Author Archives: The Doctor Indonesia

Penyebab dan Penanganan Kebotakan atau Alopecia

Penyebab dan Penanganan Kebotakan

Botak atau istilah medisnya alopecia adalah kerontokan rambut yang umumnya bersifat permanen. Salah satu jenisnya adalah alopecia areata yang akan dibahas dalam artikel ini. Alopecia areata merupakan penyakit autoimun, yaitu kondisi di mana sistem imun menyerang tubuhnya sendiri. Karena itu, kondisi ini tidak termasuk penyakit yang menular.

Para pakar menduga bahwa faktor keturunan memiliki pengaruh besar sebagai pemicu kondisi ini. Jika memiliki anggota keluarga yang mengalami kebotakan, Anda berisiko mengidap kondisi yang sama. Kondisi autoimun lain seperti lupus atau diabetes tipe 1 juga berpotensi meningkatkan risiko kebotakan.

  • Kebotakan yang dialami bisa terjadi pada rambut di kepala maupun bagian tubuh lain. Tingkat keparahannya juga berbeda-beda, ada pitak di satu tempat dan ada yang sekaligus di beberapa bagian.
  • Gejala awal kebotakan adalah munculnya pitak pada rambut di kepala atau bagian lain, seperti alis atau jenggot. Ukuran pitak yang terbentuk juga beragam. Indikasi ini umumnya akan disertai peningkatan pada jumlah rambut yang rontok.
  • Selain rambut, kebotakan juga terkadang berpengaruh pada kuku jari tangan dan kaki. Contohnya, muncul bintik-bintik atau garis putih pada kuku, kuku yang berubah kusam dan kasar, serta ujung kuku yang bergelombang.

  • Kondisi ini umumnya dapat didiagnosis melalui pola kerontokan yang terjadi. Pemeriksaan akar rambut dan biopsi kulit juga terkadang akan dilakukan untuk memastikan diagnosis. Jika dibutuhkan, tes darah akan dianjurkan guna mengetahui apakah pasien mengidap penyakit autoimun lain.
  • Kebotakan termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Ada yang mengalaminya secara permanen, tapi ada juga rambut pengidap yang bisa tumbuh kembali.

  • Penanganan yang biasanya dijalani oleh pasien bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan rambut tersebut. 
  • Pemwbwrian Minoxidil. Sebagian besar pengidap baru merasakan manfaat obat ini setelah menggunakannya selama kira-kira empat bulan.
  • Kortikosteroid. Obat ini akan menekan sistem kekebalan tubuh dan tersedia dalam bentuk obat suntik, oles, dan minum. Sebagian besar pengidap yang menggunakan obat ini akan merasakan dampaknya dalam beberapa bulan.
  • Anthralin. Sama seperti kortikosteroid, obat ini akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Setelah dioles dan didiamkan selama maksimal satu jam, anthralin harus dicuci bersih agar kulit tidak mengalami iritasi.
  • Di samping penanganan medis, kebotakan juga bisa ditangani dengan wig (rambut palsu) yang berasal dari rambut asli maupun sintetis. Ini merupakan langkah paling praktis karena jenis serta bentuk wig yang tersedia juga bermacam-macam. Selain praktis, penggunaan wig dapat meningkatkan kepercayaan diri pengidap kebotakan yang sudah memengaruhi penampilan mereka.

Iklan

Gejala dan Penanganan Depresi

Gejala dan Penanganan Depresi

Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.

Semua orang pernah merasa sedih, tapi ketika kita mengalami depresi, suasana hati yang sedih berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Kondisi ini akan sangat memengaruhi perasaan, perilaku, dan pola berpikir.

Banyak orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau secara langsung.

Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri.

Menurut catatan WHO, setidaknya 350 juta orang mengalami depresi di dunia. Masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.

Terdapat hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi. Diperkirakan dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu orang dari mereka berakhir tewas.


Gejala dan juga pengaruh depresi berbeda-beda pada berbagai orang. Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi yang muncul akibat depresi:

  • Kehilangan selera untuk menikmati hobi.
  • Merasa bersedih secara berkepanjangan.
  • Mudah merasa cemas.
  • Merasa hidup tidak ada harapan.
  • Mudah menangis.
  • Merasa sangat bersalah.
  • Tidak percaya diri.
  • Menjadi sangat sensitif atau mudah marah terhadap orang di sekitar.
  • Tidak ada motivasi untuk melakukan apa pun.

Gejala fisik akibat depresi:

  • Badan selalu merasa lelah.
  • Gangguan pada pola tidur.
  • Merasakan berbagai rasa sakit.
  • Tidak berselera untuk melakukan hubungan seksual.
  • Tanpa penanganan dan pengobatan yang tepat, depresi bisa mengganggu hubungan dengan orang di sekitar Anda. Untuk depresi yang berat atau parah, depresi bisa berakibat pada hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan untuk bunuh diri.
  • Ketika merasakan beberapa gejala depresi yang bertahan lebih dari beberapa hari, segera menemui dokter agar proses pemulihan bisa dimulai dan dilakukan sepenuhnya.

Penyebab 

  • Tidak ada satu pun penyebab depresi secara spesifik. Depresi terpicu oleh kombinasi beberapa faktor. Jika di dalam riwayat kesehatan keluarga Anda terdapat orang yang menderita depresi, maka terdapat kecenderungan bagi Anda untuk mengalaminya juga. 
  • Kejadian tragis atau signifikan seperti kehilangan seseorang atau pun pekerjaan.
  • Melahirkan.
  • Masalah keuangan.
  • Terisolasi secara sosial.
  • Trauma masa kecil.
  • Ketergantungan terhadap narkoba dan/atau alkohol.
  • Selain hal-hal di atas, beberapa kondisi medis juga bisa memicu depresi pada penderitanya seperti penyakit jantung koroner, kelenjar tiroid yang kurang aktif, dan akibat cedera pada kepala sebelumnya.

  • Teknik pengobatan dan perawatan depresi sangat tergantung kepada jenis dan penyebab dari depresi yang dialami. Terdapat berbagai jenis obat antidepresan yang bisa digunakan dan beberapa penanganan yang bisa dilakukan sendiri.
  • Perubahan hidup seperti sering berolahraga dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol dapat memberikan keuntungan bagi penderita depresi. Anda juga bisa bergabung dengan kelompok-kelompok terapi untuk berbagi cerita dan saling memberi dukungan.
  • Akibat dari depresi yang paling parah adalah kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Cobalah untuk selalu berbagi cerita kepada orang-orang terdekat Anda tentang masalah yang sedang dihadapi. Penderita juga sangat disarankan untuk menemui dokter terutama jika depresi telah berlangsung lama atau parah. Makin dini penanganan depresi, kemungkinan pemulihan secara menyeluruh bisa didapatkan.

Gejala dan Penanganan Batu Kandung Kemih

Gejala dan Penanganan Batu Kandung Kemih

Batu kandung kemih atau bladder calculi adalah batu yang terbentuk dari endapan mineral yang ada di dalam kandung kemih. Ukuran batu kandung kemih sangat bervariasi dan semua orang punya risiko untuk memiliki batu kandung kemih. Tapi laki-laki lanjut usia, biasanya lebih dari 52 tahun, lebih sering mengalaminya, terutama mereka yang menderita pembesaran prostat.

Saluran urine bisa tersumbat oleh batu kandung kemih. Terhalangnya saluran urine tersebut bisa menyebabkan rasa nyeri saat buang air kecil, dan kesulitan berkemih atau tidak bisa berkemih sama sekali.

Infeksi dan komplikasi lainnya bisa saja terjadi jika batu kandung kemih tidak ditangani. Biasanya, Anda memerlukan bantuan dokter untuk mengeluarkan batu kandung kemih dari tubuh. Namun batu kandung kemih berukuran kecil bisa saja keluar bersamaan dengan urine.

  • Beberapa gejala dirasakan mayoritas penderita batu kandung kemih karena batu menyumbat saluran urine atau hanya melukai dinding kandung kemih. 
  • Rasa nyeri saat buang air kecil.
  • Darah dalam urine.
  • Urine terlihat lebih pekat dan gelap.
  • Kesulitan buang air kecil.
  • Keinginan buang air kecil semakin sering.
  • Buang air kecil tidak lancar atau tersendat-sendat
  • Perut bagian bawah terasa nyeri.
  • Penis terasa tidak nyaman atau sakit.
  • Pada anak-anak ada dua gejala tambahan batu kandung kemih yaitu ereksi kuat dan menyakitkan yang tidak ada hubungannya dengan rangsangan seksual pada anak laki-laki dan mengompol.
  • Bila ukuran batu kandung kemih bisa cukup kecil untuk bisa keluar bersama dengan urine, kadang batu kandung kemih tidak bergejala. Segera berkonsultasi dengan dokter jika  merasa ada perubahan frekuensi buang air kecil, darah pada cairan urine Anda, dan rasa sakit yang kuat di bagian perut.

Penyebab 

  • Ketidakmampuan untuk membuang seluruh urine dari dalam kandung kemih menjadi penyebab utama terbentuknya batu dalam kandung kemih. Mineral dalam sisa urine di kandung kemih akan mengendap dan kemudian mengeras serta mengkristal menjadi batu. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan terbentuknya batu kandung kemih, yaitu:
  • Pembengkakan. Terbentuknya batu kandung kemih bisa terpicu oleh  bengkaknya kandung kemih. Pembengkakan ini disebabkan oleh infeksi saluran kemih dan terapi radiasi di area panggul.
  • Pembesaran prostat. Kelenjar prostat pada kebanyakan pria berusia di atas 50 tahun akan membesar dan menekan saluran kemih serta menghalangi aliran normal urine dari kandung kemih. Hal ini menyebabkan risiko terbentuknya batu kandung kemih membesar.
  • Sistokel. Ini terjadi pada wanita yang mana salah satu area dinding kandung kemih melemah atau mengendur dan jatuh ke arah vagina. Kondisi ini akan menjebak aliran urine sehingga urine mengendap membentuk batu kandung kemih.
  • Alat-alat medis. Kateter urine atau alat KB, kadang bisa menjadi penyebab terbentuknya batu kandung kemih. Mineral dalam urine sering mengkristal di permukaan alat-alat medis tersebut.
  • Diet. Risiko terbentuknya batu kandung kemih akan lebih tinggi ketika diet tinggi lemak, gula, atau garam dilakukan dan asupan vitamin A dan B rendah. Kurang minum air juga bisa meningkatkan risiko terbentuknya batu kandung kemih.
  • Rusaknya Saraf Kandung Kemih. Ketika saraf pengontrol kandung kemih rusak, maka urine bisa tidak sepenuhnya dibuang keluar tubuh. Kondisi rusaknya saraf inilah yang biasa disebut kandung kemih neurogenik. Kerusakan ini bisa disebabkan cedera serius pada tulang belakang atau akibat penyakit saraf seperti spina bifida.
  • Batu ginjal. Karena proses pembentukannya yang berbeda, batu ginjal tidak sama dengan batu kandung kemih. Tapi biasanya batu ginjal berukuran kecil bisa turun masuk ke dalam kandung kemih dan menjadi batu kandung kemih.
  • Divertikel kandung kemih. Kondisi yang mana terbentuknya kantong pada dinding kandung kemih saat lahir. Kantong kemih tambahan ini juga bisa terbentuk akibat infeksi atau pembesaran prostat. Hal ini menyebabkan pengidap divertikel kandung kemih kesulitan untuk mengosongkan urine dan terbentuk batu kandung kemih.
  • Operasi pembesaran kandung kemih. Lima persen orang yang menjalani operasi pembesaran kandung kemih akan mengidap batu kandung kemih.


Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dokter untuk menentukan apakah seseorang memiliki batu kandung kemih, yaitu:

  • Spiral CT Scan. Dianggap sebagai tes paling tajam untuk mendeteksi batu kandung kemih. Spiral CT Scan bisa mendeteksi berbagai jenis batu kandung kemih dengan ukuran kecil sekalipun.
  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa bagian perut bawah untuk melihat apakah kandung kemih membesar.
  • Pencitraan Sinar-X. Menggunakan bantuan sinar-X untuk memeriksa kandung kemih memang bisa mendeteksi batu kandung kemih, namun beberapa tipe batu tidak dapat dideteksi oleh sinar-X. Pencitraan sinar-X juga bisa dikombinasikan dengan pemeriksaan pyelogram intravena, yang menggunakan suntikan senyawa kontras ke urat nadi. Zat kontras akan  mengalir ke ginjal, ureter, serta kandung kemih. Zat ini memberi warna pada saluran urine agar bisa terlihat saat pencitraan sinar-X.
  • Analisis urine. Dokter akan meminta contoh cairan urine Anda dan memeriksa jumlah kandungan darah, bakteri dan mineral yang mengkristal. Pemeriksaan urine juga dapat membantu mendeteksi infeksi saluran kemih yang bia menjadi penyebab batu kandung kemih.

Ultrasound. Tes dengan memanfaatkan gelombang suara i6ni juga bisa membantu dokter mengetahui posisi batu kandung kemih.

  • Jika menurut diagnosis, batu yang ada di dalam kandung kemih berukuran cukup kecil mungkin dokter akan menyarankan untuk minum air putih 1200 mililiter sehari. Tujuannya agar batu kandung kemih tersebut ikut terbawa keluar oleh urine. Namun jika ukurannya cukup besar ada beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan batu kandung kemih dari tubuh.
  • Tindakan cystolitholapaxy untuk menghancurkan batu di dalam kandung kemih hingga menjadi kepingan kecil dengan laser, ultrasound, atau alat mekanis. Setelah batu menjadi kepingan kecil, dokter akan mengeluarkannya bersamaan dengan urine. Penderita akan berisiko terkena infeksi dan cedera pada kandung kemih jika menggunakan prosedur ini. Dokter akan memberikan antibiotik sebelum prosedur dimulai untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Pembedahan. Prosedur pembedahan ini dilakukan jika batu kandung kemih terlalu besar dan terlalu keras untuk dikeluarkan dengan cara cystolitholapaxy.
  • Sepuluh persen pasien bedah batu kandung kemih memiliki risiko komplikasi infeksi kandung kemih dan uretra. Umumnya dokter akan memberikan antibiotik jika muncul gejala infeksi kandung kemih dan uretra.
  • Karena air putih mampu melarutkan endapan mineral dalam kandung kemih, disarankan agar minum banyak air mineral untuk mencegah pembentukan batu kandung kemih. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui jumlah konsumsi air yang cukup, karena jumlah air tergantung dari ukuran tubuh, aktivitas, usia, dan tingkat kesehatan masing-masing orang.

Gejala dan Penanganan Batu Ginjal

Gejala dan Penanganan Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah suatu kondisi ketika material keras yang menyerupai batu terbentuk di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam darah yang disaring oleh ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu.

Pada sebagian besar kasus, penyakit batu ginjal dialami oleh orang-orang yang berusia 30-60 tahun. Diperkirakan 10 persen wanita dan 15 persen pria pernah mengalami kondisi ini selama hidup mereka.

Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan jenisnya, batu ginjal dibagi menjadi empat, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.

  • Gejala akibat batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar dari tubuh secara alami melalui ureter dengan mudah. Ureter adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.
  • Gejala akibat batu ginjal baru bisa terasa jika batu berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter. Batu yang besar akan bergesekan dengan lapisan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Oleh sebab itu, urine kadang bisa mengandung darah. Selain mengiritasi ureter, batu ginjal juga bisa tersangkut di dalam ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urine) sehingga terjadi akumulasi bakteri dan bisa menyebabkan pembengkakan akibat infeksi. Gejala batu ginjal yang bisa muncul apabila batu bergesekan dengan ureter di antaranya adalah nyeri pada pinggang, perut bagian bawah atau samping, dan selangkangan yang dapat disertai mual.
  • Sedangkan gejala yang bisa dirasakan jika penderita batu ginjal mengalami infeksi ginjal di antaranya urine tampak keruh dan berbau tidak sedap, badan lemas, menggigil, dan demam tinggi.

Penderita batu ginjal di Indonesia

  • Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) pada tahun 2013, diperkirakan prevalensi penderita yang terdiagnosa batu ginjal untuk umur di atas 15 tahun adalah sebesar 0,6 persen dari total penduduk Indonesia. Lima provinsi yang menduduki posisi tertinggi masalah penyakit batu ginjal di antaranya adalah DI Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

  • Dalam mendiagnosis batu ginjal, berdasarkan riwayat keluhan pasien mengenai seputar gejala-gejala yang telah dialami. Dokter juga bisa menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
  • Setelah keterangan dikumpulkan, dokter biasanya akan melakukan sejumlah tes untuk memperkuat bukti. Tes-tes tersebut bisa berupa pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG, rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU)

  • Pengobatan penyakit batu ginjal yang dilakukan tergantung kepada ukuran dari batu. Jika batu ginjal masih tergolong kecil atau menengah, serta masih dapat melewati saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk minum air putih saja sesuai takaran yang disarankan. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya. Apabila gejala yang dirasakan oleh pasien cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, misalnya acetaminophen, ibuprofen atau obat anti radang non steroid.
  • Penanganan batu ginjal yang dengan prosedur khusus (misalnya dengan energi laser, ultrasound, atau operasi) biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien.

Pencegahan 

  • Cara mencegah batu ginjal sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu minum cukup air putih tiap hari dan membatasi konsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti zat oksalat, suplemen kalsium, dan protein hewani.
  • Selain dengan minum cukup air dan membatasi asupan zat-zat tertentu, pencegahan batu ginjal juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Biasanya langkah ini dianjurkan untuk mencegah kambuh bagi mereka yang sebelumnya pernah menderita batu ginjal.

Gejala dan Penanganan Batu Ginjal

Gejala dan Penanganan Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal atau nefrolitiasis adalah suatu kondisi ketika material keras yang menyerupai batu terbentuk di dalam ginjal. Material tersebut berasal dari sisa zat-zat limbah di dalam darah yang disaring oleh ginjal yang kemudian mengendap dan mengkristal seiring waktu.

Pada sebagian besar kasus, penyakit batu ginjal dialami oleh orang-orang yang berusia 30-60 tahun. Diperkirakan 10 persen wanita dan 15 persen pria pernah mengalami kondisi ini selama hidup mereka.

Endapan batu di dalam ginjal bisa disebabkan oleh makanan atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Berdasarkan jenisnya, batu ginjal dibagi menjadi empat, yaitu batu kalsium, batu asam urat, batu struvit, dan batu sistin.

  • Gejala akibat batu ginjal biasanya tidak akan dirasakan penderitanya jika batu ginjal berukuran sangat kecil sehingga bisa keluar dari tubuh secara alami melalui ureter dengan mudah. Ureter adalah saluran yang menyambungkan ginjal dengan kandung kemih.
  • Gejala akibat batu ginjal baru bisa terasa jika batu berukuran lebih besar dari diameter saluran ureter. Batu yang besar akan bergesekan dengan lapisan dinding ureter sehingga menyebabkan iritasi dan bahkan luka. Oleh sebab itu, urine kadang bisa mengandung darah. Selain mengiritasi ureter, batu ginjal juga bisa tersangkut di dalam ureter atau uretra (saluran akhir pembuangan urine) sehingga terjadi akumulasi bakteri dan bisa menyebabkan pembengkakan akibat infeksi. Gejala batu ginjal yang bisa muncul apabila batu bergesekan dengan ureter di antaranya adalah nyeri pada pinggang, perut bagian bawah atau samping, dan selangkangan yang dapat disertai mual.
  • Sedangkan gejala yang bisa dirasakan jika penderita batu ginjal mengalami infeksi ginjal di antaranya urine tampak keruh dan berbau tidak sedap, badan lemas, menggigil, dan demam tinggi.

Penderita batu ginjal di Indonesia

  • Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) pada tahun 2013, diperkirakan prevalensi penderita yang terdiagnosa batu ginjal untuk umur di atas 15 tahun adalah sebesar 0,6 persen dari total penduduk Indonesia. Lima provinsi yang menduduki posisi tertinggi masalah penyakit batu ginjal di antaranya adalah DI Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

  • Dalam mendiagnosis batu ginjal, berdasarkan riwayat keluhan pasien mengenai seputar gejala-gejala yang telah dialami. Dokter juga bisa menanyakan apakah pasien pernah menderita batu ginjal sebelumnya, memiliki riwayat keluarga berpenyakit sama, atau apakah pasien sering mengonsumsi makanan atau suplemen yang bisa memicu terbentuknya batu ginjal.
  • Setelah keterangan dikumpulkan, dokter biasanya akan melakukan sejumlah tes untuk memperkuat bukti. Tes-tes tersebut bisa berupa pemeriksaan urine, pemeriksaan darah, dan pemindaian (misalnya USG, rontgen, CT scan, dan intravenous urogram/IVU)

  • Pengobatan penyakit batu ginjal yang dilakukan tergantung kepada ukuran dari batu. Jika batu ginjal masih tergolong kecil atau menengah, serta masih dapat melewati saluran kemih tanpa harus dilakukan operasi, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk minum air putih saja sesuai takaran yang disarankan. Dengan adanya aliran cairan secara terus-menerus, diharapkan batu ginjal dapat terdorong keluar dengan sendirinya. Apabila gejala yang dirasakan oleh pasien cukup mengganggu, biasanya dokter cukup meresepkan obat pereda rasa sakit, misalnya acetaminophen, ibuprofen atau obat anti radang non steroid.
  • Penanganan batu ginjal yang dengan prosedur khusus (misalnya dengan energi laser, ultrasound, atau operasi) biasanya baru akan diterapkan jika batu berukuran lebih besar sehingga menyumbat saluran kemih pasien.

Pencegahan 

  • Cara mencegah batu ginjal sebenarnya cukup sederhana. Anda hanya perlu minum cukup air putih tiap hari dan membatasi konsumsi makanan, minuman, atau suplemen yang mengandung zat-zat yang berpotensi menyebabkan terbentuknya batu ginjal, seperti zat oksalat, suplemen kalsium, dan protein hewani.
  • Selain dengan minum cukup air dan membatasi asupan zat-zat tertentu, pencegahan batu ginjal juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Biasanya langkah ini dianjurkan untuk mencegah kambuh bagi mereka yang sebelumnya pernah menderita batu ginjal.

Gejala dan Penanganan Batu Empedu

Gejala dan Penanganan Batu Empedu

Empedu adalah cairan dalam kantong empedu yang berperan dalam pencernaan lemak. Jika cairan ini mengeras, maka akan terbentuk batu empedu.

Ukuran batu empedu bermacam-macam. Ada yang sekecil butiran pasir dan ada yang sebesar bola pingpong. Jumlah batu yang terbentuk dalam kantong empedu juga bervariasi, misalnya ada orang yang hanya memiliki satu buah batu dan ada yang lebih banyak.

Penyebab 

  • Batu empedu diduga terbentuk akibat pengerasan kolesterol yang tertimbun dalam cairan empedu. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara kolestrol dan senyawa kimia dalam cairan tersebut.
  • Batu empedu umumnya tidak menyebabkan sakit, jadi tidak membutuhkan penanganan khusus. Tetapi jika batu ini menyumbat saluran kantong empedu, penderita akan mengalami gejala sakit pada bagian kanan perut yang datang secara tiba-tiba atau istilah medisnya kolik bilier

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena batu empedu:

  • Faktor usia. Risiko penyakit batu empedu akan bertambah seiring usia. Penyakit ini umumnya dialami orang yang berusia di atas 40 tahun.
  • Jenis kelamin. Risiko wanita untuk terkena penyakit batu empedu dua kali lebih tinggi dibandingkan risiko pria.
  • Dampak melahirkan. Wanita yang pernah melahirkan memiliki risiko lebih tinggi. Penyebabnya mungkin karena meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan hormon selama masa kehamilan.
  • Pengaruh berat badan. Risiko Anda akan meningkat jika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

  • Keberadaan batu empedu biasanya tidak mengganggu kesehatan. Tetapi jika menyebabkan gejala yang mengganggu atau jika terjadi komplikasi, penyakit ini harus ditangani.
  • Penanganan untuk batu empedu umumnya dengan operasi pengangkatan kantong empedu. Walau fungsi organ ini penting, tubuh kita tetap bisa bertahan tanpa memilikinya. Tanpa kantong empedu, hati akan tetap mengeluarkan cairan empedu yang membantu dalam pencernaan lemak.
  • Jenis operasi yang umum direkomendasikan adalah operasi lubang kunciâ atau istilah medisnya kolesistektomi laparoskopik. Jenis operasi ini dianjurkan karena metodenya yang sederhana dengan tingkat risiko komplikasi yang rendah.

Komplikasi 

  • Walau sangat jarang terjadi, batu empedu dapat menyebabkan komplikasi pada tubuh. Salah satunya adalah inflamasi kantong empedu (kolelitiasis) dengan gejala:
  1. Rasa sakit perut yang konstan.
  2. Demam tinggi.
  3. Sakit kuning.
  4. Pankreatitis akut juga merupakan salah satu risiko yang berbahaya jika batu empedu masuk dan menghambat saluran pankreas. Peradangan pankreas ini akan menyebabkan sakit perut yang akan terus bertambah parah.

Demam Scarlet, Gejala dan Penanganannnya

Demam Scarlet, Gejala dan Penanganannnya

Demam scarlet atau scarlatina adalah demam yang disertai ruam merah pada kulit yang disebabkan infeksi bakteri Streptococcus. Penyakit ini paling sering menimpa anak-anak yang berusia 5-15 tahun.

Demam scarlet biasanya disertai dengan radang tenggorokan dan demam tinggi. Penyakit ini dapat berdampak kepada kondisi ginjal, jantung, dan anggota tubuh lainnya jika tidak segera diobati dengan antibiotik.

Penyebab 

  • Demam scarlet disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus pyogenes, yaitu bakteri penyebab radang tenggorokan. Bakteri ini kerap ditemukan pada kulit dan tenggorokan. Bakteri Streptococcus ini dapat ditularkan melalui percikan air liur ketika seseorang yang terinfeksi bersin atau batuk.
  • Seseorang juga dapat tertular ketika menyentuh kulit penderita yang terinfeksi bakteri atau berbagi handuk, seprai, pakaian, hingga bak mandi dengan penderita. Pengidap yang tidak mengalami gejala, namun memiliki bakteri ini di kulit atau tenggorokannya, dapat menulari bakteri ini juga. 
  • Bakteri akan dapat menyebar dengan mudah pada orang-orang terdekat atau orang yang sering berada dekat dengan penderita, seperti keluarga, rekan kerja sekantor, atau teman sekelas.
  • Seseorang yang telah terinfeksi bakteri dapat merasakan gejala atau sakit dalam kurun waktu 2-4 hari semenjak terpapar bakteri, namun bisa juga dalam periode yang lebih pendek, 1 hari, atau lebih lama, 7 hari.

  • Penderita demam scarlet umumnya memiliki ruam hampir di seluruh tubuhnya. Ruam ini terlihat seperti luka bakar akibat sengatan matahari dan terasa kasar. Ruam juga bisa terasa gatal pada sebagian kasus. Jika area ruam ditekan, maka warna kulit akan menjadi pucat. Ruam dapat menyebar dari area wajah ke leher, tubuh, lengan, hingga kaki. 
  • Demam tinggi, yaitu mencapai 38,3 derajat Celcius atau lebih, sering disertai menggigil.
  • Pusing.
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher.
  • Radang pada tenggorokan disertai adanya bercak putih atau kekuningan di area tersebut.
  • Susah menelan.
  • Mual atau muntah.
  • Warna kulit wajah yang memerah dengan lingkaran kulit yang berwarna lebih pucat di sekeliling mulut.
  • Lidah yang berwarna kemerahan disertai benjolan-benjolan kecil seperti buah stroberi. Di tahap awal penyakit biasanya sering disertai lapisan putih pada permukaan lidah.
  • Terdapat lipatan kulit di sekitar leher, ketiak, siku, pangkal paha, dan lutut yang berwarna lebih merah dibanding kulit sekitar.
  • Ruam kulit muncul akibat racun yang dilepaskan oleh bakteri penyebab demam scarlet dan biasanya muncul selama sekitar satu minggu. Racun yang sama juga menyebabkan lidah menjadi berwarna merah. Setelah gejala-gejala ini mereda, maka kulit yang tadinya terkena ruam akan terkelupas.
  • Demam scarlet juga dapat timbul sebagai infeksi sekunder pada seseorang yang tengah mengidap penyakit lain, seperti cacar air. Segera hubungi dokter untuk mencegah perburukan akibat komplikasi serius. Jika anak Anda mengalami radang tenggorokan yang disertai: demam 38.9 derajat Celcius, pembesaran kelenjar di leher, dan muncul ruam merah, Anda juga disarankan untuk segera menemui dokter.

Diagnosis 

  • Mengingat demam scarlet yang biasa berkembang pada pengidap radang tenggorokan, maka dokter akan mengecek keadaan tenggorokan, lidah, dan amandel pasien untuk gejala penyakit ini sebagai salah satu bentuk pemeriksaan awal. Setelah itu, dokter akan mengecek tekstur dari ruam kulit yang muncul (bila ada), dan apakah terdapat pembesaran atau pembengkakan pada kelenjar getah bening.
  • Dokter dapat mengambil sampel dari amandel dan belakang tenggorokan pasien untuk mengetahui dan memastikan apakah gejala tersebut disebabkan oleh bakteri yang memicu demam scarlet.

  • Langkah pengobatan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan, mengurangi masa rentan pasien untuk menularkan kepada orang lain, dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi.
  • Dokter akan memberikan terapi antibiotik selama 10 hari untuk menangani penyakit ini. Jenis antibiotik yang umumnya diberikan adalah golongan penisilin. Jika penderita alergi penisilin, maka golongan antibotik erithromicin akan diberikan sebagai alternatif.
  • Pastikan pasien menyelesaikan seluruh periode pengobatan hingga tuntas agar infeksi dapat hilang dan sembuh sepenuhnya sehingga pasien terhindar dari komplikasi. Penderita anak-anak dapat kembali ke sekolah dalam kurun waktu 24 jam setelah mendapat antibiotik dan tidak lagi mengalami demam. Secara umum, demam scarlet akan membaik dalam waktu satu minggu tanpa terapi, dan 4-5 hari dengan terapi.
  • Beberapa penanganan sendiri di rumah juga bisa dilakukan agar pasien merasa lebih nyaman sehingga dapat turut mengurangi rasa sakitnya, seperti menyiapkan kecukupan asupan cairan untuk menjaga kelembapan tenggorokan dan membantu mencegah dehidrasi. Upaya meredakan demam dan sakit tenggorokan juga bisa dilakukan dengan pemberian obat-obatan, seperti ibuprofen dan acetaminophen. 
  • Siapkan oabat kumur atau larutan air garam untuk dikumur-kumur. Upaya ini efektif dalam membantu meringankan sakit tenggorokan.
  • Permen pelega tenggorokan juga bisa digunakan untuk meredakan radang tenggorokan.
  • Gunakan alat yang dapat menghilangkan udara kering pemicu radang tenggorokan. Pastikan juga sirkulasi udara di dalam ruangan terjaga
  • Hindari pemicu iritasi lain, seperti asap rokok, dan produk pembersih.
  • Sediakan makanan yang nyaman bagi tenggorokan, seperti sup hangat dan hidangan dingin kecil, seperti es batangan untuk menyejukkan radang tenggorokan.
  • Gunakan losion dengan kandungan calamine atau antihistamin untuk meredakan gatal yang muncul.
  • Hindari mengelap penderita dengan air dingin. Air dingin menyebabkan kontraksi pembuluh darah sehingga mengurangi pelepasan panas akibat demam.

Komplikasi 

  • Jika tidak segera ditangani dengan pemberian antibiotik, bakteri dapat menyerang organ tubuh lainnya seperti: paru-paru, ginjal, telinga bagian tengah, amandel, darah, dan kulit. Pada kasus yang jarang terjadi, komplikasi yang muncul dapat berupa demam rematik, sebuah kondisi serius yang menyerang sistem saraf, kulit, sendi, dan jantung.

Pencegahan 

  • Mencegah demam scarlet dapat dimulai dengan mencegah terjadinya penyebaran bakteri yang menjadi penyebab penyakit ini. Beberapa tindakan pencegahan infeksi yang bisa dilakukan, yaitu:
  • Membiasakan cuci tangan dengan air sabun yang hangat hingga bersih.
  • Jangan menggunakan peralatan makan yang sama atau bergantian dan hindari berbagi makanan agar bakteri tidak menyebar kepada orang yang tidak terinfeksi.
  • Cucilah perangkat makan, dan mainan jika memungkinkan, setelah penggunaan.
  • Bagi yang sedang mengidap demam ini, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin penting untuk dilakukan demi mencegah bakteri menyebar luas ke orang-orang yang sering berada di sekitar
« Older Entries