Pilih Bank ASI atau Donor ASI ?

Bank ASI berbeda dengan donor ASI. manakah yang lebih baik untuk diterapkan dan digunakan ? Bank ASI adalah untuk menghimpun ASI yang diperoleh dari para donor untuk diberikan kepada ibu yang membutuhkan. Upaya ini telah dikembangkan di Amerika Serikat dan beberapa negara maju lainnya saat ini telah mengembangkan Di Indonesia, aktifitas serupa yang ada saat ini hanyalah sebatas donor ASI. Berbeda dengan bank ASI, donor ASI tidak mencampur ASI dari para donor, melainkan dikelompokkan sesuai nama donor.

Pada beberapa keadaan di mana ibu tidak bisa menyusui bayinya, donor ASI merupakan alternatif untuk mendukung pemberian ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi. Banyak ibu yang merasa dimudahkan dengan adanya donor ASI ini. Umumnya ibu-ibu ini ingin anaknya mendapat ASI tapi tidak sempat memerah payudaranya sendiri sehingga lebih memilih memberikan ASI dari donor. Di daerah perkotaan, tren ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.  Di masa mendatang tampaknya permintaan donor ASI makin meningkat karena masyarakat makin menyadari bahwa jika tidak dapat memberi ASI, ada cara lain selain memberikan susu formula

Namun upaya tersebut harus disikapi dengan bijaksana agar memberikan manfaat dan bukan sebaliknya. Sikap hati-hati dalam mencari donor ASI itu, antara lain disebabkan karena di Indonesia belum ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI.

Prosedur dan persyaratan Donor ASI harus diperketat untuk memastikan ASI dari donor benar-benar steril dan layak dikonsumsi bayi. Adapun peoswdur Donor ASI adalah:

  • Proses skrining dengan pemeriksaan lisan berupa pertanyaan tentang riwayat kesehatan pendonor.
  • Pemeriksaan medis untuk mendeteksi adanya virus yang berbahaya. Skrining dilakukan untuk menjamin agar bayi yang mendapat ASI donor tidak terpapar penyakit yang mungkin diderita oleh ibu donor. Terdapat beberapa penyakit yang ditularkan melalui ASI seperti, hepatitis B, hepatitis C, HIV dan Rubella. Pemeriksaan serologi (tes darah) dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi HIV-1 dan HIV-2, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis.
  • Setelah menjalani skrining, barulah pendonor diperkenankan mendonorkan ASI.
  • Setelah didonorkan, ASI masih harus menjalani proses pasteurisasi untuk mematikan bakteri serta virus berbahaya.
  • Penyimpanan juga membutuhkan wadah dan suhu khusus agar ASI tetap awet.
  • Ibu yang diperbolehkan mendonor minimal menghasilkan ASI 2 – 3 liter per hari, jadi tidak semua ibu boleh donor.
  • Skrining terhadap donor juga dilakukan 3 bulan sekali. Setelah 6 bulan, pendonor tidak direkomendasikan lagi karena ASI yang dihasilkan mulai sedikitPeraturan pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif sebenarnya telah menetapkan persyaratan-persyaratan khusus untuk para pendonor dan penerima donor ASI, yaitu;
  • Identitas, agama dan alamat pendonor ASI diketahui jelas oleh ibu kandung atau keluarga bayi penerima ASI.
  • Mendapat persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI.
  • Donor ASI dilakukan sesuai permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.
  • Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis
  • ASI tidak diperjualbelikan
  • Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan dikenai sanksi.

wpid-wp-1446079868980.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s