Pathophysiology Anorexia

Anorexia nervosa is the result of a complex interplay between biological, psychological, and social factors, which tend to affect women more than men, and adolescents more than older women. Some evidence suggests a higher rate of the disorder in monozygotic twins than in dizygotic twins, which may indicate a biologic predisposition.

Psychologically, prepubescent patients who subsequently develop anorexia nervosa have a high incidence of premorbid anxiety disorders. The onset of the disorder during puberty has led to the theory that, by exerting control over food intake and body weight, adolescents are attempting to compensate for a lack of autonomy and selfhood. Individuals with anorexia nervosa maintain a lifelong increased incidence of anxiety, depressive disorders, and obsessive-compulsive disorder. Neurobiologists hypothesize that disruption of serotonergic pathways in the brain mediate the development of anorexia nervosa and may account for the frequent coexistence of other psychological disturbances.

The patient’s altered body image results in a perception of fatness despite being normal or underweight. Attempts to correct this flaw through food restriction or purging lead to progressive starvation. Modern preoccupation with slenderness and beauty in the Western world may contribute to the mindset of slenderness as a valued quality in adolescents; however, this link has not been proven.

Malnutrition subsequent to self-starvation leads to protein deficiency and disruption of multiple organ systems. In addition to hypoglycemia and vitamin deficiencies, starvation results in release of endogenous opioids, hypercortisolemia, and thyroid function suppression. Neuroendocrine disturbances result in delayed puberty, amenorrhea, anovulation, low estrogen states, increased growth hormone, decreased antidiuretic hormone, hypercarotenemia, and hypothermia. Decreased gonadotropin levels and hypogonadism may occur among males who are affected.

Cardiovascular effects include mitral valve prolapse, supraventricular and ventricular dysrhythmias, long QT syndrome, bradycardia, orthostatic hypotension, and shock due to congestive heart failure.

Renal disturbances include decreased glomerular filtration rate (GFR), elevated BUN, edema, acidosis with dehydration, hypokalemia, hypochloremic alkalosis with vomiting, and hyperaldosteronism.

Gastrointestinal findings include constipation, delayed gastric emptying, and gastric dilation and rupture when binge eating. Patients who induce vomiting develop dental enamel erosion, palatal trauma, enlarged parotids, esophagitis, Mallory-Weiss lesions, and elevated transaminase levels.

Anorexia nervosa is a disease that affects all organ systems. The principal systems affected are the cardiovascular and the endocrine systems. However, complications from other systems, including the GI, renal, reproductive, neurologic, orofacial, dermatologic and hematologic, are noted as well

Selera makan pada anak tergantung dari berbagai hal. Di antaranya adalah ketertarikan makanan melaluib warna dan bentuk makanan. Oleh karena itu, orang tua mesti kreatif. Salah satu cara membangkitkan selera anak adalah dengan membuat makanan terlihat menarik dan unik.

Menurut penelitian di Eropa, anak-anak lebih cenderung memakan buah yang dihidangkan dengan bentuk-bentuk yang menarik meski mereka tahu rasanya tidak berubah.

Para peneliti menawarkan apel, stroberi, dan anggur yang dipotong kecil-kecil kemudian dihidangkan layaknya satai atau menyerupai landak kecil kepada partisipan studi yang berusia 4-7 tahun. Anak-anak itu juga ditawari buah-buahan yang hanya dihidangkan di atas piring. Ternyata, anak-anak memakan hampir dua kali lebih banyak buah-buahan yang dihidangkan dalam bentuk-bentuk yang unik ketimbang yang hanya disajikan apa adanya di atas piring.

“Bagaimana makanan disajikan memang berpengaruh, terutama untuk anak-anak yang mulai terbiasa dengan beragam jenis makanan,” kata Dr Laura Wyness dari Yayasan Gizi Inggris.

Bagi orang tua yang sibuk, Wyness menyarankan buah-buahan cukup dihidangkan dalam bentuk-bentuk sederhana seperti segitiga atau segi empat.

Sumber : HealthDay News

TETAPI, TERNYATA APAPUN TIP TERHEBAT ITU TIDAK AKAN BANYAK BERARTI BILA PENYEBAB SULIT MAKAN PADA ANAK TIDAK DIKENALI

PENYEBAB PALING SERING: gangguan fungsi saluran cerna

Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.

Secara umum penyebab kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.

Data yang ada di Picky Eaters Clinic Jakarta, sebagian besar penderita atau sekitar 90 persen penderita sulit makan sering disertai gangguan alergi dan hipersensitiftas saluran cerna. Gangguan saluran cerna ank dengan kesulitan makan seringkali dapat diamati dari penampilan karakteristik fesesnya tanpa harus dilakukan pemeriksaan feses.

Ternyata saat dilakukan intervensi penanganan gangguan fungsi saluran cerna terdapat perubahan pola feses yang tidak normal menjadi normal yang diikuti membaiknya nafsu makan anak. Sebaliknya setiap anak mengalami sulit makan selalu disertai gangguan fungsi saluran cerna yang disertai perubahan karakter feses menjadi tidak normal.

Kenali tanda dan gejala gangguan fungsi saluran cerna pada anak dengan kesulitan makan

BERBAGAI GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA PADA ANAK DAN DEWASA DENGAN KESULITAN MAKAN
PADA DEWASA : BAB tidak tiap hari, sering sulit bila BAB, BAB lebih dari 2 kali, mudah nyeri perut, Feses : bau tajam, bulat (seperti kotoran kambing) warna hitam, atau gelap, berlendir (bila menempel dikloset tidak langsung hilang bila diguyur air), daerah anus sering gatal atau keluar cairan kuning berbau, berak darah segar, mulut berbau, bihir kering, lidah kotor berwarna putih, mudah mual atau muntah, sering buang angin, sering burp (gelekan, cegukan), air liur berlebihan. Berbagai keluhan yang ada sering disebut : gejala maag, dispepsia, GER, panas dalam, masuk angin.
PADA ANAK : MUAL terutama pagi hari, bila menangis atau batuk mudah muntah, BAB tidak tiap hari, sering sulit atau ngeden bila BAB, BAB lebih dari 2 kali, mudah NYERI PERUT (Seperti mau BAB tapi tidak jadi), tidur nungging, Feses : bau tajam, bulat (seperti kotoran kambing) warna hitam, hijau atau gelap, berlendir, pernah berdarah (sering danggap disentri atau amuba), mulut berbau, bihir kering, lidah kotor dan berpulau, mudah mual atau muntah, sering buang angin dan berbau tajam
PADA BAYI : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, SERING REWEL ATAU GELISAH MALAM HARI (kolik) sering dianggap haus minta minum, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis, tali pusat lama keringnya dan lepasnya lama. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
KARAKTERISTIK FESES YANG TIDAK NORMAL ADALAH PETUNJUK ADANYA GANGGUAN FUNGSIONAL SALURAN CERNA. BILA ITU TERJADI MAKA BIASANYA SERING DISERTAI GANGGUAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK PENYEBAB PALING SERING GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA TERSEBUT DALAM JANGKA PENDEK ADALAH INFEKSI PADA TUBUH ANAK (SEPERTI ISPA, RADANG TENGGOROKAN, DIARE ATAU INFEKSI VIRUS LAINNYA). PENYEBAB PALING SERING ADALAH REAKSI DARI PENGARUH ALERGI MAKANAN ATAU HIPERSENSITIFITAS MAKANAN

Karakteristik Feses Anak Dengan Kesulitan Makan yang disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna

  • Model tinja 1 Tinja ini mempunyai ciri berbentuk bulat-bulat kecil seperti kacang, sangat keras, dan sangat sulit untuk dikeluarkan. Biasanya ini adalah bentuk tinja penderita konstipasi kronis.
  • Model tinja 2 Tinja ini mempunyai ciri berbentuk sosis,permukaanya menonjol-nonjol dan tidak rata, dan terlihat seperti akan terbelah menjadi berkeping-keping. Biasanya tinja jenis ini dapat menyumbat WC, dapat menyebabkan ambeien, dan merupakan tinja penderita konstipasi yang mendekati kronis.
  • Model tinja 3 Tinja ini mempunyai ciri berbentuk sosis, dengan permukaan yang kurang rata, dan ada sedikit retakan. Tinja seperti ini adalah tinja penderita konstipasi ringan.
  • Model tinja 4 Tinja ini mempunyai ciri berbentuk seperti sosis atau ular. Tinja ini adalah bentuk tinja penderita gejala awal konstipasi.
  • Model tinja 5 Tinja ini mempunyai ciri berbentuk seperti bulatan-bulatan yang lembut, permukaan yang halus, dan cukup mudah untuk dikeluarkan. Ini adalah bentuk tinja seseorang yang ususnya sehat.
  • Model tinja 6 Tinja ini mempunyai ciri permukaannya sangat halus, mudah mencair, dan biasanya sangat mudah untuk dikeluarkan. Biasanya ini adalah bentuk tinja penderita diare.
  • Model tinja 7 Tinja mempunyai ciri berbentuk sangat cair (sudah menyerupai air) dan tidak terlihat ada bagiannya yang padat. Ini merupakan tinja penderita diare kronis.

Interpretasi Karakteristik Feses Anak dengan Kesulitan makan biasanya disertai konstipasi atau sebaliknya diare

  • Tipe 1 sampai model 4 merupakan bentuk tinja penderita konstipasi. Gangguan Fungsi Saluran Cerna
  • Tipe 5 adalah tinja NORMAL
  • Tipe 6 dan Tipe 7 merupakan bentuk tinja penderita diare. Gangguan Fungsi Saluran Cerna
  • Model 1 dan model 7 adalah tinja seseorang yang menderita gangguan pada saluran cerna bisa gangguan fungsional , infeksi atau gangguan organik.
  • Kecuali tipe 5, Tipe 1-7 biasanya sering dialami oleh penderita kesulitan makan yang sering disebabkan karena Gangguan Fungsi Saluran Cerna

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s