Gejala dan Penanganan Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik

Gejala dan Penanganan Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik
Penyakit perlemakan hati non alkoholik (NAFLD/non alcoholic fatty liver atau NASH/ Non alcoholic steatohepatitis) merupakan suatu sindrom klinis dan patologis akibat perlemakan hati, ditandai oleh berbagai tingkat perlemakan, peradangan dan fibrosis pada hati. 

Perlemakan hati (fatty liver atau steatosis) merupakan suatu keadaan adanya lemak di hati (sebagian besar terdiri dari trigliserida) melebihi 5% dari seluruh berat hati yang disebabkan kegagalan metabolisme lemak hati dikarenakan defek diantara hepatosit atau proses transport kelebihan lemak, asam lemak, atau karbohidrat karena melebihi kapasitas sel hati untuk sekresi lemak. Kriteria non alkoholik karena melebihi kapasitas sel hati untuk sekresi lemak. Kriteria non alkoholik disepakati bahwa konsumsi alkohol < 20 gram/hari. 

Terjadinya perlemakan hati melalui 4 mekanisme yaitu:

  • Peningkatan lemak dan asam lemak dari makanan yang dibawa ke hati
  • Peningkatan sintesis asam lemak oleh mitokondrial atau menurunnya oksidasi yang meningkatkan produksi trigliserida
  • Kelainan transport triliserida keluar dari hati
  • Peningkatan konsumsi karbohidrat yang selanjutanya dibawa ke hati dan dikonversi menjadi asam lemak
  • Faktor resiko: obesitas, diabetes mellitus, hipertrigliserida, obat-obatan (amiodaron, amoksifen, steroid, estrogen sintetik) dan toksin (pestisida). 
  • Berdasarkan tingkat gambaran histopatologik ada beberapa perjalanan ilmiah penyakit ini yaitu perlemakan hati sederhana, steatohepatitis, steatohepatitis yang disertai fibrosis dan sirosis. 

Hipotesis terjadinya NAFLD Yaitu:

  • First hit
  • Terjadi beberapa penumpukan lemak di hepatosit akibat peningkatan lemak bebas pada dislipdemia, obesitas, diabetes mellitus. Bertambahnya asam lemak bebas di dalam hati akan menimbulkan peningkatan oksidasi dan esterifikasi lemak pada mitokondria sel hati sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kerusakan mitokondria itu sendiri.

Second hit

  • Peningkatan stress oksidatif dapat terjadi karena resistensi insulin, peningkatan endotoksin di hati, peningkatan aktivitas un-coupling protein mitokondrial, peningkatan aktivitas sitokrom P 450, peningkatan cadangan besi, dan menurunnya aktivitas antioksidan. Ketika stres oksidatif yang terjadi melebihi kemampuan perlawanan antioksidan, maka aktifasi sel stelata dan sitokin pro inflamasi akan berlanjut dengan inflamasi progresif, pembengkakan hepatosit dan kematian sel, pembentukan badan Mallory, serta fibrosis.

  • Umumnya pasien tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda penyakit hati, beberapa pasien mengeluhkan rasa lemah, malaise, rasa mengganjal diperut kanan atas. Riwayat konsumsi alkohol, riwayat penyakit hati sebelumnya. 
  • FUNGSI HATI: peningkatan ringan (< 4 kali) AST( Aspartate aminotransferase), ALT (alanine aminotransfrase). AST > ALT pada kasus hepatitis karena alkohol.
  • Alkali fostase, gamma GT (glutamil transferase): dapat meningkat
  • Bilirubin serum, albumin serum, dan prothrombin time: dapat normal, kecuali pada kasus NAFLD terkait sirosis hepatis
  • Gula darah, profil lipid, sero marker hepatitis
  • ANA, Anti ds DNA: titer rendah(<1:320)
  • USG : Gambaran bright liver
  • CT Scan
  • MRI: deteksi infiltrasi lemak
  • Biopsi hati: baku emas diagnosis. Ditemukan 5-10% sel lemak dari keseluruhan hepatosit, peradangan lobules, kerusakan heptatoselular, hialin Mallory dengan atau tanpa fibrosis. Kegunaan biopsy hati : Membedakan steatosis non alkoholik dengan perlemakan tanpa atau disertai inflamasi, menyingkirkan etiologi penyakit hati lain, memperkirakan prognosis, dan menilai progresi fibrosi dari waktu ke waktu. Grading dan staging NAFL

DIAGNOSI BANDING

  • Hepatitis B dan C Kronik, penyakit hati autoimun, hemokromatosis, penyakit Wilsons, defesiensi antitrypsin 

PENATALAKSANAAN

  • Nonfarmakologis
  • Mengontrol faktor resiko: penurunan berat badan, kontrol gula darah, memperbaiki profil lipid, memperbaiki resistensi insulin, mengurangi asupan lemak ke hati, dan olah raga. 
  • Farmakologis
  • Antidiabetik dan insulin sentizier:
  • Metformin 3 x 500 mg selama 4 bulan di dapatkan perbaikan konsentrasi AST dan ALT, Peningkatan sensitivitas insulin, dan penurunan volume hati. Cara kerja: meningkatkan kerja insulin pada sel hati dan menurunkan produksi glukosa hati melalui penghambatan TNF-α
  • Tiazolidindion (pioglitazon): memperbaiki kerja insulin di jaringan adipose
  • Obat anti hiperlipidemia
  • Gemfibrozil: perbaikan ALT dan konsentrasi lipid setelah pemberian 1 bulan
  • Atorvastatin: perbaikan parameter biokimia dan histology
  • Antioksidan
  • Tujuan: mencegah steatotis menjadi steatohepatitis dan fibrosis
  • Vitamin E, vitamin C, betain, N-asetilsisten
  • Vitamin E400,800 IU/ hari dapat menurunkan TGF-β, memperbaiki inflamasi dan fibrosis, perbaikan fungsi hati dengan cara menghambat produksi sitokin oleh leukosit
  • Betain berfungsi sebagai donor metail pada pembentukan lesitin dalam siklus metabolic metionin, dengan dosis 20 mg/hari selama 12 bulan terlihat perbaikan bermaka konsentrasi ALT, steatosis, aktivitas nekorinflamasi, dan fibrosis
  • Ursideoxycholic acid (UDCA adalah asam empedu yang mempunyai efek imunomodultor, pengaturan lipid, efek sitoproteksi. Dosis 13-15 mg/kg berat badan selama satu tahun menunjukkan perbaikan ALT, fosfatase alkali, gamma GT, dan steatosis tanpa perbaikan bermakna derajat inflamasi dan fibrosis.

KOMPLIKASI

  • Sirosis hati, karsinoma hepatoselular. 

PROGNOSIS

  • Pada 257 pasien NAFL yang dipantau selama 3,5 tahun sampai 11 tahun melalui biopsy hati, didapatkan 28% mengalami kerusakan hati progresif, 59% tidak mengalami perubahan, dan 13% membaik. Pasien steatohepatitis non alkoholik memiliki kesintasan yang lebih pendek yaitu 5-10 tahun. Kesintasan 5 tahun hanya 67% dan kesintasan 10 tahun 59%. Banyak faktor yang mempengaruhi mortalitas yaitu obesitas, diabetes mellitus dan komplikasinya, komorbiditas lain yang berkaitan dengan obesitas, serta kondisi hati sendiri
  • Pada beberapa penelitan menunjukkan bahwa NAFL merupakan kondisi yang berlangsung kronik ( beberapa tahun) dan tidak akan berkembang menjadi penyakit hati berat. Fungsi hati tetap stabil dalam beberapa waktu. Pada beberapa pasien, NAFLD dapat berkembang menyebabkan kerusakan hati pada 3% pasien 54 % tetap stabil, dan 43% pasien memburuk. Resiko menjadi sirosis yaitu 8-26%. 

REFERENSI

  • Sherlock S, Dooley J. Non-alcoholic Fatty Liver Disease and Nutrition. In: Dooley J, Lok A Burroughs A Heathcot. Diseases of the Liver and biliary System. 12’h ed. UK: Blackwell Science. P546-567
  • Kaplan M. Nonalcoholic steatohepatitis (NASH). Diunduh dari http:/ /www.uptodate.com/ contents/patient-information-nonalcoholic-steatohepatitis-nash-beyond-the-basics pada tanggal22 Mei 2012
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s