Rabies, Diagnosis dan Penanganannya

Rabies, Diagnosis dan Penanganannya
Rabies adalah infeksi virus akut dari sistem saraf pusat (SSP) yang ditransmisikan dari hewan yang terinfeksi ke man usia dan dapat bermanifestasi sebagai ensefalitis bahkan dapat menyebabkan koma dan kematian. 

ETIOLOGI

Infeksi disebabkan virus rabies yang termasuk dalam genus Lyssa virus dan famili Rhabdoviridae. Virus menular melalui gigitan hewan yang tertular, seperti anjing yang merupakan reservoir pertama dan vektor untuk rabies. 

  • Riwayat tergigit binatang, adanya saliva binatang yang mengenai membran mukosa, bekas garukan, atau luka terbuka. 
  • Diagnosa rabies dicurigai pada kasus ensefalitis akut atau dengan ascending paralysis yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. 

Pemeriksaan Fisik

  • Pada fase prodromal belum ada tanda-tanda yang spesifik. Jika memasuki fase neurologik akut dapat ditemukan kelainan neurologi seperti hidrofobia, paresis, disfagia. 
  • Jika selama pemeriksaan tidak ditemukan perubahan neurologi dan penyakit sudah berlangsung selama 2-3 minggu makan dapat dipikirkan penyebab lainnya 

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium: pemeriksaan darah lengkap. Pada fase awal pemeriksaan mungkin dalam batas normal.
  • Antibodi virus rabies: ditemukannya antibodi neutralizing serum merupakan diagnostik untuk kasus rabies. Antibodi mungkin dideteksi dalam beberapa hari setelah muncul gejala. Beberapa pasien meninggal tanpa antibodi yang terdeteksi.

DIAGNOSA BANDING

  • Fase awal: penyebab lain ensefalitis, seperti infeksi virus herpes simpleks tipe 1 atau virus herpes lainnya, enterovirus, virus yang menular melalui arthropoda.
  • Ensefalitis setelah vaksinasi rabies (contohnya: Semple vaccine).
  • Reaksi obat
  • Vaskulitis
  • Rabies histeria: kelainan karena rasa ketakutan berlebihan terhadap rabies yang bermanifestasi perilaku agresif, kehilangan kemampuan menelan atau berkomunikasi.
  • Guillain-Barre syndrome: fase paralitik.
  • Poliomielitis
  • Delirium tremens

  • Isolasi pasien untuk mencegah transmisi virus ke orang lain.
  • Terapi suportif
  • Tidak ada terapi spesifik untuk rabies.
  • Profilaksis pada individu yang terpapar seperti pembersihan dan irigasi luka secepat mungkin, imunisasi aktif dan pasif efektif dalam 72 jam setelah terpapar.
  • Penatalaksanaan setelah terpapar virus rabies pada individu yang belum divaksinasi:
  • Merupakan kasus emergensi sehingga penatalaksanaan harus dimulai secara dini baik pembersihan luka maupun pemberian vaksinasi tanpa menunggu hasil laboratorium atau mengobservasi binatang jika dicurigai terinfeksi virus rabies.
  • Sebaiknya luka tidak dijahit terlebih dahulu, jika akan menjahit Iuka pastikan sudah memberikan RIG terlebih dahulu pada luka tersebut.
  • Penatalaksanaan setelah terpapar virus rabies pada individu yang sudah divaksinasi:
  • Pembersihan luka, lalu vaksinasi 1 dosis pada hari 0 dan 3. Tidak perlu diberikan RIG.
  • Pencegahan virus rabies pada individu beresiko tinggi.
  • Profilaksis sebelum terpapar dengan HDCV atau RNA (1 ml intramuscular pada hari 0, 7, dan 21 atau 28) pada individu yang beresiko tinggi, seperti pada dokter hewan, pekerja laboratorium,anak dan balita pada daerah endemis, rencana berkunjung ke wilayah endemis.
  • Individu yang beresiko tinggi hendaknya melakukan pemeriksaan rutin setiap tahun dan dapat diberikan vaksinasi booster jika titer < 0.5 IU /ml.
  • Individu yang berhubungan dengan virus rabies hidup dilakukan pemeriksaan setiap 6 bulan dan diberikan vaksinasi booster jika titer < 0.5 IU/ml.

PROGNOSIS

  • Rabies merupakan penyakit yang fatal. Pada umumnya pasien dengan rabies meninggal dalam beberapa hari meskipun sudah mendapat perawatan pada unit internsif. Akan tetapi, hal ini dapat dicegah dengan penanganan yang tepat setelah terkena infeksi dan pemberian profilaksis setelah terpapar. 
  • Vaksinasi akan efektif jika diberikan dalam waktu 2 hari setelah terpapar, seiring bertambahnya hari maka tingkat efektivitasnya akan menurun. Walaupun demikian selama belum ada gejala, vaksinasi akan tetap efektif diberikan dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah terpapar. 
  • Jika gejala sudah muncul, koma dan kematian akan terjadi dalam 3-20 hari setelah awal mulai gejala. Hampir 100% individu yang menunjukkan gejala akan meninggal. Hanya kurang dari 10 kasus yang sembuh dan 2 diantaranya tidak ada riwayat profilaksis sebelum maupun sesudah terpapar 

REFERENSI

  • Jackson Alan C. Rabies and Other Rhabdovirus Infections. In: Harrison’s Internal Medicine 17’h ed.United States of America.Mcgraw Hill.
  • Opal Steven M, Policar Maurice. Rabies. In: Ferri’s Clinical Advisor 2008, 1Oth ed. Mosby. 2008.
  • WHO. Current WHO Guide for Rabies Pre and Post-exposure Treatment in Human. Diunduh dari http:/ /www.who.int/rabies/en/WHO_guide_rabies_pre_post_exp_treat_humans.pdf pada tanggal 2 Mei 2012.

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s