.

Terapi Alternatif Dominasi InformasI Kesehatan di Televisi

wp-1494736080171.

Terapi Alternatif Dominasi InformasI Kesehatan di Televisi

Kecenderungan tersebut saat ini diperparah oleh informasi yang diberikan media masa baik cetak ataupun elektronik tertentu. Bahkan sampai saat ini di media televisi banyak sekali informasi kesehatan justru diberikan bukan oleh dokter tetapi oleh orang yang tidak berkompeten dalam bidangnya seperti terapi alternatif, terapi herbal ataupun ahli agama yang bergerak dalam praktisi  kesehatan. Sebenarnya sah-sah saja mereka melakukan terapi alternatif dan disiarkan oleh media televisi. Sebaiknya mereka hanya menjelaskan jasa dan produknya saja.  Tetapi sebaiknya tidak disertai konsultasi online dan pemberian informasi kesehatan yang pada umumnya informasi kesehatan yang diberikan sangat menyesatkan dan tidak benar secara medis.

Bahkan saat ini masyarakat digiring secara tidak sadar dengan informasi kesehatan yang salah dengan adanya iklan berbagai produk dan jasa kesehatan di televisi.  Bila informasi tersebut berdasarkan penelitian ilmiah yang baik dan benar maka tidak masalah. Tetapi bila terapi dan alat kesehatan tersebut tidak terbukti benar manfaat bagi kesehatannya maka dapat menyesatkan dan menipu konsumen yang tidak paham akan kesehatan. Sebenarnya tidak salah terapi alternatif atau iklan sa medis lainnya di media masa. Tetapi sebaiknya bukan dengan slogan yang tidak benar yang dapat menipu dan menjeeumuskan masyarakat hanya demi kepentingan bisnis.

Terapi medis atau terapi alternatif

  • Sumber kontroversi informasi itu sebenrnya karena sumber yang berbeda yaitu dari sumber informasi kesehatan alternatif dan medis. Perbedaan ini tidak pernah akan berakhir karena masing-masing pihak menggunakan pola pemikiran yang berbeda. Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ke ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis atapun secara biomolekular. Dalam penerapannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis.
  • Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan
  • Sedangkan terapi alternatif adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun sebenarnya tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur. Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis.
  • Terapi atau alat diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.
  • Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut.
  • Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti. Sering dilihat di televisi dalam acara terapi alternatif oleh seseorang bukan berlatar belakang nonmedis, bahwa pengakuan seorang sembuh karena terapi yang diberikan. Mungkin saja memang penderita tersebut berhasil dengan terapi alternatif tersebut, tetapi tidak diketahui apakah yang tidak berhasil juga lebih banyak lagi. Atau bisa saja yang diklaim sembuh adalah dengan gangguan yang ringan yang memang suatu poenyakit self limiting disease atau sembuh sendiri. Tetapi bila seorang pasien gagal dan meninggal saat melakukan terapi alternatif maka dianggap nasibnya memang demikian. Tetapi bila seorang paien meninggal didalamm penanganan dokter biasanya sering diakhir dengan ketidak puasan dan menyalahkan dokter yang merawat. Padahal sakitnya memang sudah tidak ada harapan lagi. Hal ini terjadi karena harapan terhadap dokter untuk sembuh lebih tinggi dibandingkan kepada terapi alternatif yang hanya pasrah danmerelakan apapuj yang akan terjadi. Di bidang medis seorang dokter tidak boleh menyebutkan keberhasilan pengobatan berdasarkan kesaksian keberhasilan seorang pasien tetapi harus berdasarkan penelitian sebuah jurnal kesehatan yang kredibel atau jurnal yang dapat diakses di pubmed secara online.

Bagaimana Meyikapinya

  • Dalam berbagai kondisi globalisasi informasi tersebut sebaiknya masyarakat harus cerdas dalam mencari informasi dan mencerna informasi. Bila salah dalam mendapatkan informasi yang tidak benar secara ilmiah dan salah dalam menginterpretasikan maka akan mendapatkan informasi kesehatan yang menyesatkan. Kontroversi informasi kesehatan seringkali ditimbulkan oleh opini seseorang praktisi kesehatan baik praktisi terapi alternatif, dokter atau bahkan seorang dokter yang ahlipun bila tidak berdasarkan penelitian ilmiah. Bahkan opini seorang profesorpun seharusnya tidak bisa diikuti dan dijadikan pedoman bila tidak berdasarkan data penelitian ilmiah berupa Kejadian Ilmiah Berbasis Bukti atau Evidance Base Medicine.
  • Media masa sebaiknya melakukan pola pikir yang benar dalam mendapatkan informasi kesehatan. Sebaiknya dalam mengejar sumber informasi kesehatan media masa harus mencari sumber berita sesuai dengan kompetensinya. Bila mendapat informasi yang berbeda mungkin yang lebih dipercaya adalah sumber yang kompeten. Media masa seperti Kompas dan media masa nasional sejanis lainnya sebaiknya dijadikan acuan atau referensi tentang cara memberikan informasi dan edukasi kesehatan  yang baik dan benar.
  • Instusi terkait yang berwenang seperti Departemen Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia dan Persatuan Wartawan Indonesia harus peduli terhadap fenomena polusi informasi kesehatan yang semakin menyimpang tersebut. Mungkin media masa sebaiknya mempunyai seorang konsultan seorang yang berkompeten dalam kesehatan dalam program edukasi kesehatan masyarakat agar tidak salah arah.
  • Dalam menghadapi globalisasi informasi yang demikian hebat tersebut maka polusi informasi menjadi sangat besar terjadi. Dalam keadaan seperti ini masyarakat harus dituntut tidak lebih cepat percaya dan harus cermat dan cerdas dalam mencari dan mengolah informasi.  Semoga bangsa ini lebih cerdas dan arif dalam menyikapi kemajuan informasi yang demikian hebat ini demi kemajuan kesehatannya.

Tanda dan Gejala Penyakit Malaria

wp-1465520461833.jpgTanda dan Gejala Penyakit Malaria

Malaria adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dari manusia dan hewan lain yang disebabkan oleh protozoa parasit (sekelompok mikroorganisme bersel tunggal) dalam tipe Plasmodium. Malaria menyebabkan gejala yang biasanya termasuk demam, kelelahan, muntah, dan sakit kepala. Dalam kasus yang parah dapat menyebabkan kulit kuning, kejang, koma, atau kematian. Gejala biasanya muncul sepuluh sampai lima belas hari setelah digigit. Jika tidak diobati, penyakit mungkin kambuh beberapa bulan kemudian. Pada mereka yang baru selamat dari infeksi, infeksi ulang biasanya menyebabkan gejala ringan. resistensi parsial ini menghilang selama beberapa bulan hingga beberapa tahun jika orang tersebut tidak terpapar terus-menerus dengan malaria.

Penyakit ini paling sering ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Gigitan nyamuk memasukkan parasit dari air liur nyamuk ke dalam darah seseorang.Parasit bergerak ke hati di mana mereka dewasa dan bereproduksi. Lima spesies Plasmodium dapat menginfeksi dan disebarkan oleh manusia. Sebagian besar kematian disebabkan oleh P. falciparum karena P. vivax, P. ovale, and P. malariae umumnya menyebabkan bentuk yang lebih ringan dari malaria. Spesies P. knowlesi jarang menyebabkan penyakit pada manusia. Malaria biasanya didiagnosis dengan pemeriksaan mikroskopis darah menggunakan film darah, atau dengan uji diagnostik cepat berdasarkan-antigen. Metode yang menggunakan reaksi berantai polimerase untuk mendeteksi DNA parasit telah dikembangkan, tetapi tidak banyak digunakan di daerah di mana malaria umum karena biaya dan kompleksitasnya.

Risiko penyakit dapat dikurangi dengan mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu dan penolak serangga, atau dengan tindakan kontrol-nyamuk seperti penyemprotan insektisida dan menguras genangan air. Beberapa obat tersedia untuk mencegah malaria pada wisatawan ke daerah di mana penyakit umum. Dosis sesekali obat sulfadoksin/pirimetamin direkomendasikan pada bayi dan setelah trimester pertama kehamilan di daerah dengan tingkat malaria tinggi. Meskipun adanya kebutuhan, tidak ada vaksin yang efektif, meskipun upaya untuk mengembangkannya sedang berlangsung. Pengobatan yang direkomendasikan untuk malaria adalah kombinasi obat antimalaria yang mencakup artemisinin. Obat kedua mungkin baik meflokuin, lumefantrin, atau sulfadoksin/pirimetamin Kuinin bersama dengan doksisiklin dapat digunakan jika artemisinin tidak tersedia. Direkomendasikan bahwa di daerah di mana penyakit ini umum, malaria dikonfirmasi jika mungkin sebelum pengobatan dimulai karena kekhawatiran peningkatan resistensi obat. Resistensi parasit telah berkembang untuk beberapa obat antimalaria; misalnya, P. falciparum resisten-klorokuin telah menyebar ke sebagian besar wilayah malaria, dan ketahanan terhadap artemisinin telah menjadi masalah di beberapa bagian Asia Tenggara.

Penyakit ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis yang ada di pita lebar sekitar khatulistiwa. Ini termasuk banyak dari Afrika Sub-Sahara, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2015, ada 214 juta kasus malaria di seluruh dunia. Hal ini mengakibatkan sekitar 438.000 kematian, 90% di antaranya terjadi di Afrika. Tingkat penyakit menurun dari tahun 2000 hingga 2015 sebesar 37%, namun meningkat dari 2014 di mana ada 198 juta kasus. Malaria umumnya terkait dengan kemiskinan dan memiliki efek negatif yang besar pada pembangunan ekonomi. Di Afrika, malaria diperkirakan mengakibatkan kerugian sebesar US$12 miliar setahun karena meningkatnya biaya kesehatan, kehilangan kemampuan untuk bekerja, dan efek negatif pada pariwisata.

1494627841043_crop_946x128

  • Tanda-tanda dan gejala malaria biasanya mulai 8-25 hari setelah terinfeksi, namun, gejala dapat terjadi kemudian pada orang-orang yang telah mengambil obat antimalaria sebagai pencegahan.
  • Manifestasi awal dari penyakit—umum untuk semua spesies malaria—mirip dengan gejala flu, dan dapat menyerupai kondisi lain seperti sepsis, gastroenteritis, dan penyakit virus. Presentasi mungkin termasuk sakit kepala, demam, menggigil, nyeri sendi, muntah, anemia hemolitik, penyakit kuning, hemoglobin dalam urin, kerusakan retina, dan kejang-kejang.
  • Gejala klasik malaria adalah paroksismal—kejadian bersiklus kedinginan tiba-tiba diikuti dengan menggigil dan kemudian demam dan berkeringat, terjadi setiap dua hari (demam tertiana) di infeksi P. vivax dan P. ovale, dan setiap tiga hari (demam kuartana) untuk P. malariae. Infeksi P. falciparum dapat menyebabkan demam berulang setiap 36-48 jam, atau demam kurang menonjol dan hampir terus menerus.
  • Malaria berat biasanya disebabkan oleh P. falciparum (sering disebut sebagai malaria falciparum). Gejala malaria falciparum timbul 9-30 hari setelah terinfeksi.Individu dengan malaria serebral sering menunjukkan gejala neurologis, termasuk postur abnormal, nistagmus, kelumpuhan tatapan konjugat (kegagalan mata untuk bergerak bersama-sama dalam arah yang sama), opistotonus, kejang, atau koma.

Komplikasi

  • Malaria memiliki beberapa komplikasi yang serius. Di antaranya adalah pengembangan gangguan pernapasan, yang terjadi di hingga 25% dari orang dewasa dan 40% dari anak-anak dengan malaria P. falciparum parah. Kemungkinan penyebab termasuk kompensasi pernapasan asidosis metabolik, edema paru nonkardiogenik, pneumonia bersamaan, dan anemia berat. Meskipun jarang terjadi pada anak-anak dengan malaria berat, sindrom gangguan pernapasan akut terjadi pada 5-25% dari orang dewasa dan sampai 29% dari wanita hamil.
  • Koinfeksi HIV dengan malaria meningkatkan angka kematian.
  • Gagal ginjal adalah fitur dari demam air hitam, di mana hemoglobin dari sel darah merah yang pecah bocor ke dalam urin.
  • Infeksi P. falciparum dapat mengakibatkan malaria serebral, bentuk malaria berat yang melibatkan ensefalopati. Hal ini terkait dengan memutihnya retina, yang mungkin merupakan tanda klinis yang berguna dalam membedakan malaria dari penyebab lain dari demam.
  • Splenomegali, sakit kepala parah, hepatomegali (pembesaran hati), hipoglikemia, dan hemoglobinuria dengan gagal ginjal dapat terjadi. Komplikasi dapat mencakup perdarahan spontan dan koagulopati. Dapat menyebabkan syok.
  • Malaria pada ibu hamil merupakan penyebab penting dari lahir mati, kematian bayi, aborsi dan berat badan lahir rendah, terutama pada infeksi P. falciparum, tetapi juga dengan P. vivax
1494627841043_crop_959x187
  • Bentuk-cincin dan gametosit Plasmodium falciparum dalam darah manusia. Karena sifat non-spesifik dari gejala malaria, diagnosis malaria di daerah non-endemik membutuhkan tingkat kecurigaan yang tinggi, yang mungkin ditimbulkan oleh salah satu dari berikut: riwayat perjalanan baru-baru ini, pembesaran limpa, demam, jumlah rendah trombosit dalam darah, dan tingkat bilirubin yang lebih tinggi dari normal dalam darah dikombinasikan dengan tingkat normal sel darah putih.
  • Malaria biasanya dikonfirmasi oleh pemeriksaan mikroskopis dari film darah atau uji diagnostik cepat (rapid diagnostic tests, RDT) berdasarkan-antigen. Mikroskop adalah metode yang paling umum digunakan untuk mendeteksi parasit malaria—sekitar 165 juta film darah diperiksa untuk malaria pada tahun 2010. Meskipun penggunaan secara luas, diagnosis dengan mikroskop memiliki dua kelemahan utama: banyak keadaan (terutama di pedesaan) tidak dilengkapi untuk melakukan tes, dan keakuratan hasil bergantung pada keterampilan orang yang memeriksa film darah dan kadar parasit dalam darah. Sensitivitas film darah berkisar 75-90% dalam kondisi optimum, hingga serendah 50%. RDT yang tersedia secara komersial sering lebih akurat daripada film darah dalam memprediksi adanya parasit malaria, tetapi mereka sangat beragam dalam sensitivitas diagnostik dan spesifisitas tergantung pada produsen, dan tidak dapat mengatakan berapa banyak parasit yang hadir.
  • Di daerah di mana tes laboratorium sudah tersedia, malaria harus dicurigai, dan diuji, dalam setiap orang sehat yang pernah ke daerah endemik malaria. Di daerah yang tidak mampu tes diagnostik laboratorium, telah menjadi umum untuk menggunakan hanya riwayat demam sebagai indikasi untuk mengobati malaria—sehingga pengajaran umum “demam sama dengan malaria kecuali jika terbukti sebaliknya”. Kelemahan dari praktik ini adalah overdiagnosis malaria dan salah urus demam non-malaria, yang membuang sumber daya yang terbatas, mengikis kepercayaan dalam sistem perawatan kesehatan, dan memberikan kontribusi untuk resistensi obat. Meskipun tes berdasarkan reaksi berantai polimerase telah dikembangkan, mereka tidak banyak digunakan di daerah di mana malaria adalah umum pada 2012, karena kompleksitasnya

1465534159932.jpgGejala dan Penyebab Demensia

Demensia merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang seringkali disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Demensia adalah kumpulan penyakit dengan gejala-gejala yang mana mengakibatkan perubahan pada pasien dalam cara berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Seringkali, memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik terpengaruh. Beberapa bentuk demensia mengubah kepribadian pasien. Penderita demensia akan kehilangan kemampuan tertentu dan pengetahuannya yang telah didapatkan sebelumnya. Hal inilah yang terutama membedakan dengan kondisi lainnya yang mempengaruhi pikiran. Orang yang mengalami masalah pembelajaran, atau ber-IQ rendah tidak akan pernah memiliki kemampuan tertentu, tetapi orang yang terkena demensia akan kehilangan kemampuan yang telah didapatkannya. Demensia biasanya terjadi pada usia lanjut. Beberapa jenis demensia dapat diperlambat kemundurannya. Bentuk demensia yang umum adalah Alzheimer yang merupakan 50 hingga 60 persen dari semua kasus demensia. Bentuk lainnya termasuk demensia karena faktor pembuluh darah (vascular dementia) dan lewy body dementia.

1494627841043_crop_946x128

Seseorang mungkin menderita demensia, jika terjadi pemburukan pada:

  • Kemampuan mengambil keputusan (Decision-making ability)
  • Kebijaksanaan (Judgment)
  • Orientasi waktu dan ruang (Orientation in time and space)
  • Pemecahan masalah (Problem solving)
  • Kemampuan berbicara (Verbal communication)
  • Perubahan perilaku termasuk:
    • Makan
    • Berpakaian (mungkin membutuhkan bantuan)
    • Kegemaran
    • Aktivitas rutin (mungkin menjadi tak dapat melakuakn pekerjaan rumah tangga)
    • Kepribadian (tanggapan yang tak semestinya, kurang dalam pengendalian emosi)

Jenis-jenis demensia

  • Beberapa jenis demensia dapat dipulihkan. Hal ini berarti kerusakan dapat diperbaiki. Jenis lainnya tak dapat dipulihkan. Hal ini berati kerusakan yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki. Demensia yang tak dapat dipulihkan biasanya disebabkan oleh penyakit yang tak dapat disembuhkan, seperti Alzheimer.
  • Dimensia yang dapat dipulihkan termasuk diffuse axonal injury setelah kecelakaan pada kepala dan otak, dikenal sebagai trauma kepala/otak Traumatic brain injury.
    Penyakit Creutzfeldt-Jakob menyebabkan demensia yang terjadi memburuk dengan cepat, dalam hitungan minggu atau bulan, dan ini disebabkan oleh adanya prion (di Indonesia dikenal sebagai Penyakit Sapi Gila, tetapi belum pernah diketahui terjadi pada orang Indonesia).
  • Jenis lainnya seperti encephalopathy atau delirium yang berkembang secara lambat, selama bertahun-tahun.

Penyebab

  • Dua penyebab utama demensia adalah Alzheimer dan Multi-infarct disease. Glioma sehubungan dengan tumor adalah penyebab lainnya yang diketahui. Alcohol dementia, kadang-kadang dihubungkan dengan Wernicke-Korsakoff syndrome, dan hal ini disebabkan pengunaan/minum alkohol yang berlebihan dalam jangka panjang.
  • Penyebab metabolisme yang mungkin menjadi penyebab demensia, misalnya gagal hati (Hepatic encephalopathy) atau gagal ginjal; dan subdural hematoma yang kronis. Kemungkinan lain termasuk infeksi otak karena meningitis yang menyebabkan keracunan obat untuk viral encephalitis (misalnya obat-obatan anticonvulsant).
  • Demensia juga dapat diinduksi oleh defisiensi niasin.
    Demensia pada Alzheimer dikategorikan sebagai simtoma degeneratif otak yang progresif. Mengingat beban yang ditimbulkan penyakit ini, masyarakat perlu mewaspadai gangguan perilaku dan psikologik penderita demensia Alzheimer
  • Demensia vaskular
    Pada tahap ini, menurut skala MMSE (bahasa Inggris: Mini-Mental State Examination), penderita mengalami gangguan minor pada orientasi tempat, waktu dan ingatan, pada 3 tahun pertama,[9] yang disebut MCI (bahasa Inggris: mild cognitive impairment) dengan penurunan ketebalan dan
    volume otak pada korteks entorinal, hipokampus dan girus supramarginal.
  • Demensia yang disertai badan Lewy
  • Demensia frontotemporal, terjadi pada penderita sklerosis lateral amiotrofik dan penyakit degeneratif lobus frontotemporal.
  • Demensia paralitik, jenis demensia yang ditemukan oleh Julius Wagner-Jauregg.

Referensi

  • Calleo J, Stanley M (2008). “Anxiety Disorders in Later Life Differentiated Diagnosis and Treatment Strategies”. Psychiatric Times 25 (8).
  • Belay ED, Schonberger LB (2002). “Variant Creutzfeldt–Jakob disease and bovine spongiform encephalopathy”. Clin. Lab. Med. 22 (4): 849–62, v–vi.
  • Neuropathology Group. Medical Research Council Cognitive Function and Aging Study (2001). “Pathological correlates of late-onset dementia in a multicentre, community-based population in England and Wales. Neuropathology Group of the Medical Research Council Cognitive Function and Ageing Study (MRC CFAS)”. Lancet 357 (9251): 169–75.
  • “Dietary niacin and the risk of incident Alzheimer’s disease and of cognitive decline”. Rush Institute for Healthy Aging, Centers for Disease Control and Prevention; Morris MC, Evans DA, Bienias JL, Scherr PA, Tangney CC, Hebert LE, Bennett DA, Wilson RS, Aggarwal N. Diakses tanggal 2010-06-29.
    ^ http://alzheimerindonesia.org/index.php
  • “Recommendations for the diagnosis and management of Alzheimer’s disease and other disorders associated with dementia: EFNS guideline”. Memory Disorders Research Group, Department of Neurology, Rigshospitalet, Copenhagen University Hospital; Waldemar G, Dubois B, Emre M, Georges J, McKeith IG, Rossor M, Scheltens P, Tariska P, Winblad B; EFNS. Diakses tanggal 2010-06-29.
  •  “Cognitive deficits in preclinical Alzheimer’s disease and vascular dementia: patterns of findings from the Kungsholmen Project.”. Karolinska Institutet, Aging Research Center; Bäckman L, Small BJ. Diakses tanggal 2010-06-29.
    ^ (Inggris)”A preclinical phase in vascular dementia: cognitive impairment three years before diagnosis”. Aging Research Center, Division of Geriatric Epidemiology, Neurotec, Karolinska Institutet, and Stockholm Gerontology Research Center; Jones S, Laukka EJ, Small BJ, Fratiglioni L, Bäckman L. Diakses tanggal 2010-06-29.
  • MRI software accurately IDs preclinical Alzheimer’s disease”. Massachusetts General Hospital; Rebekah Moan. Diakses tanggal 2010-06-29.

Gejala dan Penanganan Terkini Penyakit Alzeimer

1465534159932.jpgPenanganan Terkini Penyakit Alzeimer

Alzheimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil. Alzheimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua.Risiko untuk mengidap Alzheimer, meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bermula pada usia 65 tahun, seseorang mempunyai risiko lima persen mengidap penyakit ini dan akan meningkat dua kali lipat setiap lima tahun, kata seorang dokter. Menurutnya, sekalipun penyakit ini dikaitkan dengan orang tua, namun sejarah membuktikan bahwa penyakit pertama yang dikenal pasti menghidap penyakit ini ialah wanita dalam usia awal 50-an. Penyakit Alzheimer paling sering ditemukan pada orang tua berusia sekitar 65 tahun ke atas. Di negara maju seperti Amerika Serikat saat ini ditemukan lebih dari 4 juta orang usia lanjut penderita penyakit Alzheimer. Angka ini diperkirakan akan meningkat sampai hampir 4 kali pada tahun 2050. Hal tersebut berkaitan dengan lebih tingginya harapan hidup pada masyarakat di negara maju, sehingga populasi penduduk lanjut usia juga bertambah. Sedangkan di Indonesia diperkirakan terdapat sedikitnya 5 juta penderita Alzheimer pada tahun 2015. Pada tahap awal perkembangan Alzheimer, penurunan faktor-faktor risiko vaskular dapat menyulitkan diagnosis sindrom ini, namun mengurangi kecepatan perkembangan demensia

Klasifikasi

  • Alzheimer yang disertai demensia. Hingga saat ini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai relasi antara Alzheimer dan demensia vaskular.
    Sebagian ilmuwan beranggapan bahwa demensia vaskular berada pada lintasan dislipidemia aterogenis, khususnya dengan LDL rantai pendek dan jenuh, aterosklerosis karotid, tekanan darah sistolik tinggi dan peningkatan rasio IR-UII (bahasa Inggris: plasma levels of immunoreactive);sedangkan Alzheimer berada pada lintasan lain, yaitu hiposomatomedinemia dan hipogonadisme.
    Ilmuwan yang lain berpendapat bahwa demensia vaskular sebagai patogen yang menyertai Alzheimer pada lintasan radang aterosklerosis,[6] atau bahkan mengemukakan bahwa aterosklerosis merupakan radang yang mencetuskan hipoperfusi pada otak dan berakibat pada Alzheimer.
  • Alzheimer yang disertai ataksia.
    atau kombinasi keduanya.

Patofisiologi

  • Simtoma Alzheimer ditandai dengan perubahan-perubahan yang bersifat degeneratif pada sejumlah sistem neurotransmiter, termasuk perubahan fungsi pada sistem neural monoaminergik yang melepaskan asam glutamat, noradrenalin, serotonin dan serangkaian sistem yang dikendalikan oleh neurotransmiter. Perubahan degeneratif juga terjadi pada beberapa area otak seperti lobus temporal dan lobus parietal, dan beberapa bagian di dalam korteks frontal dan girus singulat, menyusul dengan hilangnya sel saraf dan sinapsis.
  • Sekretase-β dan presenilin-1 merupakan enzim yang berfungsi untuk mengiris domain terminus-C pada molekul AAP dan melepaskan enzim kinesin dari gugus tersebut. Apoptosis terjadi pada sel saraf yang tertutup plak amiloid yang masih mengandung molekul terminus-C, dan tidak terjadi jika molekul tersebut telah teriris. Hal ini disimpulkan oleh tim dari Howard Hughes Institute yang dipimpin oleh Lawrence S. B. Goldstein, bahwa terminus-C membawa sinyal apoptosis bagi neuron.
  • Sinyal apoptosis juga diekspresikan oleh proNGF yang tidak teriris, saat terikat pada pencerap neurotrofin p75NTR, dan distimulasi hormon sortilin.
    Penumpukan plak ditengarai karena induksi apolipoprotein-E yang bertindak sebagai protein kaperon, defiensi vitamin B1 yang mengendalikan[13] metabolisme glukosa serebral seperti O-GlkNAsilasi, dan kurangnya enzim yang terbentuk dari senyawa tiamina seperti kompleks ketoglutarat dehidrogenase-alfa, kompleks piruvat dehidrogenase, transketolase, O-GlcNAc transferase, protein fosfatase 2A, dan beta-N-asetilglukosaminidase. Hal ini berakibat pada peningkatan tekanan zalir serebrospinal, menurunnya rasio hormon CRH, dan terpicunya simtoma hipoglisemia di dalam otak walaupun tubuh mengalami hiperglisemia.
    Selain disfungsi enzim presenilin-1 yang memicu simtoma ataksia, masih terdapat enzim Cdk5 dan GSK3beta yang menyebabkan hiperfosforilasi protein tau, hingga terbentuk tumpukan PHF. Hiperfosforilasi juga menjadi penghalang terbentuknya ligasi antara protein S100beta dan tau, dan menyebabkan distrofi neurita, meskipun kelainan metabolisme seng juga dapat menghalangi ligasi ini.
  • Simtoma hiperinsulinemia dan hiperglisemia juga menginduksi hiperfosforilasi protein tau, dan oligomerasi amiloid-beta yang berakibat pada penumpukan plak amiloid.[24] Namun meski insulin menginduksi oligomerasi amiloid-beta, insulin juga menghambat enzim aktivitas enzim kaspase-9 dan kaspase-3 yang juga membawa sinyal apoptosis, dan menstimulasi sekresi Hsp70 oleh sel LAN5 untuk mengaktivasi program pertahanan sel.
  • Terdapat kontroversi minor dengan dugaan bahwa hiperfosforilasi tersebut disebabkan oleh infeksi laten oleh virus campak, atau Borrelia. Tujuh dari 10 kasus Alzheimer yang diteliti oleh McLean Hospital Brain Bank of Harvard University, menunjukkan infeksi semacam ini.

Faktor risiko

  • pengidap hipertensi yang mencapai usia 40 tahun ke atas
  • Pengidap kencing manis
  • Kurang berolahraga
  • Tingkat kolesterol yang tinggi
  • Faktor keturunan – mempunyai keluarga yang mengidap penyakit ini pada usia 50-an.

Diagnosis

  • Neuropsychological screening tests dapat membantu diagnosis penyakit Alzeheimer. Dalam tes ini, pasien diminta untuk menggambar sesuai dengan contoh. Tes lainnya meliputi mengingat kata-kata, membaca dan mengurutkan angka-angka.
  • PiB-PET scan memperlihatkan banyak amyloid beta (Aβ) di otak penderita Alzeheimer. Pib adalah singkatan untuk Pittsburgh compound B (PiB) yang mana adalah jenis larutan pewarna yang dinjeksikan pada pasien sebelum scan dilakukan. Amyloid beta menyerap PiB; PET scan akan merekam daerah dengan Pib yang berpendar PiB-PET scans sekarang ini digunakan dalam penelitian untuk mendeteksi amyloid beta (Aβ) pada kondisi tahap awal klinis (preclinical phase) (sebelum terjadinya gejala-gejala).

1494627841043_crop_946x128

Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :

  • Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air,
  • Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
  • Kesulitan bicara dan berbahasa
  • Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
  • Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
  • Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
  • Salah meletakkan barang
  • Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
  • Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
  • Hilangnya minat dan inisiatif
  • Orang yang sakit juga kadangkala akan berjalan ke sana sini tanpa sebab dan pola tidur mereka juga berubah. Orang yang sakit akan lebih banyak tidur pada waktu siang dan terbangun pada waktu malam.
  • Secara umum, orang sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia akibat radang paru-paru atau pneumonia. Ini disebabkan, pada waktu itu orang yang sakit tidak dapat melakukan sembarang aktivitas lain.

Simtoma paraklinis

  • Pada otak penderita Alzheimer, ditemukan: penumpukan peptida dengan panjang 42-43 AA yang disebut amiloid-beta, dikelilingi neurita distrofis. Amioid beta merupakan protein iris dari APP (bahasa Inggris: amyloid precursor protein)
    filamen PH yang menumpuk di dalam soma,suatu lesi yang disebut badan Lewyrasio proNGF yang tinggi. ProNGF merupakan prekursor hormon NGF yang sering juga ditemukan memiliki rasio tinggi pada manusia berusia lanjut
    rasio protein S100-beta yang tinggi, sebuah protein yang selalu dijumpai pada fase perkembangan neurita. Interaksi antara protein S100-beta dan tau dianggap merupakan simulator perkembangan neurita.
  • tingginya rasio kemokina CCL2 yang merupakan kemotaksis utama dari monosit
  • gangguan metabolisme glukosa serebral pada area hipokampal, dan hilangnya neurotransmiter kolinergic kortikal, dan rendahnya laju O-GlkNAsilasi pada otak kecil. O-GlkNAsilasi adalah salah satu proses glikosilasi modifikasi paska-translasi dari protein nukleositoplasma dengan beta-N-asetil-glukosamina yang bergantung pada metabolisme glukosa.
  • defisiensi CD36 atau EAAT.

Diagnosis awal

  • Penekanan penelitian Alzeheimer ditujukan untuk diagnosis sebelum gejala-gejala timbul. Sejumlah tes bio-kimia telah dapat melakukan deteksi awal. Sebuah tes yang melibatkan cerebrospinal fluid untuk beta-amyloid atau tau proteins,  keduanya merupakan jumlah tau protein dan phosphorylated tau181P sebagai konsentrasi protein Mencari protein-protein ini menggunakan spinal tap dapat memprediksi awal Alzheimer dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas (sensitivity) antara 94% hingga 100%.
  • Jika digunakan bersamaan dengan teknik pencitraan fungsi syaraf (Functional neuroimaging), dokter dapat mengidentifikasi pasien dengan kehilangan memori yang mana penyakitnya telah berkembang.
  • “Ketidaktepatan diagnosis pada pada tahap awal Alzheimer adalah masalah yang mencolok, karena terdapat lebih dari 100 kondisi yang dapat menyaru penyakit ini. Pada pasien dengan masalah memori yang ringan, tingkat ketepatan adalah barely better than chance,” menurut penelitian periset P. Murali Doraiswamy, MBBS, professor of psychiatry and medicine at Duke Medicine, “Standar emas pasti untuk diagnosis Alzeheimer adalah otopsi, kita butuh cara yang lebih baik untuk melihat ke dalam otak.”

1494627841043_crop_916x138

Menyusul ditemukannya kinom pada manusia, kinase protein telah menjadi prioritas terpenting kedua pada upaya penyembuhan, oleh karena dapat dimodulasi oleh molekul ligan kecil. Peran kinase pada lintasan molekular neuron terus dipelajari, namun beberapa lintasan utama telah ditemukan. Sebuah protein kinase, CK1 dan CK2, ditemukan memiliki peran yang selama ini belum diketahui, pada patologi molekular dari beberapa kelainan neurogeneratif, seperti Alzheimer, penyakit Parkinson dan sklerosis lateral amiotrofik. Pencarian senyawa organik penghambat yang spesifik bekerja pada kedua enzim ini, sekarang telah menjadi tantangan dalam perawatan penyakit tersebut di atas.[

  • Donepezil. Donepezil adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium. Donepezil tersedia dalam bentuk tablet oral. Biasanya diminum satu kali sehari sebelum tidur, sebelum atau sesudah makan. Pemberian  dosis rendah pada awalnya lalu ditingkatkan setelah 4 hingga 6 minggu. Efek samping yang sering terjadi sewaktu minum Donepezil adalah sakit kepala, nyeri seluruh badan, lesu, mengantuk, mual, muntah, diare, nafsu makan hilang, berat badan turun, kram, nyeri sendi, insomnia, dan meningkatkan frekuensi buang air kecil.
  • Rivastigmine. Rivastigmine adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzheimer taraf rendah hingga medium.
    Setelah enam bulan pengobatan dengan Rivastigmine, 25-30% penderita dinilai membaik pada tes memori, pengertian dan aktivitas harian dibandingkan pada pasien yang diberikan plasebo hanya 10-20%. Rivastigmine biasanya diberikan dua kali sehari setelah makan. Karena efek sampingnya pada saluran cerna pada awal pengobatan, pengobatan dengan Rivastigmine umumnya dimulai dengan dosis rendah, biasanya 1,5 mg dua kali sehari, dan secara bertahap ditingkatkan tidak lebih dari 2 minggu. Dosis maksimum biasanya hingga 6 mg dua kali sehari. Jika pasien mengalami gangguan pencernaan yang bertambah parah karena efek samping obat seperti mual dan muntah, sebaiknya minum obat dihentikan untuk beberapa dosis lalu dilanjutkan dengan dosis yang sama atau lebih rendah.
    Sekitar setengah pasien yang minum Rivastigmine menjadi mual dan sepertiganya mengalami muntah minimal sekali, seringkali terjadi pada pengobatan di beberapa minggu pertama pengobatan sewaktu dosis ditingkatkan. Antar seperlima hingga seperempat pasien mengalami penurunan berat badan sewaktu pengobatan dengan Rivastigmine (sekitar 7 hingga 10 poun).
    Seperenam pasien mengalami penurunan nafsu makan. Satu dari lima puluh pasien mengalami pusing. Secara keseluruhan, 15 % pasien (antara sepertujuh atau seperenam) tidak melanjutkan pengobatan karena efek sampingnya.
  • Memantine. Memantin adalah obat yang diminum secara oral untuk mengobati penyakit Alzhaimer taraf Sedang hingga berat dengan mekanisme keja yang berbeda dan unik dengan memperbaiki proses sinyal Glutamat. Obat ini diawali dengan dosis rendah 5 mg setiap minggu dilakukan selama 3 minggu untuk mencapai dosis optimal 20 mg/hari. Untuk pemilihan obat pikun atau obat Alzheimer yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

Referensi

  1. “Defective Cell Transport Suggested in Alzheimer’s Disease”. Howard Hughes Medical Institute; Lawrence S. B. Goldstein. Diakses tanggal 2010-05-“Influence of Vascular Disease on Cognitive Performance in the Preclinical and Early Phases of Alzheimer’s Disease.”. Aging Research Center, Department of Neurobiology, Care Sciences, and Society, Karolinska Institutet; Laukka EJ, Fratiglioni L, Bäckman L. Diakses tanggal 2010-06-05
  2. Increased plasma urotensin-II and carotid atherosclerosis are associated with vascular dementia”. Division of Diabetes, Metabolism, and Endocrinology, Department of Medicine, Showa University School of Medicine; Ban Y, Watanabe T, Suguro T, Matsuyama TA, Iso Y, Sakai T, Sato R, Idei T, Nakano Y, Ota H, Miyazaki A, Kato N, Hirano T, Ban Y, Kobayashi Y. Diakses tanggal 2010-07-08
  3. Alzheimer’s disease and atherosclerosis: passers-by or brothers?”. Department of Cardiology, The Second Xiangya Hospital of Central South University; Xing Y, Zhao S, Xiang R. Diakses tanggal 2010-07-08
  4. “Circle of willis atherosclerosis is a risk factor for sporadic Alzheimer’s disease”. Longtine Center for Molecular Biology and Genetics, Sun Health Research Institute; Roher AE, Esh C, Kokjohn TA, Kalback W, Luehrs DC, Seward JD, Sue LI, Beach TG. Diakses tanggal 2010-07-08
  5. Ataxic variant of Alzheimer’s disease caused by Pro117Ala PSEN1 mutation”. Département de Neurologie, Hôpital Civil, Centre Hospitalier Universitaire de Strasbourg; Dr M Anheim, et al. Diakses tanggal 2010-06-28
  6. Neuropathologic changes in Alzheimer’s disease”. Division of Neural Systems, Memory & Aging, The University of Arizona; Wenk GL. Diakses tanggal 2010-06-29
  7. “Neuroinflammation in Alzheimer’s disease: protector or promoter?”. Institute ofNeuroimmunology, Slovak Academy of Sciences; Zilka N, Ferencik M, Hulin I. Diakses tanggal 2010-06-29
  8. Preservation of cortical sortilin protein levels in MCI and Alzheimer’s disease”. Department of Neurological Sciences, Rush University Medical Center; Mufson EJ, Wuu J, Counts SE, Nykjaer A. Diakses tanggal 2010-06-27
  9. Alzheimer’s disease: lesions and their progression]”. Laboratoire de Neuropathologie R. Escourolle, Hôpital de La Salpêtrière; Duyckaerts C, Colle MA, Delatour B, Hauw JJ. Diakses tanggal 2010-06-27
  10. Thiamine attenuates the hypertension and metabolic abnormalities in CD36-defective SHR: uncoupling of glucose oxidation from cellular entry accompanied with enhanced protein O-GlcNAcylation in CD36 deficiency”. Third Division, Department of Internal Medicine, Osaka Medical College; Tanaka T, Sohmiya K, Kono T, Terasaki F, Horie R, Ohkaru Y, Muramatsu M, Takai S, Miyazaki M, Kitaura Y. Diakses tanggal 2010-06-29
  11. Powerful beneficial effects of benfotiamine on cognitive impairment and beta-amyloid deposition in amyloid precursor protein/presenilin-1 transgenic mice”. Department of Neurology, Zhongshan Hospital & Shanghai Medical College, State Key Laboratory of Medical Neurobiology, Fudan University; Pan X, Gong N, Zhao J, Yu Z, Gu F, Chen J, Sun X, Zhao L, Yu M, Xu Z, Dong W, Qin Y, Fei G, Zhong C, Xu TL. Diakses tanggal 2010-06-29.
« Entri Lama