Bradikardi, Diagnosis dan Penanganannya


Bradikardia adalah laju denyut jantung kurang dari 60 kali/menit. Pada orang yang sering berolahraga, laju denyut jantung 50 kali/menit saat terjaga dapat merupakan hal yang normal. Sinus bradikardia yang penting secara klinis umumnya didefinisikan sebagai laju denyut jantung kurang dari 45 kali/menit yang menetap saat terjaga. 

Disfungsi nodus sinus/ sinus node dysfunction (SND), atau lebih dikenal dengan sick sinus syndrome (SSS), dapat juga merupakan manifestasi dari kegagalan akselerasi laju sinus (kurangnya respons kronotropik) dalam situasi seperti olahraga, gagal jantung, demam, obat simpatomimetik, atau parasimpatolitik. Sangat penting untuk menentukan bahwa SND termasuk sinus bradikardia pada seorang individu bukanlah akibat sekunder dari obat kardioaktif seperti beta blockers atau calcium-channel blockers non dihydropyridine. 

  • Gejala bradikardia: pusing, lelah, exertional dyspnea, perburukan gagal jantung, lightheadedness (presinkop), atau pingsan/sinkop
  • Sindrom nervus vagus: episode vasovagal, muntah, bedah abdomen, prosedur invasif saluran cerna atas dan bawah
  • Penyakit komorbid: penyakit jantung koroner, iskemik atau infark miokard, tumor intrakranial, tumor servikal dan mediastinum, peningkatan tekanan intrakranial, hipoksia berat, myxedema, hipotermia, perubahan fibrodegeneratif, fase konvalesens dari infeksi tertentu, depresi mental, sepsis gram negatif
  • Riwayat konsumsi obat digitalis, antiaritmia
  • Riwayat penyakit infeksi (mis. Penyakit Chagas, meningitis)
  • Pasca bedah jantung dengan trauma pada sinus node
  • Riwayat operasi mata, arteriografi koroner

Pemeriksaan Fisik

  • Tekanan darah, nadi: dapat ditemukan bradikardia, takikardia (pada bradycardia- tachycardia syndrome).
  • Stimulasi sinus karotis: masase karotis dilakukan saat pasien supine dan nyaman, dengan kepala menengok ke arah yang berlawanan dengan sisi yang distimulasi. Auskultasi bruit karotis perlahan-lahan sebelum dilakukan masase karena dapat terjadi emboli akibat masase. Palpasi sinus karotis pada bifurkasio arteri dengan 2 jari, pada sudut rahang sampai pulsasi yang bagus teraba. 
  • Dengan tekanan minimal dapat menginduksi reaksi hipersensitivitas pada individu yang terkena. Apabila tidak ada efek inisial, gerakan jari memutar atau sisi-demi-sisi (side-by-side) di atas bifurkasio arteri dilakukan seiama 5 detik. Respons negatif adalah kurangnya efek pada EKG setelah penekanan adekuat selama 5 detik yang menyebabkan rasa tidak nyaman yang ringan (tidak ada penurunan laju denyut nadi ~20%). Karena respons masase dapat berbeda pada kedua sisi, maneuver ini dapat dilakukan pada sisi kontralateral, akan tetapi kedua sisi tidak boleh dirangsang secara bersamaan.
  • Temuan fisik lain sugestif penyakit struktural jantung.
  • Pemeriksaan Penunjang
  • EKG 12 sadapan.
  • Ambulatory monitoring, Holter monitors (lebih lengkap lihat pada bab prosedur Holter Monitoring), event monitors, implantable loop recorders
  • Tilt table testing: untuk menyingkirkan diagnosis sinkop neurokardiogenik
  • Sulphate Atropine test
  • Studi elektrofisiologis
  • Ekokardiografi
  • Exercise testing

Diagnosis Banding

  • Sinus bradikardia fungsional, peningkatan rangsang vagal, kondisi gastrointestinal dan neurologis, sinkop neurokardiogenik, hipersensitivitas sinus karotis (carotid sinus syndrome/ collar syndrome, inflamasi (perikarditis, miokarditis, penyakit jantung reumatik, penyakit Lyme), iatrogenik, pasca operasi, penyakit jantung kongenital, penyakit infeksi. 

  • Apabila tanpa gejala (asimptomatik) –> terapi tidak diperlukan
  • Manajemen SND dan blok AV derajat II dan III :atropine 1 mg IV a tau isoproterenol 1-2 ug/menit infusan, pacu jantung sementara mungkin dibutuhkan
  • Sinus bradikardia: apabila curah jantung tidak cukup atau bila aritmia berkaitan dengan laju denyut jantung pelan, berikan atropine 0,5 mg IV sebagai dosis inisial, dapat diulang bila perlu.
  • Pada episode sinus bradikardia simtomatik yang lebih dari sesaat atau rekuren (mis. saat infark miokard), pacu jantung sementara melalui elektroda transvena lebih disukai daripada terapi obat yang lama atau berulang. Pada sinus bradikardia kronis, pacu jantung permanen mungkin dibutuhkan bila ada gejala
  • Sinus aritmia: terapi biasanya tidak diperlukan. Meningkatkan laju denyut jantung dengan olahraga atau obat-obatan umumnya menghilangkan sinus aritmia. Pada pasien simtomatik, palpitasi dapat reda dengan sedatif/penenang, sedangkan atropin, efedrin, atau isoproterenol untuk terapi sinus bradikardia 2
  • BlokAV: pacu jantung buatan sementara atau permanen. Eksklusi penyebab blok AV reversibel berdasarkan kondisi hemodinamik pasien. Terapi farmakologis adjuvan seperti atropin atau isoproterenol mungkin dibutuhkan bila blok berada di AV node. Pacu jantung transkutaneus sangat efektifpada serangan akut, namun durasi pemakaian sangat tergantung dari kenyamanan pasien dan kegagalan menangkap ventrikel pada penggunaan jangka panjang.
  • Bila pasien memerlukan dukungan pacu jantung lebih dari beberapa menit –> gunakan pacu jantung transvena. Sadapan pacu jantung sementara dapat diletakkan pada sistem vena jugularis atau subklavia dan diteruskan ke ventrikel kanan. Pada kebanyakan kasus blokAV node distal tanpa adanya resolusi –> pacu jantung permanen.

KOMPUKASI

  • Pacemaker syndrome, takikardia terkait pacu jantung. 

PROGNOSIS

  • Beberapa penelitian mengevaluasi morbiditas dan mortalitas pasien dengan SSS yang menggunakan berbagai mode pacu jantung. Bila dibandingkan dengan pacu ventrikel, pacu atrium berkaitan dengan insidens komplikasi tromboemboli, atrial fibrilasi, gagal jantung, mortalitas kardiovaskular, dan morbiditas totallebih rendah. Pasien dengan SSS dengan gejala sinus bradikardia saja, memiliki prognosis yang lebih baik 

REFERENSI

  • Akhtar M. Cardiac Arrythmias with Supraventricular Origin.ln: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23rd Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008.
  • Olgin J. Specific Arrhythmias: Diagnosis and Treatment. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP. Braunwald’s Heart Disease. 9th Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2012.
  • Spragg D. The Bradyarrythmias. In :Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th Edition. New York, McGraw-Hill. 2012.

    Iklan

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s