Author Archives: The Doctor Indonesia

ASI dan Sustainable Development Goals (SDGs)

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, menyusui merupakan salah satu langkah pertama bagi seorang manusia untuk mendapatkan kehidupan yang sehat dan sejahtera. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui hal ini. Di beberapa negara maju dan berkembang termasuk Indonesia, banyak ibu karir yang tidak menyusui secara eksklusif. Di Indonesia hampir 9 dari 10 ibu pernah memberikan ASI, namun  penelitian IDAI (Yohmi dkk, 2015) menemukan hanya 49,8 % yang  memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan sesuai rekomendasi  WHO. Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif ini dapat berdampak pada kualitas hidup generasi penerus bangsa dan juga pada perekonomian nasional. 

ASI dan SDGs
Terdapat banyak visi dan tujuan akhir SDGs yang diharapkan dapat menanggulangi berbagai masalah, termasuk menghapuskan kemiskinan dan kelaparan, memajukan kesehatan dan pendidikan, membangun kota-kota secara berkelanjutan, memerangi perubahan iklim serta melindungi samudera dan hutan. Beberapa tujuan SDGs  yang sangat berkaitan erat dengan ASI adalah:
  • Dengan pemberian ASI Eksklusif dapat menyumbang sekitar 302 Milyar USD  tiap tahunnya pada pemasukan ekonomi dunia. Hal ini tentu saja sesuai dengan tujuan SDGs nomor 1, 8, dan 10 yaitu menghapus kemisikinan, pertumbuhan ekonomi, dan mengurangi ketidakadilan di dalam dan di antara negara- negara.
  • Dengan menyusui pula dapat menekan pengeluaran untuk membeli kebutuhan susu  formula, sehingga lebih hemat dan ramah  lingkungan, sejalan dengan tujuan SDGs nomor 12 yaitu konsumsi yang bertanggung jawab.
  • Menyusui merupakan sumber nutrisi  terbaik dengan komposisi  bioaktif yang dapat  meningkatkan status kesehatan  ibu dan anak, hal ini sejalan dengan tujuan SDGs nomor 2 dan 3 yaitu penanggulangan kelaparan, masalah kesehatan dan kesejahteraan.
  • Pemberian ASI eksklusif dapat membantu persamaan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam pengasuhan anak sesuai dengan tujuan SDGs nomor 5 yaitu kesetaraan gender.
  • Bayi yang mendapatkan ASI dengan standar emas makanan bayi terbukti memiliki IQ  lebih tinggi dan performa lebih  baik sehingga memiliki pekerjaan  dan penghasilan yang layak, sehingga tentu saja berkesinambungan dengan tujuan SDG nomor 4 yaitu menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Iklan

Vaksin HPV dan Virus Human Papilloma Virus

wpid-wp-1446801722790.jpgVaksin human papilloma virus atau lebih singkatnya HPV  adalah vaksin untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus HPV. Virus HPV dapat menginfeksi manusia pada sel epitel di kulit dan membran mukosa (salah satunya adalah daerah kelamin), dan dapat menyebabkan keganasan atau kanker.

Virus ini memiliki banyak tipe, di antaranya tipe HPV 16 dan 18 yang paling sering ditemukan di seluruh dunia dan diketahui sebagai penyebab 70% kasus keganasan di serviks/leher rahim wanita. Tipe HPV 6 dan 11 diketahui sebagai penyebab dari 90% kasus kutil kelamin. Cara penularannya terutama melalui kontak atau hubungan seksual.

Virus HPV dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Pada daerah kelamin, kanker dapat terjadi pada leher rahim, vulva atau bibir vagina, vagina, dan penis, sedangkan pada daerah non-kelamin, kanker juga dapat terjadi pada bagian mulut dan saluran napat atas. Kanker leher rahim adalah kanker tersering yang disebabkan oleh virus HPV. Di dunia, kanker leher rahim menduduki peringkat kedua penyebab kematian terbanyak pada wanita setelah kanker payudara. Hal inilah yang semakin meningkatkan kebutuhan masyarakat akan vaksinasi HPV.

Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalen yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe virus HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim, sedangkan tetravalen mengandung 4 tipe virus HPV (6,11,16,dan 18) yang dapat mencegah sekaligus kanker leher rahim dan juga kutil kelamin atau genital ward.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Vaksin HPV

  • Pemberian vaksin HPV di Indonesia disarankan pada remaja perempuan mulai dari usia 10 tahun ke atas sedangkan di luar negeri vaksinasi HPV juga disarankan untuk remaja laki-laki. Pada remaja, biasanya penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular di deltoid yaitu otot bahu yang terbesar. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian vaksin pada bulan 0, lalu 1 atau 2 bulan setelah penyuntikan pertama tergantung jenis vaksin (bivalen atau tetravalen), dan terkahir 6 bulan setelah penyuntikan pertama. Apabila ada jadwal pemberian vaksin yang terlewat karena sakit atau hal lain maka pemberian vaksin tidak harus diulang dari awal, cukup dengan melengkapi dosis yang tertinggal tersebut.
  • Beberapa kaum masyarakat beranggapan bahwa vaksinasi HPV pada anak-anak tidak perlu diberikan karena pada usia tersebut hubungan seksual belum dilakukan. Namun, sebenarnya vaksin HPV justru harus diberikan sebelum seseorang berhubungan seksual. Akan terlambat jika vaksin HPV baru diberikan saat seseorang sudah melakukan hubungan seksual, karena bisa saja orang tersebut sudah terinfeksi HPV.
  • Selain belum aktif berhubungan seksual, pemberian vaksin HPV saat anak-anak memiliki manfaat lain yaitu pemberian vaksin hanya membutuhkan 2 dosis untuk usia 10-13 tahun, sedangkan untuk usia 16-18 tahun atau remaja akhir pemberian vaksin membutuhkan 3 dosis. Berdasarkan penelitian, pemberian vaksin HPV 2 dosis pada usia 10-13 tahun terbukti  membentuk kadar antibodi yang tidak lebih rendah dibandingkan dengan pemberian 3 dosis pada usia 16-18 tahun. Perlu diketahui harga vaksin HPV masih cukup mahal sehingga pemberian 2 dosis merupakan suatu solusi yang efisien.
  • Melihat manfaat vaksin HPV dalam mencegah keganasan, amatlah berguna untuk melakukan vaksin HPV pada remaja perempuan. Vaksin HPV dapat ditemukan di klinik/RS terdekat, saat ini vaksin HPV belum tersedia di Puskesmas karena belum termasuk program imunisasi nasional. Namun vaksin HPV telah diberikan pada anak sekolah perempuan kelas 5 dan 6 di beberapa kota secara cuma-cuma.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

 

Penanganan Terkini Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK)

Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK), dikenal juga sebagai, antara lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK), adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang kronis. Biasanya, kondisi ini akan bertambah buruk seiring dengan waktu. Gejala utamanya antara lain adalah sesak napas, batuk, dan produksi sputum/lendir. Kebanyakan penderita bronkitis kronis juga menderita PPOK. Merokok tembakau adalah sebab paling utama dari PPOK, dan juga beberapa faktor lainnya seperti polusi udara dan genetik yang turut berperan kecil. Di negara-negara berkembang, salah satu sumber polusi udara biasanya adalah api untuk memasak dan pemanas yang berventilasi buruk. Jika terpapar penyebab iritasi ini dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan reaksi inflamasi di paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan rusaknya jaringan paru yang disebut sebagai emfisema. Diagnonis ini adalah berdasarkan terbatasnya aliran udara saat diukur dengan tes fungsi paru. Berbeda dengan asma, berkurangnya aliran udara tidak membaik secara signifikan ketika dilakukan pengobatan.1465533789612.jpg

PPOK dapat dicegah dengan mengurangi peluang terpapar penyebab-penyebab yang telah diketahui. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi rokok dan memperbaiki kualitas udara di dalam dan luar ruangan. Penanganan PPOK terdiri dari: berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering menghirup bronkodilator dan steroid. Sebagian orang ada yang merasakan perbaikan karena terapi oksigen jangka panjang atau pencangkokan paru. Bagi mereka yang mengalami periode bertambah parah akut, mungkin perlu meningkatkan penggunaan obat-obatan dan perawatan di rumah sakit.

Di dunia, PPOK mempengaruhi 329 juta orang atau hampir 5% dari populasi. Pada 2012, PPOK menjadi penyebab kematian nomor tiga, membunuh lebih dari 3 juta orang. Angka kematian ini diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya jumlah perokok dan populasi manula di banyak negara. Hasilnya adalah kerugian ekonomi sekitar 2,1 triliun dolar pada 2010.

Penanganan1465533789612.jpg

Belum ada obat untuk menyembuhkan COPD yang diketahui, tetapi gejala-gejala bisa diobati dan perkembangannya diperlambat. Tujuan utama dari manajemen adalah untuk menurunkan faktor-faktor risiko, mengelola COPD yang stabil, mencegah dan mengobati eksarsebasi akut, dan menangani penyakit-penyakit terkait. Satu-satunya cara yang terbukti menurunkan mortalitas adalah penghentian merokok dan pemberian suplemen oksigen.[67] Berhenti merokok menurunkan risiko kematian hingga 18%. Rekomendasi lain termasuk: vaksinasi flu setahun sekali, vaksinasi pneumokokal sekali setiap 5 tahun, dan penurunan paparan terhadap polusi udara lingkungan. Bagi mereka yang menderita penyakit tahap lanjut, perawatan paliatif bisa menurunkan gejala-gejala, dengan morfin memperbaiki rasa sesak nafas. Ventilasi noninvasif bisa digunakan untuk mendukung pernafasan.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

  • Latihan Rehabilitasi paru-paru adalah sebuah program latihan, pengelolaan penyakit dan konseling, yang dikoordinasikan agar bermanfaat bagi individu. Bagi mereka yang baru saja mengalami eksaserbasi, rehabilitasi paru-paru tampaknya meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan berlatih secara keseluruhan, dan menurunkan mortalitas. Program ini juga sudah terbukti meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan penyakitnya, serta emosinya. Latihan bernafas itu sendiri tampaknya terbatas peranannya. Kekurangan atau kelebihan berat badan kurang bisa mempengaruhi gejala-gejala penyakit, tingkat kecacatan dan prognosis COPD. Penderita COPD yang kekurangan berat badan bisa meningkatkan kekuatan otot pernafasannya dengan menaikkan asupan kalorinya. Bila digabungkan dengan latihan rutin atau sebuah program rehabilitasi paru-paru, ini bisa memperbaiki gejala-gejala COPD. Nutrisi suplemen bisa berguna bagi mereka yang kekurangan gizi.
  • Bronkodilator Bronkodilator hirup adalah pengobatan utama yang digunakan  dan manfaat keseluruhannya kecil. Ada dua jenis utama, β2 agonis dan antikolinergik; keduanya tersedia dalam bentuk bekerja jangka panjang dan jangka pendek. Bronkodilator menurunkan sesak nafas, suara mengi dan keterbatasan latihan, sehingga menghasilkan peningkatan kualitas hidup. Tidak jelas apakah pengobatan itu mengubah perkembangan penyakit yang mendasarinya. Bagi mereka yang menderita penyakit ringan, obat-obatan kerja pendek direkomendasikan berdasarkan sesuai keperluan. Bagi mereka yang menderita penyakit yang lebih parah, obat-obatan kerja panjang direkomendasikan. Bila bronkodilator kerja panjang tidak memadai, kortikosteroid hirup biasanya ditambahkan. Dalam kaitannya dengan obat-obatan kerja panjang, tidak jelas apakah tiotropium (antikolinergik kerja panjang) atau beta agonis kerja panjang(LABA) lebih baik, dan mungkin sebaiknya masing-masing dicoba dan yang bekerja paling baik diteruskan. Kedua jenis pengobatan tampaknya menurunkan risiko eksaserbasi akut hingga 15-25%. Walaupun penggunaan kedua jenis obat bersamaan bisa menawarkan faedah, faedah ini, bila ada, maknanya diragukan. Ada beberapa β2 agonis kerja pendek yang tersedia termasuk salbutamol (Ventolin) dan terbutalin. Obat-obat itu meringankan gejala-gejala penyakit selama empat hingga enam jam. β2 Agonis kerja panjang seperti salmeterol dan formoterol sering digunakan sebagai terapi pemeliharaan. Beberapa orang merasa bukti faedah terbatas sementara yang lain memandang faedahnya sudah terbukti. Penggunaan jangka panjang tampaknya aman dalam COPD[81] dengan efek-efek samping termasuk gemetar dan palpitasi jantung. Bila digunakan dengan steroid hirup, pengobatan ini meningkatkan risiko pneumonia. Walaupun steroid dan LABA bisa bekerja lebih baik bersama, tidak jelas apakah faedah kecil ini manfaatnya melebihi peningkatan risiko-risikonya.
  • Ada dua antikoligernik utama yang digunakan dalam COPD, ipratropium dan tiotropium. Ipratropium adalah obat kerja pendek sedangkan tiotropium kerja panjang. Tiotropium dikaitkan dengan penurunan eksaserbasi dan peningkatan kualitas hidup, dan tiotropium memberikan manfaat itu lebih baik daripada ipratropium. Ini tampaknya tidak mempengaruhi mortalitas atau tingkat rawat inap keseluruhan. Antikolinergik bisa menyebabkan mulut kering dan gejala-gejala penyakit saluran kencing. Antikoligernik juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Aklidinium, obat kerja panjang lain yang muncul di pasar dalam tahun 2012, digunakan sebagai alternatif untuk tiotropium.
  • Kortikosteroid Kortikosteroid biasanya digunakan dalam bentuk obat hirup tetapi juga bisa digunakan sebagai tablet untuk mengobati dan mencegah eksaserbasi akut. Walaupun kortikosteroid hirup (ICS) tidak menunjukkan manfaat bagi penderita COPD ringan, obat itu menurunkan aksersebasi akut bagi mereka yang menderita COPD sedang atau parah. Bila digunakan dalam kombinasi dengan LABA, pengobatan itu menurunkan mortalitas lebih dari ICS atau LABA yang digunakan sendiri. Bila digunakan sendiri, pengobatan itu tidak berpengaruh pada mortalitas satu tahun keseluruhan dan dikaitkan dengan peningkatan level pneumonia. Tidak jelas apakah pengobatan itu mempengaruhi perkembangan penyakit. Pengobatan kerja panjang dengan tablet steroid dikaitkan dengan efek samping yang penting.
  • Pengobatan lain Antibiotik kerja panjang, terutama yang berasal dari kelas makrolid seperti eritromisin, menurunkan frekuensi eksaserbasi dari mereka yang mengalami serangan COPD dua kali atau lebih dalam setahun. Praktik ini mungkin hemat biaya di beberapa wilayah dunia. Kekuatirannya termasuk adanya resistensi antibiotik dan gangguan pendengaran dengan azitromisin. Metilxantin seperti teofilin biasanya menyebabkan lebih banyak kerugian daripada keuntungan dan oleh karena itu biasanya tidak direkomendasikan, tapi bisa digunakan sebagai pengobatan baris kedua bagi yang tidak bisa dikendalikan dengan pengobatan lain. Mukolitik bisa berguna bagi beberapa penderita yang memiliki lendir kental tapi pada umumnya tidak diperlukan. Obat batuk tidak dianjurkan.
  • Oksigen Oksigen suplemen direkomendasikan bagi mereka yang level oksigennya rendah saat beristirahat(tekanan parsial oksigen kurang dari 50–55 mmHg atau saturasi oksigen kurang dari 88%). Dalam kelompok orang ini, terapi itu menurunkan risiko gagal jantung dan kematian bila digunakan 15 jam per hari dan bisa meningkatkan kemampuan orang untuk berolahraga. Bagi mereka yang level oksigennya normal atau sedikit rendah, suplementasi oksigen bisa memperbaiki sesak nafas. Ada risiko kebakaran dan sedikit manfaat bila mereka yang menjalani terapi oksigen terus merokok. Dalam situasi ini beberapa merekomendasikan agar terapi ini tidak digunakan. Selama eksaserbasi akut, banyak yang memerlukan terapi oksigen; penggunaan oksigen konsentrasi tinggi tanpa mempertimbangkan saturasi oksigen seseorang bisa menyebabkan peningkatan level karbon dioksida dan hasil-hasilnya diperburuk. Bagi mereka yang risikonya tinggi terhadap level karbon dioksida yang tinggi, saturasi oksigen sebesar 88–92% direkomendasikan, sementara bagi mereka yang tidak berisiko, level yang direkomendasikan adalah 94-98%.
  • Bedah Bagi mereka yang penyakitnya amat parah bedah kadang-kadang membantu dan bisa termasuk pencangkokan paru-paru atau bedah penurunan volume paru-paru. Bedah penurunan volume paru-paru melibatkan penghilangan bagian-bagian paru-paru yang paling rusak karena emfisema sehingga membiarkan sisanya, yang masih relatif baik, untuk berekspansi dan bekerja lebih baik. Pencangkokan paru-paru kadang-kadang dilakukan untuk COPD yang amat parah, terutama pada individu yang lebih muda.

Eksaserbasi Eksaserbasi akut biasanya diobati dengan meningkatkan penggunaan bronkodilator kerja pendek. Ini pada umumnya memasukkan kombinasi beta agonis hirup kerja pendek dan antikolinergik. Pengobatan ini bisa diberikan baik melalui inhaler dengan dosis terukur dengan spacer atau melalui nebulizer, keduanya tampaknya sama-sama efektif. Nebulisasi mungkin lebih mudah bagi mereka yang kondisinya lebih tidak sehat.

  • Kortikosteroid oral meningkatkan kesempatan penyembuhan dan menurunkan durasi keseluruhan gejala-gejala penyakit. bagi mereka yang menderita eksaserbasi parah, antibiotic meningkatkan hasil-hasil. Berbagai jenis antibiotik bisa digunakan termasuk: amoksisilin, doksisiklin atau azitromisin; tidak jelas apakah salah satu lebih baik dari yang lain. Tidak ada bukti jelas bagi mereka yang penyakitnya tidak begitu parah.
  • Ventilasi tekanan positif non-invasif bagi mereka yang level CO2-nya meningkat secara akut (gagal pernafasan tipe 2) menurunkan probabilitas kematian dari atau perlunya perawatan intensif untuk ventilasi mekanis.[3] Sebagai tambahan, teofilin mungkin berperan bagi mereka yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan lain. Kurang dari 20% eksaserbasi memerlukan rawat inap di rumah sakit. Bagi mereka yang tidak mengalami asidosis dari gagal pernafasan, perawatan di rumah (“rumah sakit di rumah”) mungkin bisa membantu menghindari rawat inap.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Patofisiologi Terkini Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK)

Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK), dikenal juga sebagai, antara lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK), adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang kronis. Biasanya, kondisi ini akan bertambah buruk seiring dengan waktu. Gejala utamanya antara lain adalah sesak napas, batuk, dan produksi sputum/lendir. Kebanyakan penderita bronkitis kronis juga menderita PPOK. Merokok tembakau adalah sebab paling utama dari PPOK, dan juga beberapa faktor lainnya seperti polusi udara dan genetik yang turut berperan kecil. Di negara-negara berkembang, salah satu sumber polusi udara biasanya adalah api untuk memasak dan pemanas yang berventilasi buruk. Jika terpapar penyebab iritasi ini dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan reaksi inflamasi di paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan rusaknya jaringan paru yang disebut sebagai emfisema. Diagnonis ini adalah berdasarkan terbatasnya aliran udara saat diukur dengan tes fungsi paru. Berbeda dengan asma, berkurangnya aliran udara tidak membaik secara signifikan ketika dilakukan pengobatan.1465533789612.jpg

PPOK dapat dicegah dengan mengurangi peluang terpapar penyebab-penyebab yang telah diketahui. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi rokok dan memperbaiki kualitas udara di dalam dan luar ruangan. Penanganan PPOK terdiri dari: berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering menghirup bronkodilator dan steroid. Sebagian orang ada yang merasakan perbaikan karena terapi oksigen jangka panjang atau pencangkokan paru. Bagi mereka yang mengalami periode bertambah parah akut, mungkin perlu meningkatkan penggunaan obat-obatan dan perawatan di rumah sakit.

Di dunia, PPOK mempengaruhi 329 juta orang atau hampir 5% dari populasi. Pada 2012, PPOK menjadi penyebab kematian nomor tiga, membunuh lebih dari 3 juta orang. Angka kematian ini diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya jumlah perokok dan populasi manula di banyak negara. Hasilnya adalah kerugian ekonomi sekitar 2,1 triliun dolar pada 2010.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Patofisiologi

  • Di sebelah kiri adalah diagram paru-paru dan saluran udara dengan inset yang menunjukkan tampang-lintang yang mendetail dari bronkiole dan alveoliyang normal. Di sebelah kanan adalah paru-paru yang rusak karena PPOK dengan inset yang menunjukkan tampang-lintang dari bronkiole dan alveoli yang rusak. PPOK adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang terjadi saat terdapat aliran udara yang buruk yang tak dapat diperbaiki secara menyeluruh dan kronis serta terjadi ketidakmampuan untuk menghembuskan napas secara penuh (memerangkap udara). Aliran air yang buruk merupakan akibat dari rusaknya jaringan paru (dikenal sebagai emfisema) dan penyakit saluran udara kecil yang dikenal sebagai bronkiolitis obstruktif. Kontribusi relatif dari dua faktor ini bervariasi dari orang ke orang. Kerusakan saluran udara kecil yang parah dapat mengakibatkan terbentuknya kantung-kantung udara yang besar— yang disebut sebagai bula—yang menggantikan jaringan paru. Jenis penyakit ini disebut sebagai emfisema bula.
  • Mikrografis menggambarkan emfisema (kiri – ruang kosong yang luas) dan jaringan paru dengan sisa-sisa alveoli (kanan). PPOK berkembang sebagai reaksi inflamasi kronis akibat menghirup bahan-bahan penyebab iritasi . Infeksi bakteri kronis juga dapat memperparah inflamasi ini. Sel-sel yang meradang termasukgranulosit neutrofil dan makrofas, dua jenis sel darah putih. Mereka yang merokok mengalami keterlibatan Tc1 limfosit dan mereka yang menderita PPOK mengalami keterlibatan eosinofil yang mirip dengan yang ada pada asma. Sebagian dari reaksi sel ini disebabkan oleh mediator peradangan seperti faktor kemotaksis. Proses lainnya yang berperan dalam kerusakan paru adalah tekanan oksidatif yang dihasilkan karena adanya konsentrasi tinggi dari radikal bebas dalam asap tembakau dan dibebaskan oleh sel yang terinflamasi, dan hancurnya jaringan penghubung paru-paru oleh protease yang kurang mengandung penghambat protease. Hancurnya jaringan penghubung di paru-paru akan mengakibatkan emfisema, yang kemudian menyebabkan buruknya aliran udara, dan pada `akhirnya, buruknya penyerapan dan pelepasan gas-gas pernapasan. Penyusutan otot secara umum yang sering terjadi pada PPOK sebagian mungkin dikarenakan mediator inflamasi yang dilepaskan paru-paru ke dalam darah.
  • Penyempitan saluran udara terjadi karena inflamasi dan parut di dalamnya. Hal ini menyebabkan kesulitan saat menghembuskan napas dengan sepenuhnya. Pengurangan aliran udara terbesar terjadi saat menghembuskan napas, karena tekanan di dada menekan saluran udara pada saat itu. Hal ini berakibat udara dari tarikan napas sebelumnya tetap berada di dalam paru-paru sementara tarikan napas berikutnya telah dimulai. Hasilnya adalah peningkatan volume total udara di dalam paru-paru yang dapat terjadi kapan saja, sebuah proses yang disebut sebagai hiperinflasi atau terperangkapnya udara. Hiperinflasi karena olah raga terkait dengan sesak napas di PPOK, karena menghirup napas saat paru-paru terisi setengah penuh terasa kurang nyaman.
  • Beberapa orang juga mengalami sedikit gejala hiperresponsif saluran udara terhadap penyebab iritasi yang sama dengan yang ditemukan pada asma.
  • Tingkat oksigen rendah dan, akhirnya, tingginya tingkat karbon dioksisa di darah dapat terjadi karena pertukaran udara yang buruk akibat berkurangnya ventilasi karena obstruksi saluran udara, hiperinflasi, dan berkurangnya keinginan untuk bernapas. Selama eksaserbasi, inflamasi saluran udara akan meningkat, sehingga hiperinflasi meningkat, aliran udara pernapasan berkurang, dan transfer gas semakin buruk. Hal ini juga akan mengakibatkan tidak cukupnya ventilasi, dan akhirnya, tingkat oksigen dalam darah yang rendah. Tingkat oksigen rendah, jika dialami dalam jangka waktu lama, dapat menyebabkan penyempitan arteri di paru-paru, sementara emfisema mengakibatkan rusaknya kapilari di paru-paru. Kedua perubahan ini berakibat meningkatnya tekanan darah di arteri pulmonari, yang dapat menyebabkan kor pulmonale.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

 

Penyebab Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK)

Penyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK), dikenal juga sebagai, antara lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK), adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang kronis. Biasanya, kondisi ini akan bertambah buruk seiring dengan waktu. Gejala utamanya antara lain adalah sesak napas, batuk, dan produksi sputum/lendir. Kebanyakan penderita bronkitis kronis juga menderita PPOK. Merokok tembakau adalah sebab paling utama dari PPOK, dan juga beberapa faktor lainnya seperti polusi udara dan genetik yang turut berperan kecil. Di negara-negara berkembang, salah satu sumber polusi udara biasanya adalah api untuk memasak dan pemanas yang berventilasi buruk. Jika terpapar penyebab iritasi ini dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan reaksi inflamasi di paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan rusaknya jaringan paru yang disebut sebagai emfisema. Diagnonis ini adalah berdasarkan terbatasnya aliran udara saat diukur dengan tes fungsi paru. Berbeda dengan asma, berkurangnya aliran udara tidak membaik secara signifikan ketika dilakukan pengobatan.1465533789612.jpg

PPOK dapat dicegah dengan mengurangi peluang terpapar penyebab-penyebab yang telah diketahui. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi rokok dan memperbaiki kualitas udara di dalam dan luar ruangan. Penanganan PPOK terdiri dari: berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering menghirup bronkodilator dan steroid. Sebagian orang ada yang merasakan perbaikan karena terapi oksigen jangka panjang atau pencangkokan paru. Bagi mereka yang mengalami periode bertambah parah akut, mungkin perlu meningkatkan penggunaan obat-obatan dan perawatan di rumah sakit.

Di dunia, PPOK mempengaruhi 329 juta orang atau hampir 5% dari populasi. Pada 2012, PPOK menjadi penyebab kematian nomor tiga, membunuh lebih dari 3 juta orang. Angka kematian ini diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya jumlah perokok dan populasi manula di banyak negara. Hasilnya adalah kerugian ekonomi sekitar 2,1 triliun dolar pada 2010.

Penyebab

Penyebab utama PPOK adalah asap tembakau, dengan terpapar karena pekerjaan dan polusi dari api dalam ruang sebagai penyebab signifikan di beberapa negara. Biasanya, paparan terjadi selama beberapa dekade sebelum gejalanya berkembang. Komposisi genetik dalam diri seseorang juga mempengaruhi risiko.

  • Rokok Persentase wanita perokok tembakau pada akhir 1900-an dan awal 2000-an
    Persentase pria perokok tembakau pada akhir 1900-an dan awal 2000-an. Perhatikan bahwa skala yang digunakan untuk wanita berbeda dari pria. Faktor risiko terbesar dari PPOK secara global adalah merokok tembakau. Dari semua perokok, 20% diantaranya akan menderita PPOK, dan setengah dari para perokok seumur hidup akan menderita PPOK. Di Amerika Serikat dan Inggris, 80-95% dari mereka yang menderita PPOK adalah perokok atau pernah menjadi perokok. Kemungkinan terkena PPOK akan meningkat seiring dengan paparan rokok total. Kemudian, wanita lebih rentan terhadap efek buruk dari rokok dibandingkan pria. Bagi para non-perokok, merokok pasif adalah penyebab dari 20% kasus PPOK. Jenis-jenis rokok lainnya, seperti ganja, cerutu, dan merokok dengan pipa, juga memiliki risiko. Wanita yang merokok selama kehamilan akan meningkatkan risiko terkena PPOK bagi anak mereka.
  • Polusi udara Api untuk memasak yang berventilasi buruk, kebanyakan berbahan bakar batu bara atau bahan bakar biomasseperti kayu dan kotoran hewan, menghasilkan polusi udara dalam ruang dan merupakan salah satu penyebab utama dari PPOK di negara-negara berkembang. Api ini merupakan metode memasak dan memanaskan untuk lebih dari 3 juta orang dan wanita menderita dampak kesehatan yang lebih besar karena paparan yang lebih besar.[1][28] Bahan ini digunakan sebagai sumber energi utama di 80% rumah-rumah di India, Cina, dan Afrika sub-Sahara. Mereka yang hidup di kota besar memiliki tingkat PPOK lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang hidup di pedesaan.[30] Meskipun polusi udara di perkotaan merupakan faktor yang berperan dalam eksaserbasi, perannya secara menyeluruh sebagai penyebab PPOK masih belum jelas.ref name=GOLD2013Chp1/> Wilayah dengan kualitas udara luar ruang yang rendah, termasuk dari gas buang, secara umum memiliki tingkat PPOK yang lebih tinggi. Namun efek menyeluruh dalam kaitannya dengan merokok dianggap kecil.
  • Terpapar karena pekerjaan Paparan intensif dan dalam waktu lama terhadap debu, bahan kimia, dan asap di tempat kerja dapat meningkatkan risiko PPOK baik untuk perokok maupun non-perokok. Terpapar karena pekerjaan dianggap sebagai penyebab dari 10-20% kasus PPOK. Di Amerika Serikat, hal ini dianggap terkait dengan lebih dari 30% kasus di antara mereka yang tidak pernah merokok, dan mungkin mewakili risiko lebih besar di negara-negara yang tidak memiliki peraturan yang cukup. Beberapa industri dan sumber telah terimplikasi, termasuk[29] tingkat debu yang tinggi di tambang batu bara, tambang emas, dan industri tekstil katun, pekerjaan yang melibatkankadmium dan isosianat, serta asap dari pengelasan. Untuk profesi tertentu, risikonya diramalkan setara dengan merokok setengah hingga dua bungkus rokok sehari. Terpapar debu silika dapat pula menyebabkan PPOK, dengan risiko yang tak ada hubungannya dengansilikosis. Efek negatif dari terpapar debu dan terpapar asap rokok sepertinya berdampak aditif atau lebih dari aditif.
  • Genetis Genetis juga berperan dalam perkembangan PPOK. PPOK lebih sering terjadi di antara sanak keluarga yang menderita PPOK dan perokok dibandingkan di antara penderita PPOK yang perokok yang tidak memiliki hubungan keluarga . Saat ini, satu-satunya faktor risiko yang dapat diwarisi adalah kekurangan alfa 1-antitripsin (AAT). Risikonya cukup tinggi khususnya jika seseorang mengalami kekuranganalfa 1-antitripsin dan juga merokok. Hal ini menjadi penyebab 1-5% kasus dan kondisi ini terdapat pada sekitar 3-4 dari 10.000 orang. Faktor-fektor genetis lain masih dalam penyelidikan, yang kemungkinan akan banyak ditemukan.
  • Lain-lain. Beberapa faktor lainnya tidak cukup erat terkait dengan PPOK. Risikonya lebih besar di kalangan mereka yang miskin, meskipun tidak jelas apakah hal ini disebabkan karena kemiskinan itu sendiri atau faktor-faktor lain yang terkait dengan kemiskinan, seperti polusi udara dan malagizi. Terdapat bukti tentatif bahwa mereka yang menderita asma dan hiperaktivitas saluran udara memiliki risiko PPOK yang lebih tinggi. Faktor-faktor kelahiran seperti berat lahir rendah juga memainkan peran sebagaimana sejumlah penyakit menular termasuk HIV/AIDS dan tuberkulosis. Infeksi pernapasan seperti pneumonia sepertinya tidak meningkatkan risiko PPOK, paling tidak pada orang dewasa.
  • Eksaserbasi Eksaserbasi akut (gejala yang tiba-tiba memburuk) biasanya dipicu oleh infeksi atau polutan lingkungan, atau terkadang karena faktor-faktor lain seperti penggunaan obat-obatan yang kurang tepat. Infeksi merupakan sebab dari 50-75% kasus, dengan bakteri dalam 25%, virus dalam 25%, dan keduanya dalam 25% kasus.Polutan lingkungan terdiri dari baik kualitas udara dalam ruang atau luar ruang. Terpapar asap rokok sendiri atau asap perokok lain juga meningkatkan risiko.[29] Suhu dingin juga berperan, dengan eksaserbasi yang lebih sering terjadi pada musim dingin. Mereka yang menderita penyakit parah yang telah ada sebelumnya mengalami eksaserbasi lebih sering: yang berpenyakit ringan 1,8 per tahun, menengah 2 hingga 3 per tahun, dan parah 3,4 per tahun. Mereka yang sering mengalami eksaserbasi akan mengalami kerusakan fungsi paru dengan lebih cepat.[43] Emboli pulmonari (penggumpalan darah di paru-paru) akan memperburuk gejala bagi mereka yang telah menderita PPOK.

Penyakit Pulmonari Obstruktif Kronis (PPOK)

wpid-wp-1446109717573.jpgPenyakit pulmonari obstruktif kronis (PPOK), dikenal juga sebagai, antara lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit saluran udara obstruktif kronis (PSUOK), adalah sejenis penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang kronis. Biasanya, kondisi ini akan bertambah buruk seiring dengan waktu. Gejala utamanya antara lain adalah sesak napas, batuk, dan produksi sputum/lendir.Kebanyakan penderita bronkitis kronis juga menderita PPOK. Merokok tembakau adalah sebab paling utama dari PPOK, dan juga beberapa faktor lainnya seperti polusi udara dan genetik yang turut berperan kecil. Di negara-negara berkembang, salah satu sumber polusi udara biasanya adalah api untuk memasak dan pemanas yang berventilasi buruk. Jika terpapar penyebab iritasi ini dalam jangka waktu lama, akan mengakibatkan reaksi inflamasi di paru-paru yang menyebabkan penyempitan saluran udara dan rusaknya jaringan paru yang disebut sebagai emfisema. Diagnonis ini adalah berdasarkan terbatasnya aliran udara saat diukur dengan tes fungsi paru. Berbeda dengan asma, berkurangnya aliran udara tidak membaik secara signifikan ketika dilakukan pengobatan.

PPOK dapat dicegah dengan mengurangi peluang terpapar penyebab-penyebab yang telah diketahui. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi rokok dan memperbaiki kualitas udara di dalam dan luar ruangan. Penanganan PPOK terdiri dari: berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering menghirup bronkodilator dan steroid. Sebagian orang ada yang merasakan perbaikan karena terapi oksigen jangka panjang atau pencangkokan paru. Bagi mereka yang mengalami periode bertambah parah akut, mungkin perlu meningkatkan penggunaan obat-obatan dan perawatan di rumah sakit.

Di dunia, PPOK mempengaruhi 329 juta orang atau hampir 5% dari populasi. Pada 2012, PPOK menjadi penyebab kematian nomor tiga, membunuh lebih dari 3 juta orang.[6] Angka kematian ini diperkirakan akan meningkat karena meningkatnya jumlah perokok dan populasi manula di banyak negara. Hasilnya adalah kerugian ekonomi sekitar 2,1 triliun dolar pada 2010.

Tanda dan gejala

Gejala paling umum dari PPOK adalah produksi sputum, sesak napas dan batuk yang produktif. Gejala-gejala ini muncul dalam jangka waktu yang lama and dan biasanya bertambah parah seiring waktu.[4] Tidak jelas apakah terdapat jenis-jenis PPOK yang berbeda. Meski sebelumnya dibagi menjadi emfisema dan bronkitis kronis, emfisema hanya merupakan gambaran dari perubahan kondisi paru dan bukan penyakit itu sendiri, dan bronkitis kronis hanya merupakan gambaran gejala yang mungkin timbul atau tidak timbul pada penderita PPOK.wpid-wp-1446109717573.jpg

  • Batuk  Batuk kronis biasanya merupakan gejala pertama yang muncul. Saat batuk berlangsung selama lebih dari tiga bulan setahun dalam lebih dari dua tahun, dikombinasikan dengan produksi sputum dan tidak ada penjelasan lain, maka itu bisa didefinisikan sebagai bronkitis kronis. Kondisi ini dapat terjadi sebelum PPOK berkembang penuh. Jumlah sputum yang dihasilkan dapat berubah dalam beberapa jam atau hari. Dalam beberapa kasus, batuk mungkin tidak muncul atau hanya terjadi sesekali dan bisa saja tidak produktif. Beberapa penderita PPOK mengira gejala-gejala ini sebagai “batuk perokok”. Sputum dapat ditelan atau dibuang, biasanya tergantung faktor sosial dan budaya. Batuk-batuk hebat dapat menyebabkan retak tulang iga atau kehilangan kesadaran secara singkat. Mereka yang menderita PPOK sering mengalami “batuk pilek biasa” yang berlangsung lama.
  • Sesak Napas  Sesak napas sering kali merupakan gejala yang dirasakan paling mengganggu. Hal ini sering kali digambarkan sebagai: “Saya membutuhkan usaha untuk bernapas,” atau “Saya tidak dapat menghirup cukup udara”. Istilah berbeda mungkin digunakan di budaya yang berbeda. Umumnya, sesak napas bertambah buruk dalam tekanan, yang berlangsung lama, dan bertambah parah seiring waktu. Pada tahap lanjutan, hal ini berlangsung saat beristirahat dan mungkin berlangsung terus menerus. Hal ini merupakan sumber dari kegelisahan dan kualitas hidup yang rendah yang dialami penderita PPOK. Banyak penderita PPOK lanjutan mengalami bernapas melalui bibir yang tertutup rapat dan tindakan ini dapat meredakan sesak napas bagi sebagian orang.
//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Gejala lainnya

  • Penderita PPOK mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menghembuskan napas daripada untuk menarik napas. Sesak di dada mungkin dapat terjadi namun bukan hal yang umum dan dapat disebabkan masalah lain. Mereka yang saluran udaranya terhalang mungkin mengalami napas mengi atau suara udara masuk yang berkurang saat dada diperiksa dengan menggunakan stetoskop. Dada barel adalah tanda khusus dari PPOK, tapi bukan hal yang umum. Posisi tripoddapat terjadi saat penyakit bertambah parah.
  • PPOK lanjutan akan menjadi tekanan tinggi pada arteri paru, yang menekan ventrikel kanan jantung. Situasi ini disebut sebagai kor pulmonale, dan akan menjadi gejala pembengkakan kaki dan pembengkakan vena leher. PPOK merupakan penyebab lebih umum dari kor pulmonale dibandingkan dengan penyakit paru lainnya. Kor pulmonale semakin jarang terjadi sejak penggunaan suplemen oksigen.
  • PPOK sering terjadi bersamaan dengan beberapa kondisi lain, sebagian karena faktor risiko yang sama. Kondisi ini termasukpenyakit jantung iskhemik, tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, penyusutan otot, osteoporosis, kanker paru, gangguan keresahan dan depresi. Bagi mereka yang menderita penyakit ini secara kronis, perasaan selalu letih adalah hal yang umum. Kuku jari bengkak bukan semata-mata gejala PPOK dan harus segera diselidiki akan kemungkinan kanker paru.
  • Eksaserbasi eksaserbasi akut dari PPOK didefinisikan sebagai sesak napas bertambah parah, produksi sputum semakin banyak, dan perubahan warna sputum dari bening menjadi hijau atau kuning, atau batuk semakin parah yang dialami penderita PPOK. Hal ini dapat disertai dengan tanda-tanda bertambah besarnya usaha untuk bernapas seperti napas cepat, detak jantung cepat, berkeringat, penggunaan otot leher secara aktif, kulit membiru, serta kebingungan atau prilaku agresif pada eksaserbasi parah. Gemerisik juga mungkin terdengar dari paru-paru saat pemeriksaan dengan stetoskop.

Klasifikasi Diabetes Melitus Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Klasifikasi Diabetes Melitus Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus berdasarkan perawatan dan simtoma:

  • Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel beta di dalam pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik. Diabetes melitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.
  • Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai dengan sindrom resistansi insulin
  • Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan gestational diabetes mellitus, GDM.

Menurut tahap klinis tanpa pertimbangan patogenesis, dibuat menjadi:1465533789612.jpg

  • Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
  • Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
  • Not insulin requiring diabetes.
  • Kelas empat pada tahap klinis serupa dengan klasifikasi IDDM (bahasa Inggris: insulin-dependent diabetes mellitus), sedang tahap kelima dan keenam merupakan anggota klasifikasi NIDDM (bahasa Inggris: non insulin-dependent diabetes mellitus). IDDM dan NIDDM merupakan klasifikasi yang tercantum pada International Nomenclature of Diseases pada tahun 1991 dan revisi ke-10 International Classification of Diseases pada tahun 1992.
  • Klasifikasi Malnutrion-related diabetes mellitus, MRDM, tidak lagi digunakan oleh karena, walaupun malagizi dapat memengaruhi ekspresi beberapa tipe diabetes, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa malagizi atau defisiensi protein dapat menyebabkan diabetes. Subtipe MRDM; Protein-deficient pancreatic diabetes mellitus, PDPDM, PDPD, PDDM, masih dianggap sebagai bentuk malagizi yang diinduksi oleh diabetes melitus dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Sedangkan subtipe lain, Fibrocalculous pancreatic diabetes, FCPD, diklasifikasikan sebagai penyakit pankreas eksokrin pada lintasan fibrocalculous pancreatopathy yang menginduksi diabetes melitus.
  • Klasifikasi Impaired Glucose Tolerance, IGT, kini didefinisikan sebagai tahap dari cacat regulasi glukosa, sebagaimana dapat diamati pada seluruh tipe kelainan hiperglisemis. Namun tidak lagi dianggap sebagai diabetes.
  • Klasifikasi Impaired Fasting Glycaemia, IFG, diperkenalkan sebagai simtoma rasio gula darah puasa yang lebih tinggi dari batas atas rentang normalnya, tetapi masih di bawah rasio yang ditetapkan sebagai dasar diagnosis diabetes.

 

 

Diabetes melitus tipe 1

  • Diabetes melitus tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.
  • Sampai saat ini IDDM tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan diet maupun olah raga. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.
  • Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
  • Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga.[14] Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui “inhaled powder”.
  • Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan memengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80–120 mg/dl, 4-6 mmol/l).[butuh rujukan] Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140–150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah, seperti “frequent hypoglycemic events”.[butuh rujukan] Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi.[butuh rujukan] Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis.[butuh rujukan] Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran. Pada orang yang sudah sepuh, biasanya gula darah sewaktunya dijaga di bawah 200 mg/dl saja dan tidak lebih rendah, karena dikhawatirkan dapat terjadinya ‘hipo’ atau gula darah di bawah 100 mg/dl, karena misalnya telat makan, makan lebih sedikit dari biasanya atau terlalu senang dengan aktivitas berlebih dari biasanya.
  • Saat ini mulai banyak dilakukan pemberian insulin kepada penderita diabetes type 2 yang secara terus menerus gula darah sewaktunya selalu di atas 200 mg/dl, walaupun telah diberikan berbagai kombinasi obat oral. Insulin yang diberikan adalah yang bersifat ‘long acting’ atau 24 jam sekali dan tetap minum obat oral dengan dosis yang lebih rendah tiap kali makan besar.

Diabetes melitus tipe 2

  • Diabetes melitus tipe 2 (bahasa Inggris: adult-onset diabetes, obesity-related diabetes, non-insulin-dependent diabetes mellitus, NIDDM) merupakan tipe diabetes melitus yang terjadi bukan disebabkan oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen,[15] termasuk yang mengekspresikan disfungsi sel β, gangguan sekresi hormon insulin, resistansi sel terhadap insulin[16] yang disebabkan oleh disfungsi GLUT10[17] dengan kofaktor hormon resistin yang menyebabkan sel jaringan, terutama pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin[18] serta RBP4 yang menekan penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula darah oleh hati.[18] Mutasi gen tersebut sering terjadi pada kromosom 19 yang merupakan kromosom terpadat yang ditemukan pada manusia.
  • Pada NIDDM ditemukan ekspresi SGLT1 yang tinggi,[20] rasio RBP4 dan hormon resistin yang tinggi, peningkatan laju metabolisme glikogenolisis dan glukoneogenesis pada hati, penurunan laju reaksi oksidasi dan peningkatan laju reaksi esterifikasi pada hati.
  • NIDDM juga dapat disebabkan oleh dislipidemia[22], lipodistrofi,[18] dan sindrom resistansi insulin.
  • Pada tahap awal kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Hiperglisemia dapat diatasi dengan obat anti diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan.[butuh rujukan] Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines itu merusak toleransi glukosa.[butuh rujukan] Obesitas ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis.[butuh rujukan] Faktor lain meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walaupun di dekade yang terakhir telah terus meningkat mulai untuk memengaruhi anak remaja dan anak-anak.[butuh rujukan]
  • Diabetes tipe 2 dapat terjadi tanpa ada gejala sebelum hasil diagnosis. Diabetes tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (olahraga),[23] diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg (10 sampai 15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk. Langkah yang berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan antidiabetic drugs. [Sebagai/Ketika/Sebab] produksi hormon insulin adalah pengobatan pada awalnya tak terhalang, lisan (sering yang digunakan di kombinasi) kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan produksi hormon insulin (e.g., sulfonylureas) dan mengatur pelepasan/release yang tidak sesuai tentang glukosa oleh hati (dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu (e.g., metformin), dan pada hakikatnya menipis pembalasan hormon insulin (e.g., thiazolidinediones). Jika ini gagal, ilmu pengobatan hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau dekat tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek glukosa darah direkomendasikan dalam banyak kasus, paling terutama sekali dan perlu ketika mengambil kebanyakan pengobatan.
  • Sebuah zat penghambat dipeptidyl peptidase 4 yang disebut sitagliptin, baru-baru ini diperkenankan untuk digunakan sebagai pengobatan diabetes melitus tipe 2. Seperti zat penghambat dipeptidyl peptidase 4 yang lain, sitagliptin akan membuka peluang bagi perkembangan sel tumor maupun kanker.
  • Sebuah fenotipe sangat khas ditunjukkan oleh NIDDM pada manusia adalah defisiensi metabolisme oksidatif di dalam mitokondria pada otot lurik. Sebaliknya, hormon tri-iodotironina menginduksi biogenesis di dalam mitokondria dan meningkatkan sintesis ATP sintase pada kompleks V, meningkatkan aktivitas sitokrom c oksidase pada kompleks IV, menurunkan spesi oksigen reaktif, menurunkan stres oksidatif,[30] sedang hormon melatonin akan meningkatkan produksi ATP di dalam mitokondria serta meningkatkan aktivitas respiratory chain, terutama pada kompleks I, III dan IV. Bersama dengan insulin, ketiga hormon ini membentuk siklus yang mengatur fosforilasi oksidatif mitokondria di dalam otot lurik. Di sisi lain, metalotionein yang menghambat aktivitas GSK-3beta akan mengurangi risiko defisiensi otot jantung pada penderita diabetes.
  • Simtoma yang terjadi pada NIDDM dapat berkurang dengan dramatis, diikuti dengan pengurangan berat tubuh, setelah dilakukan bedah bypass usus. Hal ini diketahui sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon inkretin, namun para ahli belum dapat menentukan apakah metode ini dapat memberikan kesembuhan bagi NIDDM dengan perubahan homeostasis glukosa.

Pada terapi tradisional, flavonoid yang mengandung senyawa hesperidin dan naringin, diketahui menyebabkan:

  • peningkatan mRNA glukokinase,
  • peningkatan ekspresi GLUT4 pada hati dan jaringan
  • peningkatan pencerap gamma proliferator peroksisom
  • peningkatan rasio plasma hormon insulin, protein C dan leptin
  • penurunan ekspresi GLUT2 pada hati
  • penurunan rasio plasma asam lemak dan kadar trigliserida pada hati
  • penurunan rasio plasma dan kadar kolesterol dalam hati, antara lain dengan menekan 3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme reductase, asil-KoA, kolesterol asiltransferase
  • penurunan oksidasi asam lemak di dalam hati dan aktivitas karnitina palmitoil, antara lain dengan mengurangi sintesis glukosa-6 fosfatase dehidrogenase dan fosfatidat fosfohidrolase
  • meningkatkan laju lintasan glikolisis dan/atau menurunkan laju lintasan glukoneogenesis
  • sedang naringin sendiri, menurunkan transkripsi mRNA fosfoenolpiruvat karboksikinase dan glukosa-6 fosfatase di dalam hati.
  • Hesperidin merupakan senyawa organik yang banyak ditemukan pada buah jenis jeruk, sedang naringin banyak ditemukan pada buah jenis anggur.
  • Diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah atau diperlambat munculnya dengan mengembangkan Pola Hidup Sehat:
    • Pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah
    • Olahraga 3 kali dalam seminggu, masing-masing setidaknya 20 menit [40]
    • Jaga berat badan ideal
    • Menghindari rokok
    • Mengurangi asupan alkohol

Pria dengan berat badan normal risikonya 70 persen lebih rendah daripada yang obes, sedangkan wanita dengan berat badan normal risikonya 78 persen lebih rendah daripada yang obes. Lakukanlah selalu Tes Gula Darah, karena seseorang yang terdiagnosis mulai Prediabetes, tetapi segera melakukan Perubahan Gaya Hidupnya, maka ia akan terhindar dari Diabetes melitus tipe 2 atau setidaknya memperlambat munculnya Dibetes melitus tipe 2.

 

Diabetes melitus tipe 3

  • Diabetes melitus gestasional (bahasa Inggris: gestational diabetes, insulin-resistant type 1 diabetes, double diabetes, type 2 diabetes which has progressed to require injected insulin, latent autoimmune diabetes of adults, type 1.5″ diabetes, type 3 diabetes, LADA) atau diabetes melitus yang terjadi hanya selama kehamilan dan pulih setelah melahirkan, dengan keterlibatan interleukin-6 dan protein reaktif C pada lintasan patogenesisnya.[41] GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu, dan sekitar 20–50% dari wanita penderita GDM bertahan hidup.[butuh rujukan]
  • Diabetes melitus pada kehamilan terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM bersifat temporer dan dapat meningkat maupun menghilang setelah melahirkan. GDM dapat disembuhkan, namun memerlukan pengawasan medis yang cermat selama masa kehamilan.
  • Meskipun GDM bersifat sementara, bila tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu. Risiko yang dapat dialami oleh bayi meliputi makrosomia (berat bayi yang tinggi/diatas normal), penyakit jantung bawaan dan kelainan sistem saraf pusat, dan cacat otot rangka. Peningkatan hormon insulin janin dapat menghambat produksi surfaktan janin dan mengakibatkan sindrom gangguan pernapasan. Hyperbilirubinemia dapat terjadi akibat kerusakan sel darah merah. Pada kasus yang parah, kematian sebelum kelahiran dapat terjadi, paling umum terjadi sebagai akibat dari perfusi plasenta yang buruk karena kerusakan vaskular. Induksi kehamilan dapat diindikasikan dengan menurunnya fungsi plasenta. Operasi sesar dapat akan dilakukan bila ada tanda bahwa janin dalam bahaya atau peningkatan risiko luka yang berhubungan dengan makrosomia, seperti distosia bahu.
« Older Entries