Author Archives: The Doctor Indonesia

Hasil Laboratorium Pemeriksaan Darah Rutin dan Darah Lengkap

Hasil Laboratorium Pemeriksaan Darah Rutin 

Pemeriksaan Nilai Rujukan
Hemoglobin
Neonatus 17-22 gm/dl
0-7 hari 15-20 gm/dl
7-30 hari 11-15gm/dl
Ibu Hamil 11-15gm/dl
Dewasa Laki-laki Perempuan 14-18 gm/dl 12-16 gm/dl
Leukosit 5000-10.000 ul
   
Hitung Jenis  
Basofil 0-1
Easinofil 1-3
N.Batang 2-6
N. Segmen 50-70
Limfosit 20-40
Monosit 2-8
Hematokrit Laki-laki Perempuan 40-48 vol% 37-43 vol%
Trombosit 150.000- 400.000 /ul

Hasil Laboratorium Pemeriksaan Darah Lengkap

Ukuran Satuan Nilai Rujukan
Eritrosit (sel darah merah) juta/µl 4,0 – 5,0 (P) 4,5 – 5,5 (L)
Hemoglobin (Hb) g/dL 12,0 – 14,0 (P) 13,0 – 16,0 (L)
Hematokrit % 40 – 50 (P) 45 – 55 (L)
Hitung Jenis
Basofil % 0,0 – 1,0
Eosinofil % 1,0 – 3,0
Batang1 % 2,0 – 6,0
Segmen1 % 50,0 – 70,0
Limfosit % 20,0 – 40,0
Monosit % 2,0 – 8,0
Laju endap darah (LED) mm/jam < 15 (P) < 10 (L)
Leukosit (sel darah putih) 103/µl 5,0 – 10,0
MCH/HER pg 27 – 31
MCHC/KHER g/dL 32 – 36
MCV/VER fl 80 – 96
Trombosit 103/µl 150 – 400

Iklan

Permasalahan dan Penanganan Terkini Abortus atau Keguguran

Permasalahan dan Penanganan Terkini Abortus atau Keguguran

  • Terhentinya proses kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.
  • Sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 22 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. 

Penyebab

  • Sebagian besar disebabkan karena kelainan kromosom hasil konsepsi.
  • Beberapa penyebab lain adalah trauma, kelainan alat kandungan dan sebab yang tidak  diketahui.  



  • Adanya gejala kehamilan (terlambat haid, mual/ muntah pada pagi hari) yang disertai perdarahan pervaginam (mulai bercak sampai bergumpal) dan / atau nyeri perut bagian bawah, mengarahkan ke diagnosis abortus.
  • Abortus Imminens (Ancaman Keguguran) Ditandai dengan perdarahan pervaginam sedikit, nyeri perut tidak ada atau sedikit. Belum ada pembukaan serviks
  • Abortus Insipiens (Keguguran sedang berlangsung) Perdarahan pervaginam banyak (dapat sampai bergumpal-gumpal), nyeri perut hebat, terdapat pembukaan serviks. Kadang-kadang tampak jaringan hasil konsepsi di ostium serviks.
  • Abortus Inkompletus (Keguguran tidak lengkap) Perdarahan pervaginam banyak, nyeri perut sedangsampai hebat. Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi sebagian, ostium serviks bisa masih terbuka atau mulai tertutup.
  • Abortus Kompletus (Keguguran lengkap) Perdarahan pervaginam mulai berkurang – berhenti, tanpa nyeri perut, ostium serviks sudah tertutup. Riwayat keluar jaringan hasil konsepsi utuh, seluruhnya.
  • Missed Abortion (Keguguran yang tertahan) Abortus dengan hasil konsepsi tetap tertahan intra uterin selama 2 minggu atau lebih. Riwayat perdarahan pervaginam sedikit, tanpa nyeri perut, ostium serviks masih tertutup. Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih kecil) dari usia gestasi yang seharusnya.

Diagnosis

  • Terlambat Haid (amenorhea) kurang dari 22 minggu.
  • Perdarahan pervaginam, mungkin disertai jaringan hasil konsepsi.
  • Rasa nyeri di daerah atas simpisis.
  • Pembukaan ostium serviks.

Abortus Imminens

  • Tirah baring sedikitnya 2 – 3 hari (sebaiknya rawat inap)
  • Pantang senggama
  • Setelah tirah baring 3 hari, evaluasi ulang diagnosis, bila masih abortus imminens tirah baring di lanjutkan
  • Mobilisasi bertahap (duduk – berdiri – berjalan) dimulai apabila diyakini tidak ada perdarahan pervaginam 24 jam

Abortus tingkat selanjutnya

  • Bila mungkin lakukan stabilisasi keadaan umum dengan pembebasan jalan nafas, pemberian oksigenasi (O2 2 – 4 liter per menit), pemasangan cairan intravena kristaloid (Ringer Laktat / Ringer Asetat / NaCl 0,9 %) sesuai pedoman resusitasi.
  • Pasien dirujuk setelah tanda vital dalam batas normal ke rumah sakit

 Perawatan Abortus Imminens

  • Abortus Insipiens
  • Antibiotika profilaksis : Ampisilin i.v sebelum tindakan kuretase.
  • Perlu segera dilakukan pengeluaran hasil konsepsi dan pengosongan kavum uteri. Dapat dilakukan dengan abortus tang, sendok kuret, dan kuret hisap
  • Uterotonika : Oksitosin 10 IU i.m

Abortus Inkompletus Perlu segera dilakukan pengosongan kavum uteri. Dapat dilakukan dengan abortus tang, sendok kuret, dan kuret hisap Segera atasi kegawatdaruratan :

  1. Oksigenisasi 2 – 4 liter/menit
  2. Pemberian cairan i.v kristaloid (NaCl 0,9%, Ringer Laktat, Ringer Asetat)
  3. Transfusi bila Hb kurang dari ‘ 3d 8 g/dl

Abortus Kompletus

  • Evaluasi adakah komplikasi abortus (anemia dan infeksi)
  • Apabila dijumpai komplikasi, penatalaksanaan disesuaikan
  • Apabila tanpa komplikasi, tidak perlu penatalaksanaan khusus.

Missed Abortion

  • Evaluasi hematologi rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit) dan uji hemostasis (fibrinogen, waktu perdarahan, waktu pembekuan).
  • Bila terjadi gangguan faal hemostasis dan hipofibrinogenemia, segera rujuk di rumah sakit yang mampu untuk transfusi trombosit / Buffy-Coat dan komponen darah lainnya.
  • Hasil konsepsi perlu dievakuasi dari kavum uteri. Dilaksanakan setelah  dipastikan tidak terdapat gangguan faal hemostasis.



    Cara Penularan Penyakit Difteri

    Cara Penularan Penyakit Difteri

    Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

    • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
    • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
    • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.

    Cara Penularan

    • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
    • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
    • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
    • Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
    • Difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

    Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya


    Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya

    Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

    Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya

    • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
    • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
    • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.
    • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
    • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas
    • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
    • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
    • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

     

    Penanganan Terkini Difteri

    Penanganan Terkini Difteri

    Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang mengerikan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.

    Difteri menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.

    • Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
    • Demam dan menggigil.
    • Sakit tenggorokan dan suara serak.
    • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
    • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
    • Lemas dan lelah.
    • Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah.
    • Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

    Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

    Penularan Difteri

    • Penyebaran bakteri difteri dapat terjadi dengan mudah dan yang utama adalah melalui udara saat seorang penderita bersin atau batuk. Selain itu, ada beberapa metode penularan lain yang perlu diwaspadai. Antara lain melalui:
    • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, misalnya mainan atau handuk.
    • Sentuhan langsung pada bisul akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
    • Kontak langsung dengan hewan-hewan yang sudah terinfeksi, misalnya sapi.
    • Meminum susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.
    • Makanan yang terbuat dari susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.
    • Bakteri difteri akan memproduksi toksin yang akan membunuh sel-sel dalam tenggorokan. Sel-sel yang mati tersebutlah yang akan membentuk membran abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, toksin juga dapat menyebar lewat darah dan menyerang jantung serta sistem saraf.
    • Orang yang sudah menerima vaksinasi masih bisa terinfeksi penyakit ini. Namun mereka biasanya tidak menunjukkan gejala saat sedang terinfeksi. Tetapi Anda harus tetap waspada karena mereka juga dapat menularkan difteri.

    wp-1494710045009.

    • Diagnosis awal difteri biasanya terlihat dari gejalanya, misalnya sakit tenggorokan yang disertai pembentukan membran abu-abu.
    • Pengambilan sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau bisul untuk diperiksa di laboratorium.

    wp-1494710015769.

    • Perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan dua jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.
    • Antibiotik akan membantu tubuh untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.
    • Sebagian besar penderita tidak akan menularkan bakteri difteri lagi setelah meminum antibiotik selama dua hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan proses pengobatan antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama dua minggu. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.
    • Sementara antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter biasanya akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.
    • Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.
    • Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.
    • Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

    Komplikasi

    • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan hampir satu dari lima penderita difteri balita dan berusia di atas 40 tahun yang meninggal dunia diakibatkan oleh komplikasi.
    • Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
    • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu inflamasi pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
    • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan inflamasi otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung dan kematian mendadak.
    • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Masalah saluran kemih dapat menjadi indikasi awal dari kelumpuhan saraf yang akan memengaruhi diagfragma. Paralisis ini akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi apa pun umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
    • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal. Sebagian besar komplikasi ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

    1511070437380_crop_959x153.jpg

    • Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.
    • Vaksin DPT adalah salah satu dari lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan lima kali pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 1,5-2 tahun, dan lima tahun.
    • Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidupnya. Tetapi vaksinasi ini dapat diberikan kembali pada saat anak memasuki masa remaja atau tepatnya saat berusia 11-18 tahun untuk memaksimalisasi keefektifannya.
    • Penderita difteri yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.

    Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

    Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

    Tetralogi Fallot

    Tetralogi Fallot adalah gabungan dari:

    • Defek septum ventrikel (lubang diantara ventrikel kiri dan kanan)
    • Stenosis katup pulmoner (penyempitan pada katup pulmonalis)
    • Transposisi aorta 
    • Hipertrofi ventrikel kanan (penebalan otot ventrikel kanan).

    • Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Biasanya melibatkan berbagai faktor.
    • Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
      • Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya
      • Gizi yang buruk selama hamil
      • Ibu yang alkoholik
      • Usia ibu diatas 40 tahun
      • Ibu menderita diabetes.
    • Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down.
    • Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas.
    • Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis.
    • Tetralogi Fallot terjadi pada sekitar 50 dari 100.000 bayi dan merupakan kelainan jantung bawaan nomor 2 yang paling sering terjadi.

    Gejalanya bisa berupa:

    • Bayi mengalami kesulitan untuk menyusu
    • Berat badan bayi tidak bertambah
    • Pertumbuhan anak berlangsung lambat
    • Perkembangan anak yang buruk
    • Sianosis
    • Jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang karena kulit atau tulang di sekitar kuku jari tangan membesar)
    • Sesak nafas jika melakukan aktivitas
    • Setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok.

    Serangan sianosis biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan), dimana tiba-tiba sianosis memburuk sehingga anak menjadi sangat biru, mengalami sesak nafas dan bisa pingsan.

    Pada pemeriksaan dengan stetoskop biasanya akan terdengar murmur (bunyi jantung yang abnormal).

    Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

    • EKG
    • Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah merah dan hematokrit
    • Rontgen dada menunjukkan ukuran hati yang kecil
    • Kateterisasi jantung
    • Ekokardiogram.

    • Pada serangan sianosis, diberikan oksigen dan morfin. Untuk mencegah serangan lainnya, untuk sementara waktu bisa diberikan Propanolol.
    • Pembedahan untuk memperbaiki kelainan jantung ini biasanya dilakukan ketika anak berumur 3-5 tahun (usia pra-sekolah).
    • Pada kelainan yang lebih berat, pembedahan bisa dilakukan lebih awal.

    Pembedahan yang dilakukan terdiri dari 2 tahap:

    1. Pembedahan sementara Pembuatan shunt bisa terlebih dahulu dilakukan pada bayi yang kecil dan sangat biru, agar aliran darah ke paru-paru cukup. Shunt dibuat diantara aorta dan arteri pulmonalis. Setelah bayi tumbuh cukup besar, dilakukan pembedahan perbaikan untuk menutup kembali shunt tersebut.
    2. Pembedahan perbaikan terdiri dari: – penutupan VSD – pembukaan jalur aliran ventrikel kanan dengan cara membuang sebagian otot yang berada di bawah katup pulmonalis – perbaikan atau pengangkatan katup pulmonalis – pelebaran arteri pulmonalis perifer yang menuju ke paru-paru kiri dan kanan. Kadang diantara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dipasang sebuah selang (perbaikan Rastelli).

    Jika tidak dilakukan pembedahan, penderita biasanya akan meninggal pada usia 20 tahun.

    Orang tua dari anak-anak yang menderita kelainan jantung bawaan bisa diajari tentang cara-cara menghadapi gejala yang timbul:

    • Menyusui atau menyuapi anak secara perlahan
    • Memberikan porsi makan yang lebih kecil tetapi lebih sering
    • Mengurangi kecemasan anak dengan tetap bersikap tenang
    • Menghentikan tangis anak dengan cara memenuhi kebutuhannya
    • Membaringkan anak dalam posisi miring dan kaki ditekuk ke dada selama serangan sianosis.

      Difteri Mewabah Di Indonesia, Inilah Gejala dan Komplikasinya

      Difteri Mewabah Di Indonesia, Inilah Gejala dan Komplikasinya

      Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

      • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
      • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
      • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.

      Cara Penularan

      • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
      • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
      • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
      • Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
      • Difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

      1511710098604_crop_610x66-1.jpg

      • Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari.
      • Ciri yang membedakan difteri dengan gejala flu biasa adalah adanya selaput tebal yang menyelimuti tenggorokan yang bisa menghalangi jalannya pernapasan sehingga penderita kesulitan bernapas. Namun bila keadaan semakin parah, difteri dapat menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf. Tentu saja penyakit ini berakibat fatal dan bahkan menyebabkan kematian.
      • Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi: Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
      • Demam dan menggigil.
      • Sakit tenggorokan dan suara serak.
      • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
      • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
      • Lemas dan lelah.
      • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

      Komplikasi Difteri

      • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
      • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas
      • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
      • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
      • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

       

      « Entri Lama